Mana yang lebih menguntungkan investasi dalam obligasi atau investasi dalam saham?

Oktober 26, 2020

Jawaban

Vigi Caraka
Profesional di pasar modal yang berkarir di sekuritas dan regulator.
0 Komentar

Investasi obligasi ataupun investasi saham pada dasarnya sama-sama menguntungkan. Namun, keuntungan investasi obligasi dan keuntungan investasi saham berbeda dari beberapa sisi.

Sebelum langsung menjawab lebih untung investasi obligasi atau saham, ada baiknya kita pahami dulu definisi kedua instrumen pasar modal tersebut.

Ada Lima Instrumen Pasar Modal, termasuk Obligasi dan Saham

Baik obligasi maupun saham, keduanya merupakan instrumen pasar modal yang notabene instrumen investasi. Instrumen pasar modal itu terdiri dari lima instrumen, yaitu:

  • Saham
  • Obligasi
  • Reksadana
  • Exchange Traded Fund (ETF)
  • Derivatif

Untuk memahami seluk-beluk pasar modal, kamu bisa membacanya di artikel Pengertian Pasar Modal, Fungsinya, dan Instrumennya.

Kemudian pertanyaannya adalah apa itu obligasi? Apa itu saham?

Pengertian Obligasi dan Saham

Obligasi adalah surat utang jangka menengah dan panjang yang diterbitkan negara atau perusahaan dan dapat dipindahtangankan. Sementara saham adalah tanda penyertaan modal dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.

Keuntungan Obligasi dan Saham

Kedua instrumen pasar modal ini berbeda dalam pemberian keuntungan atau profit bagi investornya.

  • Obligasi konvensional memberi profit dalam bentuk kupon/bunga dan capital gain. Sementara obligasi syariah atau sukuk memberi keuntungan dalam bentuk imbal hasil/nisbah dan juga capital gain.
  • Saham, baik saham biasa maupun saham syariah, memberi keuntungan dalam bentuk selisih harga positif (capital gain) dan dividen.

Dalam obligasi, kupon/bunga adalah tingkat imbal hasil yang diterima si pemegang surat utang hingga masa jatuh tempo.

Pada saham, keuntungan dalam bentuk capital gain adalah selisih antara harga beli dan harga jual yang mana harga jual lebih tinggi nilainya dibandingkan harga beli. Sementara dividen adalah keuntungan yang dibagikan perusahaan atau emiten kepada pemegang saham.

Obligasi tidak mengenal pembagian keuntungan dalam bentuk dividen. Sementara saham tidak ada pembagian keuntungan dalam bentuk kupon atau bunga atau bagi hasil.

Risiko Investasi Obligasi dan Investasi Saham

Semua instrumen investasi, baik instrumen pasar modal maupun pasar uang, pada dasarnya memberikan keuntungan.

Namun, di balik keuntungan tersebut, ada risiko-risiko yang bisa saja terjadi, termasuk risiko berinvestasi obligasi dan investasi saham.

Berikut ini risiko-risiko investasi obligasi dan investasi saham. Kalau penasaran dengan instrumen pasar uang, kamu bisa baca informasi lengkapnya di artikel Pengertian Pasar Uang dan Jenis Instrumennya [Plus Contoh].

Risiko investasi obligasi

Penjelasan

Risiko likuiditas

Risiko akibat kurang likuid atau sulitnya menjual kembali di pasar sekunder karena kecilnya minat investor.

Risiko maturitas

Risiko akibat masa jatuh tempo obligasi yang lama sehingga risikonya besar karena ketidakpastian.

Risiko default

Risiko akibat gagal bayar. Biasanya terjadi pada obligasi korporasi.

 

Risiko investasi saham

Penjelasan

Capital loss

Selisih antara harga jual dan harga beli yang mana harga beli lebih tinggi dibanding harga jual. Capital gain adalah kebalikan capital loss.

Risiko likuidasi

Risiko akibat perusahaan yang sahamnya dimiliki investor dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan atau perusahaan tersebut dibubarkan.

Lebih Untung Investasi Obligasi atau Investasi Saham?

Jika yang diperhatikan hanya dari sisi return-nya, investasi saham adalah pilihan investasi yang lebih menguntungkan.

Return rata-rata per tahun IHSG selama 10 tahun ada di sekitar 11%. Sementara yield obligasi Pemerintah 10 tahun ada di sekitar 6,8%.

Namun, investasi tidak melulu tentang return, perlu dipertimbangkan faktor lainnya. Investasi yang lebih “menguntungkan” untukmu belum tentu sama “menguntungkan” untuk orang lain.

Sebab tiap-tiap investor memiliki profil investasi yang berbeda. Untuk mengetahui cocok tidaknya suatu aset dengan profil investasi, ada baiknya kita melihat pro dan kontranya.

 

Kelebihan obligasi

Kekurangan obligasi

Secara umum lebih aman dibanding saham

Membutuhkan modal awal yang lebih besar (khususnya untuk corporate bond dan government bond non-retail)

Tingkat pengembalian yang jelas karena tergantung kuponnya

Kurang likuid jika dibanding dengan saham

Ada rating dari lembaga yang kredibel

Ada risiko langsung ke suku bunga

 

Kelebihan saham

Kekurangan saham
Secara historis return lebih besar dibanding obligasi

Secara umum risiko investasi lebih besar dibanding obligasi

Biaya mulai lebih murah

Return tidak dijamin

Perdagangan lebih likuid

Jika perusahaan bangkrut, pemegang saham dibayar paling akhir

Untuk mengurangi risiko-risiko investasi, kamu bisa melakukan manajemen risiko dengan diversifikasi
aset dalam portofolio. Selamat berinvestasi.

Dapatkan solusi dari para ahli keuangan

Ade Wikasyah
Praktisi Keuangan Syariah
Aulia Akbar, CFP®
Perencana Keuangan, Praktisi Hubungan Masyarakat
Benny Fajarai CIP® CFP®
Cofounder Lifepal.co.id - Certified Insurance Professionals & Certified Financial Planner
Eko Endarto, CFP, RFA
Independen Financial Planner, Founder Finansia Consulting dan Sahabat Pensiun.
Erlina Juwita, MM, CFP®, QWP®
Founder @CerdasKeuangan dan Senior Consultant @Oneshildt.
Fioney Sofyan Ponda, S.Ked., RFA®
Wealth Asset Manager, Pembicara, Narasumber, Penulis
Galuh Alifani
Konsultan bisnis, penulis, pengamat keuangan, dan pegiat seni. Penerima penghargaan best paper award untuk publikasi keuangan, dari institusi akademik internasional, IISES.
Irvan Rahardjo, SE., MM
Penulis, arbiter, editor buku, kolumnis, saksi ahli berbagai instansi, narasumber seminar dan media cetak, online dan elektronik.
Lolita Setyawati, CA, MSIT, CFP®️
Certified Financial Planner
Maryadi Santana, CFP® QWP®
Priority Banking Relationship Manager, Manulife Asset Management Indonesia as Relationship Manager, Panin Asset Management as Team Leader Retail Marketing and Start doing as Financial Planner, ZACD Group as Relationship Manager.
Nadia Isnuari Harsya, CFP®
Independent Financial Planner
Rieke Caroline, SH, MKn.
Pendiri & CEO KontrakHukum.com. Pakar Hukum & Bisnis. Pembawa Berita dan Public Figure.
Rivan Kurniawan
Pakar Investasi & Value Investor dengan 10 Tahun+ Pengalaman
Roswitha Jassin, SE, MBA, CFP
Financial Educator, Lifestyle Blogger, Founder, Entrepreneur, Pembicara dan Pemateri.
Vigi Caraka
Profesional di pasar modal yang berkarir di sekuritas dan regulator.