Terjawab

Bagaimana pembagian hukum warisan menurut KUH Perdata?

Oktober 2, 2020

Jawaban

Rieke Caroline, SH, MKn.
Pendiri & CEO KontrakHukum.com. Pakar Hukum & Bisnis. Pembawa Berita dan Public Figure.
0 Komentar

Menurut KUHPerdata, harta waris baru terbuka apabila terjadinya suatu kematian (Pasal 830 KUHPerdata). Pewarisan mengharuskan adanya hubungan darah di antara pewaris dan ahli waris, kecuali untuk suami atau istri dari pewaris, dengan ketentuan mereka masih terikat dalam perkawinan ketika pewaris meninggal dunia (Pasal 832 KUHPerdata).

Mereka yang berhak mewaris ini di dalam KUHPerdata ditentukan dalam 4 golongan, yaitu: Golongan I (kesatu), yaitu suami atau istri dan atau anak keturunan pewaris yang berhak menerima warisan. (Pasal 852 KUHPerdata). Golongan II (kedua), yaitu orang tua dan saudara kandung pewaris. Golongan III (ketiga), yaitu keluarga dalam garis lurus ke atas sesudah bapak dan ibu pewaris. Golongan IV (keempat), yaitu anggota keluarga yang berada pada garis ke samping dan keluarga lainnya hingga derajat keenam.

Cara golongan I-IV mewarisi ini disebut dengan ab intestato. Kemudian, terdapat cara lain dalam mewaris yaitu secara testamentair yang artinya adanya pihak yang ditunjuk secara khusus sebagai ahli waris sesuai dengan isi wasiat milik pewaris.