Terjawab

Apakah perbuatan "tidak sengaja" yang dilakukan di dunia kerja dapat dihukum berat?

September 14, 2020

Answer

Rieke Caroline, SH, MKn.
Pendiri & CEO KontrakHukum.com. Pakar Hukum & Bisnis. Pembawa Berita dan Public Figure.
0 Comments

Di dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, dapat dikatakan hukuman paling berat bagi seorang karyawan adalah Pemutusan Hubungan Kerja. Namun sebelum sampai ke tahap tersebut, dalam hal terdapat karyawan melakukan pelanggaran ketentuan yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama, pengusaha baru dapat melakukan pemutusan hubungan kerja, setelah kepada karyawan yang bersangkutan diberikan surat peringatan pertama, kedua dan ketiga secara berturut-turut.

Dengan memberikan Surat Peringatan inilah diharapkan karyawan yang melakukan perbuatan tidak disengaja tersebut, bisa diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan tidak mengulanginya sebelum mendapatkan hukuman berat.

Namun apabila sejak surat peringatan pertama, karyawan masih melakukan kesalahan baik di sengaja maupun tidak disengaja, perusahaan dapat memberikan surat peringatan kedua. Lalu apabila perbuatan tersebut masih terulang dan dianggap merugikan perusahaan, maka hukuman berat bagi karyawan yaitu pemutusan hubungan kerja dapat dilakukan.

Selain itu di dalam Pasal 158 UU Ketenagakerjaan juga mengatur perbuatan-perbuatan apa saja yang termasuk kesalahan berat. Kesalahan berat inilah yang bisa menjadi pertimbangan bagi perusahaan untuk melakukan PHK tanpa disertai SP 1 – SP3 terlebih dahulu.

Menurut Pasal ini, Pengusaha dapat memutuskan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh dengan alasan pekerja/buruh telah melakukan kesalahan berat sebagai berikut :

  1. melakukan penipuan, pencurian dan penggelapan baranag dan/atau uang milikperusahaan;
  2. memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan sehingga merugikanperusahaan;
  3. mabuk, meminum minuman keras yang memabukkan, memakai dan/ataumengedarkan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya dilingkungankerja;
  4. melakukan perbuatan asusila atau perjudian dilingkungan kerja;
  5. menyerang, menganiaya, mengancam, atau mengintimidasi teman sekerja atau
    pengusaha di lingkungan kerja;
  6. membujuk teman sekerja atau pengusaha untuk mekukan perbuatan yang
    bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;
  7. dengan ceroboh atau sengaja merusak atau membiarkan dalam keadaan
    bahaya barang milik perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi
    perusahaan;
  8. dengan ceroboh atau sengaja membiarkan teman sekerja atau pengusaha
    dalam keadaan bahaya di tempat kerja;
  9. membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan yang seharusnya
    dirahasiakan kecuali untuk kepentingan negara; atau
  10. melakukan perbuatan lainnya di lingkungan perusahaan yang diancam pidana
    penjara 5 (lima) tahun atau lebih

 

Namun UU Ketenagakerjaan mengatur bahwa baik Perusahaan maupun Karyawan dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja. Sehingga hal ini diupayakan merupakan cara terakhir yang bisa dilakukan perusahaan dalam menghukum karyawannya.

Cara yang dapat dilakukan dalam hal karyawan melanggar ketentuan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama, karena kesengajaan atau kelalaiannya, maka dapat dikenakan denda apabila diatur secara tegas dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja Bersama.

 

Denda atau ganti rugi yang dimaksud, dapat berupa pemotongan upah karyawan.