Terjawab

Mengapa zakat diperintahkan dalam perekonomian syariah?

Oleh : Kamala Calya
November 17, 2020
Saya baru benar-benar mendalami agama Islam. Dalam perilaku kegiatan ekonomi yang sesuai dengan tatanan syariat Islam, ada istilahnya zakat. Kalau untuk non-Muslim namanya Jizyah. Mengapa zakat diperintahkan dalam perekonomian syariah dan bagaimana cara saya membayarnya?

Jawaban

Ade Wikasyah
Praktisi Keuangan Syariah
0 Komentar

Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji, dan puasa di bulan Ramadhan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Zakat merupakan salah satu rukun Islam dimana setiap orang Islam wajib untuk mentaatinya. Zakat di berlakukan kepada mereka yang telah memenuhi beberapa syarat yaitu yang disebut sebagai “haul” atau periode waktunya dan “nishab” yang merupakan batasan kekayaan atau harta yang menjadi batasan minimal kewajiban membayar zakat.

Zakat memiliki kedudukan yang penting dalam Islam. Selain menjadi kewajiban, Zakat sendiri memiliki kontribusi bagi perekonomian. Dimana Zakat membantu mendistribusikan harta secara adil dan beradab. Adil dalam arti setiap orang membayar zakat sesuai dengan kekayaan yang dimiliki. Beradab yang artinya pembayaran Zakat menuntut setiap individu untuk memiliki catatan sendiri atas kekayaan yang dimiliki serta besarnya zakat yang harus dibayarkan. Zakat memberikan manfaat bukan hanya bagi penerima zakat namun juga bagi pemberi Zakat karena Zakat mampu memperkuat tali persaudaran dan ukhuwah islamiyah.

Zakat dapat menjadi salah satu jalan keluar dalam pengentasan kemiskinan karena salah satu pihak yang berhak menerima Zakat yaitu Fakir Miskin.

Alquran Surat At Taubah ayat 60:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana

Potensi Zakat di Indonesia pada tahun 2019 sendiri yaitu sebesar Rp 233 Triliun (data Baznas), apabila potensi Zakat dapat dimaksimalkan maka akan membantu dalam pengentasan kemiskinan.

Zakat sendiri terbagi menjadi dua jenis yaitu:

Zakat Fitrah

Zakat Fitrah merupakan zakat yang wajib diberikan oleh setiap orang Islam setahun sekali berupa makanan pokok sebesar satu sho dengan perkiraaan yaitu seberat 2.15 – 3 kg. Umumnya Zakat Fitrah di Indonesia yaitu Beras yaitu dengan berat 2.5 Kg atau 3.5 Liter.

Zakat Mal

Zakat Mal merupakan zakat yang dikeluarkan atas harta/penghasilan yang diperolehnya dengan besaran kewajiban sesuai dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan (haul dan nishab). Terdapat beberapa jenis harta yang disepakati para ulama untuk dikenakan zakat yaitu emas, perak, mata uang, hewan ternak, hasil pertanian, harta karun dan barang dagangan.

Contoh pembayaran Zakat Emas, Bapak Fulan selama 1 tahun penuh memiliki emas tersimpan sebanyak 100 gram, telah memasuki nishabnya yaitu untuk emas sebesar 85 Gram dan juga haulnya yaitu 1 tahun penuh. sehingga Bapak Fulan sudah memiliki kewajiban zakat emas. Jika harga emas saat ini Rp1.000.000/gram, maka emas tersebut senilai Rp100.000.000. Zakat yang perlu dibayarkan adalah sebesar 2,5% x Rp100.000.000 = Rp2.500.000.

Dan masih ada beberapa kriteria zakat yang lain untuk jenis harta yang berbeda, yang dapat ditemukan dalam literatur terkait Zakat ataupun berdiskusi langsung dengan badan amil Zakat untuk memberikan panduan perhitungan besaran zakat yang harus dibayarkan.