Terjawab

Dana darurat lebih baik disimpan dalam tabungan atau investasi?

Oleh : Mirah Tirta
Oktober 12, 2020

Jawaban

Fioney Sofyan Ponda, S.Ked., RFA®
Wealth Asset Manager, Pembicara, Narasumber, Penulis
0 Komentar

Dana darurat adalah dana yang kita persiapkan untuk kondisi darurat. Kehilangan salah satu sumber penghasilan karena phk, sakit, kecelakaan sehingga mengakibatkan terputusnya penghasilan, keluarga yang sakit adalah sedikit dari beberapa kondisi yang membutuhkan dana darurat.

Jadi untuk itu kita harus bisa menaruh dan membagi dana darurat ke instrumen keuangan yang bersifat liquid atau mudah dicairkan.

Adalah kurang bijaksana apabila menyimpan dana darurat dalam bentuk tabungan. Apalagi kalau jumlah kebutuhan akan dana darurat sangat besar.

Contoh: seseorang memiliki gaji Rp. 8 juta per bulan. Belum menikah, namun memiliki tanggungan adiknya untuk membantunya sekolah. Sebagai lajang kebutuhan dana daruratnya adalah sebesar 3 bulan gaji atau 3 bulan pengeluaran. Namun karena ia memiliki tanggungan yaitu adiknya yang masih bersekolah, maka kebutuhan dana daruratnya menjadi 6 bukan gaji atau 6 bulan pengeluaran. Kalau ia memiliki pendapatan sebesar Rp. 8 juta maka kebutuhan dana daruratnya maksimal adalah sebesar Rp. 48 juta.

Asumsi keadaan negara baik-baik saja dan ekonomi juga berjalan seperti biasa, tidak ada pandemi, maka menyimpan uang dalam bentuk tabungan di bank sebesar Rp. 48 juta menjadi terlalu besar.

Biasanya saya akan merekomendasikan klien untuk membagi jumlah dana darurat ke dalam 3 bagian, dan menyimpannya ke dalam bentuk tabungan, logam mulia dan reksadana pendapatan tetap.

Jangan pernah menyimpan dana darurat ke dalam bentuk instrumen investasi yang tidak liquid atau tidak mudah dijual seperti saham atau aset property. Saham memiliki resiko rugi apabila kita menjualnya dengan harga yg lebih rendah daripada harga beli, karena saham hanya diperuntukkan untuk investasi jangka panjang, bukan sebagai alternatif menyimpan dana darurat terutama karena sifatnya yang fluktuatif.

Logam mulia sendiri termasuk instrumen investasi yang liquid karena diterima di mana saja, bahkan beberapa gerai pembeian online logam mulia memberikan garansi pembelian kembali apabila kita membutuhkan dana cash cepat.

Pemahaman liquid bagi suatu instrumen investasi adalah mudah dicairkan, atau bisa diubah dalam bentuh cash dalam waktu kurang dari 3 hari. Proses pencairan reksadana sendiri biasanya memakan waktu 2 hari, sehingga reksadana bisa dimasukkan ke dalam kategori liquid.

Namun ada baiknya hati hati juga dalam memilih instrumen investasi, karena belum tentu suatu instrumen investasi memiliki kinerja baik, atau ternyata suatu instrumen investasi itu tidak sesuai dengan profile resiko yang Anda miliki.