Asuransi Syariah

Diskon Terbaik Diskon Terbaik
500+ Pilihan 500+ Pilihan
Bantuan Klaim Bantuan Klaim
+62
Dengan lanjut, Saya setuju syarat & ketentuan berlaku.
1970/01/01 00:00:00Cicilan 0%Hemat 25%
Perusahaan Anda Sudah Didaftarkan!
Konsultan kami akan mengirim penawaran untuk Anda segera
1970/01/01 00:00:00Cicilan 0%Hemat 25%
 

Asuransi Syariah Terbaik di Indonesia 2021

Secara definisi, Asuransi syariah adalah produk asuransi di mana nasabah saling menanggung risiko (sharing risk) dengan menghibahkan sebagian dana kontribusi (premi) sebagai alat untuk menolong nasabah lain yang sedang tertimpa musibah. Sementara, peran pihak asuransi di sini adalah sebagai pemegang amanah dan pengelola dana kontribusi saja.

Untuk produknya sendiri asuransi ini terdiri atas asuransi jiwa syariah, asuransi kesehatan syariah, dan asuransi umum (kerugian). Berikut rekomendasi asuransi syariah terbaik di Indonesia pilihan Lifepal.

Asuransi Syariah Takaful Keluarga

  • Nama polis: Takafulink Salam
  • Usia masuk nasabah: 30-65 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga usia 80 tahun
  • Gratis biaya administrasi 12 bulan pertama
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan syariah, jiwa, penyakit kritis, dan investasi sekaligus
  • Santunan meninggal dunia 100% dan nilai investasi
  • Santunan kecelakaan diri 100% dan nilai investasi
  • Santunan cacat tetap total 100% dan nilai investasi
  • Santunan ketika terdiagnosis salah satu dari 49 penyakit kritis 100% dari uang pertanggungan (UP)
  • Pertanggungan biaya rawat inap, rawat jalan, rawat gigi, persalinan, ICU, dan pembedahan

FWD Life Syariah

  • Nama polis: Bebas Ikhtiar
  • Usia masuk nasabah sejak 30 hari
  • Polis nasabah dapat diperpanjang hingga usia 99 tahun
  • Minimum premi atau kontribusi dasar Rp200 ribu per bulan
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa dengan manfaat loyalty bonus
  • Santunan meninggal dunia dan nilai investasi
  • Santunan meninggal dunia akibat kecelakaan diri dan nilai investasi
  • Terdapat manfaat loyalty bonus hingga 160% di tahun ke-7 polis berjalan

Al Amin

  • Nama polis: At Ta’Min Siswa Dinar
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa syariah Al Amin berupa dana pendidikan anak
  • Santunan meninggal dunia atau cacat total akibat kecelakaan
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan biaya pendidikan
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan pinjaman atau kredit
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pembiayaan ibadah haji

JMA Syariah

  • Nama polis: JMA Asyifa
  • Usia masuk nasabah: 6 bulan – 59 tahun
  • Premi dibayarkan sekaligus di awal tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan lengkap dan jiwa sekaligus
  • Pertanggungan biaya perawatan kamar, ICU, dokter, dan pembedahan
  • Pertanggungan biaya rawat jalan sebelum dan sesudah rawat inap
  • Pertanggungan biaya perawatan gigi
  • Terdapat santunan meninggal dunia

Allianz Syariah

  • Nama polis: Allisya Maxi Fund Plus
  • Usia masuk nasabah: 1 bulan – 70 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga usia: 100 tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi jiwa unit link, khususnya untuk nasabah usia lanjut
  • Santunan meninggal dunia 125% – 350% dari premi tunggal
  • Nilai investasi dapat di top up minimal Rp1 juta tanpa dikenakan ujrah
  • Terdapat tiga pilihan jenis investasi yang dapat dipilih

Prudential Syariah

  • Nama polis: PRUPrime HealthCare Syariah
  • Bersifat sebagai manfaat tambahan atau rider
  • Usia masuk nasabah: 1 bulan – 65 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga usia 85 tahun
  • Cocok bagi yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan syariah hingga jangkauan luar negeri
  • Besaran nilai pertanggungan asuransi disesuaikan dengan tagihan rumah sakit (as charged) dengan limit sesuai plan yang dipilih
  • Besaran santunan tahunan asuransi akan naik 10% setiap tahun dengan maksimal 50%
  • Polis asuransi dapat digunakan di seluruh dunia
  • Metode klaim non tunai atau cashless dapat digunakan di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura

AIA Syariah

  • Nama polis: AIA Sakinah Assurance
  • Bersifat sebagai manfaat tambahan (rider)
  • Usia masuk nasabah: 1 bulan – 70 tahun
  • Pilihan tepat untuk yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan syariah hingga jangkauan luar negeri
  • Santunan meninggal dunia hingga Rp500 juta
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 10 hingga 15 persen
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 11 hingga 25 persen
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 12 hingga 35 persen

 

Pengertian Asuransi Syariah

Asuransi syariah adalah asuransi yang dikelola sesuai syariat Islam dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Di Indonesia, produk asuransi ini terdiri atas asuransi jiwa, kesehatan, dan umum (kerugian). Berikut beberapa pengertian dari para ahli dan Undang-Undang:

1. Wahbah az-Zuhaili

Dikutip dari buku Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Az-Zuhaili mendefinisikan asuransi syariah adalah gabungan dari dua bentuk kata yaitu at-ta’min at-ta’awuni dan at-ta’min bi qist sabit.

At-ta’min at-ta’awuni berarti asuransi tolong-menolong. Secara lengkap, asuransi syariah adalah kesepakatan sejumlah orang untuk membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi ketika salah seorang di antara mereka mendapat kemudharatan atau kesusahan.

At-ta’min bi qist sabit berarti asuransi dengan pembagian tetap. Secara lengkap artinya akad asuransi ini yang mewajibkan seseorang membayar sejumlah uang kepada pihak asuransi yang terdiri atas beberapa pemegang saham dengan perjanjian apabila peserta asuransi mendapat kecelakaan atau musibah, maka diberikan ganti rugi.

2. Pemahaman asuransi syariah menurut alim ulama

Para ulama memahami asuransi adalah sebuah sistem ta’awun dan tadhamun yang bertujuan menutupi kerugian akibat peristiwa atau musibah. Tugas ini dibagikan kepada kelompok tertanggung, dengan cara memberikan pengganti kepada orang yang tertimpa musibah. Pengganti tersebut diambil dari kumpulan premi-premi mereka.

3. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

Lembaga Islam di Indonesia telah mengeluarkan fatwa No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman umum asuransi syariah, dan mendefinisikan sebagai usaha saling melindungi serta tolong-menolong antara sejumlah orang / pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Menurut UU No.40 Tahun 2014, Asuransi ini didefinisikan sebagai kumpulan perjanjian yang terdiri antara perusahaan asuransi, pemegang polis, dan para pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi atas risiko atau musibah yang menimpa pemegang polis.

Dalam asuransi ini diberlakukan juga sistem antara para peserta. Sistem ini nantinya yang akan mengatur kontribusi/premi apakah dihibahkan seluruh atau sebagian untuk membayar klaim ketika ada peserta yang mengalami musibah.

Dengan kata lain, peranan perusahaan asuransi adalah pengelola dana operasional dan investasi dari sejumlah dana yang diterima.

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional di antaranya adalah akad, prinsip pengelolaan dana, pengawasan, dan pemilihan sektor investasi. Perbedaan ini bisa dibilang menjadi keunggulan dari asuransi tersebut.

Berikut tabel perbedaannya:

Perbedaan Asuransi Syariah Asuransi Konvensional
Pengelolaan risiko Saling tolong, saling menjamin, dan bekerja sama lewat kontribusi dana hibah (premi). Prinsipnya berbagi risiko antara perusahaan asuransi dan peserta. Sistem yang berlaku adalah transfer of risk. Risiko yang dialami pemegang polis atau tertanggung dibebankan kepada perusahaan asuransi.
Pengelolaan dana Pengelolaan dana bersifat transparan dan penggunaannya untuk kebaikan pemegang polis. Pengelolaan dana bersifat tertutup dan perusahaan yang menentukan jumlah premi dan biaya lain. Keuntungan hanya dinikmati perusahaan asuransi.
Sistem perjanjian Perjanjian dalam asuransi syariah disebut akad berdasarkan sistem syariah. Dalam asuransi konvensional, perjanjian asuransi seperti perjanjian jual-beli.
Kepemilikan dana Dana dimiliki bersama oleh pemegang polis. Perusahaan asuransi hanya bertindak sebagai pengelola dana. Dana dari premi yang dibayar tertanggung dimiliki sepenuhnya oleh perusahaan asuransi. Perusahaan bertindak penuh sebagai pengelola untuk mengalokasikan dana.
Pembagian keuntungan Keuntungan dibagikan kepada semua peserta asuransi (pemegang polis). Seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan asuransi.
Kewajiban zakat Perusahaan mewajibkan peserta membayar zakat dengan jumlah sesuai besaran keuntungan yang diperoleh perusahaan. Tidak ada ketentuan terkait zakat.
Pengawasan Pengawasan dilakukan DPS yang dibentuk DSN dari MUI. Pengawasan termasuk alokasi dana dan investasi yang harus halal. Pengawasan juga dilakukan OJK. Pengawasan hanya dilakukan OJK dan tidak ada kewajiban halal dalam pengelolaannya.
Dana hangus Ada klaim atau tidak ada pengembalian dana sesuai dengan prinsip bagi hasil termasuk bagi risiko. Hanya produk asuransi konvensional tertentu yang memberikan pengembalian dana (premi). Seperti asuransi jiwa seumur hidup yang hangus jika tertanggung hidup hingga usia 99 tahun.
Instrumen investasi Investasi tidak bisa dilakukan pada kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah seperti mengandung riba, perjudian, unsur suap, hingga haram. Tidak ada ketentuan syariah, hanya mengutamakan keuntungan sebesar-besarnya.
Klaim dan layanan Peserta bisa memanfaatkan perlindungan biaya rawat inap untuk semua anggota keluarga dengan premi yang lebih ringan dalam satu polis karena kontribusinya dinilai lebih besar. Memungkinkan klaim ganda dengan asuransi lain yang dimiliki tertanggung. Klaim ganda tersedia pada asuransi konvensional. Namun, tidak semua perusahaan asuransi konvensional memberikan premi murah untuk polis keluarga.
 

Manfaat Asuransi Syariah

Manfaat asuransi syariah serupa dengan asuransi konvensional. Salah satu manfaat asuransi syariah yang berbeda dari asuransi konvensional adalah kepastian perolehan surplus underwriting.

Surplus underwriting adalah selisih dari total dana kontribusi (premi) yang dibayar pemegang polis dan diberikan kepada pemegang polis dalam bentuk dana tabarru’.

Tertarik mendapatkan manfaat di atas? Lifepal telah mengkurasi ratusan asuransi syariah tanpa riba terbaik. Yuk bandingkan!

🕌 Asuransi Syariah: Kesehatan, Jiwa, Mobil - Rp60 ribu/bulan!

Manfaat Menggunakan Asuransi Syariah

Selain manfaat di atas, berikut beberapa manfaat asuransi syariah:

Pada asuransi konvensional, ada anggapan pengelolaan dana riba, sehingga produk asuransi tersebut tidak sesuai dengan prinsip syariat Islam.

Sementara pada asuransi syariah, pengelolaan dana hingga investasinya dipastikan bebas riba. Ini karena adanya DSN dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengawasi pengelolaan dana asuransi syariah.

Manfaat asuransi syariah bagi tertanggung lebih unggul dibandingkan konvensional, yaitu bebas dari riba. Alasannya, akad dalam produk ini bukanlah menukarkan premi dengan uang klaim, tapi bergotong royong antar sesama peserta.

Manfaat asuransi syariah adalah bagi risiko. Ini terlihat dari kontribusi peserta asuransi yang tidak hangus. Berbeda dari asuransi konvensional, asuransi syariah akan mengembalikan kontribusi yang dibayarkan selama masa asuransi.

Dengan skema sharing risk ini, maka semua risiko ditanggung bersama. Ketika ada keuntungan pun demikian. Perusahaan asuransi akan membagikan keuntungan.

Manfaat asuransi syariah juga bisa melakukan klaim ganda. Misalnya, tertanggung terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Ketika menjalani perawatan di rumah sakit, BPJS Kesehatan hanya memberikan pertanggungan sebagian. Sebagian lagi bisa dialihkan ke asuransi syariah.

Manfaat asuransi syariah yang keempat ini sepertinya tidak dimiliki asuransi konvensional. Penerapan prinsip tolong-menolong membuktikan bahwa asuransi syariah membantu sesama.

Ketika tertanggung mengalami cacat total tetap karena sakit atau kecelakaan, maka tertanggung bebas kontribusi premi dasar. Pada asuransi konvensional, fasilitas ini bisa didapatkan dengan membayar manfaat tambahan (rider) yang otomatis menambah premi.

Pengelolaan dana dalam asuransi syariah transparan, yaitu sudah ditentukan sejak awal. Jadi, nasabah paham ke mana saja dana iuran mereka dialokasikan. Transparansi ini juga mencakup kerugian dan keuntungan pengelolaan dana yang akan dibagikan kepada peserta.

Manfaat asuransi syariah lainnya adalah tetap terproteksi, meski peserta telat bayar. Pada asuransi konvensional, manfaat akan berhenti ketika nasabah telat dalam membayar.

Selain risiko, asuransi syariah juga memberikan keuntungan secara adil. Ketika pengelolaan dana cukup baik dan mungkin klaim tidak terlalu banyak, maka perusahaan mencetak keuntungan besar yang siap didistribusikan kepada peserta.

Wakaf adalah salah satu manfaat asuransi syariah bagi masyarakat yang tidak ada pada asuransi konvensional. Maksud dari wakaf adalah penyerahan harta yang bertahan lama kepada penerima manfaat sebagai bentuk kebajikan. Jadi, produk asuransi syariah memungkinkan pesertanya ikut berpartisipasi dalam kebaikan.

 

Klaim Asuransi Syariah

Klaim asuransi syariah sebenarnya hampir sama dengan asuransi konvensional. Pada asuransi syariah, sejak akad (perjanjian awal asuransi) pemegang polis telah diberitahukan mengenai sumber dana klaim yaitu dana tabarru’ yang merupakan kumpulan kontribusi (premi) para peserta asuransi.

Klaim adalah hak semua peserta yang tertimpa musibah. Itu sebabnya, wajib bagi pengelola melakukan proses klaim secara cepat dan tepat. Hal ini dijelaskan dalam Fatwa MUI Nomor 20/DSN-MUI/IX/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah terkait klaim adalah sebagai berikut:

  • Klaim dibayarkan berdasarkan akad yang disepakati pada awal perjanjian
  • Klaim dapat berbeda dalam jumlah, sesuai dengan premi yang dibayarkan
  • Klaim atas akad tija’rah sepenuhnya merupakan hak peserta, dan merupakan kewajiban perusahaan untuk memenuhinya
  • Klaim atas akad tabarru’ merupakan hak peserta dan merupakan kewajiban perusahaan, sebatas yang disepakati dalam akad

Jenis Klaim Asuransi Syariah

Berdasarkan Fatwa MUI di atas, terdapat empat jenis klaim dalam asuransi syariah. Berikut penjelasan singkat mengenai jenis klaim asuransi syariah!

Klaim kontrak habis adalah klaim yang dilakukan ketika masa asuransi berakhir. Perusahaan akan memberikan santunan kepada peserta yang telah menyelesaikan kontrak (akad) dalam pembayaran premi.

Klaim kesehatan adalah klaim yang dilakukan perusahaan kepada tertanggung atau pemegang polis yang mengalami sakit. Klaim akan memberikan santunan untuk rawat inap, pembedahan, obat-obatan, hingga biaya perawatan lain sesuai akad yang disepakati.

Klaim kecelakaan diberikan kepada peserta yang mengalami kecelakaan. Klaim ini termasuk pemberian santunan meninggal dunia atau cacat total tetap akibat kecelakaan, serta kerusakan pada kendaraan.

Klaim meninggal adalah pemberian santunan meninggal dunia atau uang pertanggungan (UP) jiwa kepada keluarga atau ahli waris dengan besar santunan sesuai akad. Ahli waris tidak hanya mendapatkan santunan sesuai dengan akad yang dijanjikan, tetapi juga berhak mendapatkan tabungan peserta dan hasil keuntungan dari investasi (dengan catatan peserta memiliki akad mudharabah yang menyediakan manfaat tabungan atau investasi).

Proses Pengajuan Klaim Asuransi Syariah

Proses pengajuan klaim asuransi syariah dan konvensional sebenarnya hampir sama. Tertanggung memberikan sejumlah dokumen yang dibutuhkan untuk melakukan klaim.

Berikut ini proses pengajuan klaim asuransi syariah!

Hal pertama yang harus dilakukan jika ingin klaim adalah menghubungi perusahaan. Musibah yang dialami dilaporkan secara lisan dan tertulis. Pada tahap awal, tertanggung akan mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai dokumen hingga langkah-langkah yang harus diikuti untuk melakukan klaim.

Pada tahap kedua, tertanggung memberikan bukti klaim termasuk dokumen-dokumen pendukung lain. Pada asuransi mobil syariah, bukti klaim termasuk foto kerusakan mobil yang dialami.

Setelah laporan dan dokumen diterima perusahaan, akan ada analisa administrasi. Termasuk status polis apakah masih aktif atau tidak, dan kerusakan yang dialami apakah ditanggung atau tidak oleh perusahaan asuransi. Pada asuransi mobil, biasanya akan ada survei lapangan yang menunjuk pihak ketiga yang disebut independent adjuster.

Setelah sepakat mengenai jumlah penggantian, maka pembayaran klaim akan diproses. Biasanya, tidak lebih dari 30 hari sejak terjadi kesepakatan klaim. Bila terjadi penolakan, ada proses lanjutan yang menambah jumlah hari.

 

Hukum Asuransi Syariah

Hukum asuransi syariah di Indonesia terdiri atas empat dasar, yaitu Al Quran, hadits, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Sistem asuransi syariah atau pengelolaan dananya mengikuti prinsip syariat Islam, yaitu menggunakan akad tolong-menolong.

Tertarik mencari asuransi syariah yang bagus? Lifepal telah mengkurasi ratusan asuransi tanpa riba terbaik. Yuk bandingkan!

Dasar Hukum Asuransi Syariah

Berikut ini dasar hukum asuransi syariah di Indonesia:

Hukum asuransi syariah dalam Al Quran dan hadits adalah sebagai berikut:

  • Surat Al Maidah 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
  • Surat An Nisa 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka.”
  • HR Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat.”

Asuransi syariah hadir sebagai solusi atas risiko tidak terduga yang menimpa seseorang. Untuk meyakinkan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, MUI mengeluarkan beberapa fatwa yang menghalalkan asuransi syariah.

Beberapa fatwa MUI yang mempertegas kehalalan asuransi syariah adalah:

  • Fatwa No 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah
  • Fatwa No 51/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah pada Asuransi Syariah
  • Fatwa No 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah Bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah
  • Fatwa No 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru pada Asuransi Syariah

Peraturan Menteri Keuangan menjadi payung hukum penyelenggaraan asuransi syariah di Indonesia. Melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2010 tentang Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah.

Adapun beberapa ketegasan dasar hukum dari Pemerintah ini bisa dilihat di BAB I, Pasal I nomor 1 hingga 3, yaitu:

  • Pasal 1 Nomor 1: Asuransi berdasarkan prinsip Syariah adalah usaha saling tolong-menolong (ta’awuni) dan melindungi (takafuli) di antara para nasabah melalui pembentukan kumpulan dana (tabbaru’) yang dikelola dengan prinsip syariah untuk menghadapi risiko tertentu.
  • Pasal 1 Nomor 2: Perusahaan adalah perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang menyelenggarakan seluruh atau sebagian usahanya berdasarkan prinsip syariah.
  • Pasal 1 Nomor 3: Nasabah adalah orang atau badan yang menjadi nasabah program asuransi dengan prinsip Syariah, atau perusahaan asuransi yang menjadi nasabah reasuransi dengan prinsip syariah.

Prinsip Asuransi Syariah

Prinsip asuransi syariah menjadi dasar operasional dan pengelolaan dana nasabah. Berikut adalah prinsip asuransi syariah yang tidak merugikan nasabah maupun perusahaan asuransi berdasarkan hukum asuransi syariah.

1. Unsur tolong-menolong

Prinsip asuransi syariah yang pertama adalah tolong-menolong. Dalam asuransi syariah terdapat dana tabarru’ yang merupakan dana kumpulan para peserta.

Dana yang dibayarkan peserta sebagai kontribusi (premi) ini bisa “dipinjamkan” ke peserta lain yang sedang membutuhkan. Dalam arti “pinjaman” ini sebagai klaim yang diperoleh peserta tersebut.

2. Dana tidak hangus

Prinsip asuransi syariah selanjutnya adalah dana tidak hangus. Dana di sini adalah premi yang dibayarkan setiap bulan, setiap 3 bulan, setiap tahun, atau yang dibayarkan sekaligus (single premi).

Pada asuransi konvensional, dana bisa hangus meski tidak ada klaim. Kecuali, terdapat fasilitas tertentu seperti no claim bonus. Bahkan, pada beberapa asuransi jiwa konvensional, premi yang dibayarkan hangus jika membeli asuransi jiwa seumur hidup dan tertanggung masih hidup hingga usia 99 tahun. Namun, hal ini tidak berlaku pada asuransi syariah. Pengelolaan dana yang didasari pada pembagian risiko dan keuntungan, maka akan ada pengembalian premi.

3. Adanya akad

Akad atau perjanjian dalam asuransi syariah juga telah ditetapkan sesuai prinsip syariat Islam. Akad ini menjadi poin pertama dalam asuransi syariah, yaitu tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat untuk menghadapi risiko nasabah asuransi.

Terdapat tiga akad berdasarkan hukum asuransi syariah yakni:

  • Akad Tijarah yaitu semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  • Akad Tabarru’ yaitu semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  • Akad Wakalah bil Ujrah yang memberikan wewenang kepada penyedia asuransi dalam mengelola dana proteksi atau investasi milik nasabah.

4. Alokasi dana investasi sesuai syariat Islam

Prinsip asuransi syariah berikutnya adalah penempatan dana investasi yang wajib sesuai syariat Islam. Artinya, baik itu investasi peserta unit link ataupun investasi yang dilakukan perusahaan, harus sejalan dengan syariat.

Adapun syarat investasi yang sesuai syariat adalah halal, tidak haram, tidak mengandung unsur riba, dan tidak mengandung unsur penipuan. Sederhananya, tidak boleh melanggar hukum asuransi syariah.

5. Berbagi risiko

Prinsip asuransi syariah maupun konvensional sebenarnya berbagi risiko. Hanya saja, pada asuransi syariah risiko ditanggung bersama oleh semua peserta berdasarkan landasan hukum asuransi syariah.

Risiko ini tidak hanya untuk pembayaran klaim kepada peserta lain. Ada juga risiko kerugian perusahaan yang bisa ditanggung bersama. Begitupun keuntungan, dibagi kepada peserta asuransi. Tidak menjadi keuntungan perusahaan semata.

 

Jenis Asuransi Syariah yang Ada di Indonesia

Jenis asuransi syariah terdiri atas asuransi jiwa syariah, asuransi kesehatan syariah, dan asuransi umum (kerugian) syariah. Masing-masing jenis asuransi syariah serupa dengan asuransi konvensional.

Perbedaan jenis asuransi syariah dan konvensional terletak pada pengelolaan dananya. Asuransi syariah dikelola sesuai hukum dan prinsip syariat Islam. Berikut ini jenis asuransi berbasis syariah yang ada di Indonesia.

Asuransi Jiwa Syariah

Jenis asuransi syariah yang pertama adalah asuransi jiwa syariah. Produk ini merupakan proteksi atas kehilangan pendapatan atau finansial akibat ketidakmampuan atau meninggalnya seseorang, terutama pencari nafkah utama. Jenis asuransi syariah ini memberikan santunan meninggal dunia atau cacat tetap total kepada ahli waris atau keluarga sesuai prinsip syariah.

Asuransi jiwa berjangka (term life)

Asuransi jiwa berjangka adalah jenis asuransi syariah yang memberikan jaminan santunan meninggal dunia dalam jangka waktu tertentu. Harga premi asuransi ini cenderung lebih murah. Bahkan, ada asuransi jiwa berjangka dengan masa asuransi 1 tahun dan harga preminya hanya Rp36.500 per bulan.

Asuransi jiwa seumur hidup (whole life)

Asuransi jiwa syariah seumur hidup adalah jenis produk syariah yang memberikan santunan meninggal dunia seumur hidup. Tapi, biasanya dibatasi hingga usia tertanggung 100 tahun. Polis ini direkomendasikan bagi pencari nafkah utama dalam keluarga karena nilai uang pertanggungan (UP) jiwanya jauh lebih besar bagi ahli waris atau keluarga yang ditinggalkan.

Asuransi jiwa dwiguna (endowment)

Polis asuransi jiwa dwiguna memberikan dua manfaat utama, yaitu UP jiwa dan tabungan. Ahli waris atau keluarga yang ditinggalkan akan mendapatkan dua santunan ketika tertanggung utama meninggal dunia. Polis asuransi jiwa dwiguna direkomendasikan bagi pencari nafkah utama yang ingin memastikan ketersediaan dana pendidikan bagi anak.

Asuransi Kesehatan Syariah

Asuransi kesehatan berbasis syariah adalah produk asuransi yang memberikan ganti rugi atau jaminan atas biaya perawatan atau pengobatan di rumah sakit sesuai syariat Islam. Polis asuransi kesehatan antara lain:

Polis asuransi kesehatan syariah memberikan jaminan atas biaya perawatan kesehatan hingga pembedahan. Beberapa perusahaan asuransi memberikan jaminan utama ini untuk risiko sakit dan kecelakaan.

Polis asuransi kesehatan keluarga memberikan jaminan utama atas biaya perawatan kesehatan hingga pembedahan. Polis ini digunakan satu keluarga (biasanya maksimal 5 anggota keluarga).

Polis asuransi rawat jalan syariah merupakan manfaat tambahan (rider) yang memberikan jaminan atas biaya rawat jalan. Polis asuransi rawat jalan biasanya digunakan untuk sakit atau kecelakaan yang tidak membutuhkan rawat inap.

Polis asuransi melahirkan di sebagian besar perusahaan asuransi adalah polis dengan manfaat tambahan. Pasalnya, melahirkan bukanlah suatu penyakit yang tidak terduga. Namun, polis asuransi melahirkan memberikan jaminan menyeluruh atas risiko melahirkan Caesar hingga risiko penyakit pada ibu dan bayi.

Polis asuransi penyakit kritis memberikan jaminan berupa rawat inap, pembedahan, hingga biaya lain atas penyakit kritis yang diderita tertanggung. Pada polis asuransi syariah ini, perusahaan akan memberikan jaminan sejak diagnosis penyakit kritis stadium awal.

Hospital cash plan adalah polis asuransi yang menanggung biaya rawat inap di rumah sakit sesuai dengan plafon yang tertulis dalam polis. Jadi, jika tagihan rumah sakit adalah Rp500 ribu per hari dan plafon yang dimiliki adalah Rp1 juta, maka tertanggung mendapatkan kelebihan Rp500 ribu per hari.

 

Pertanyaan Seputar Asuransi Syariah

Berikut ini beberapa pengertian asuransi syariah dari beberapa sumber, termasuk UU No.40 Tahun 2014.

  1. Wahbah az-Zuhaili

Dikutip dari buku Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Az-Zuhaili mendefinisikan asuransi dalam dua bentuk yaitu at-ta’min at-ta’awuni dan at-ta’min bi qist sa’bit.

At-ta’min at-ta’awuni berarti asuransi tolong-menolong. Secara lengkap, asuransi syariah adalah kesepakatan sejumlah orang untuk membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi ketika salah seorang di antara mereka mendapat kemudharatan atau kesusahan.

At-ta’min bi qist sabit berarti asuransi dengan pembagian tetap. Secara lengkap artinya akad asuransi syariah yang mewajibkan seseorang membayar sejumlah uang kepada pihak asuransi yang terdiri atas beberapa pemegang saham dengan perjanjian apabila peserta asuransi mendapat kecelakaan atau musibah, maka diberikan ganti rugi.

  1. Pemahaman Alim Ulama

Asuransi yang dipahami oleh para ulama adalah sebuah sistem ta’awun dan tadhamun yang bertujuan menutupi kerugian peristiwa-peristiwa atau musibah-musibah. Tugas ini dibagikan kepada kelompok tertanggung, dengan cara memberikan pengganti kepada orang yang tertimpa musibah. Pengganti tersebut diambil dari kumpulan premi-premi mereka.

  1. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

Lembaga Islam di Indonesia ini mengeluarkan fatwa No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman umum asuransi syariah, dan mendefinisikan asuransi sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong antara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

  1. UU No. 40 Tahun 2014

Asuransi syariah adalah kumpulan perjanjian yang terdiri atas perjanjian antara perusahaan asuransi syariah, pemegang polis, dan perjanjian antara para pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi atas risiko atau musibah yang menimpa pemegang polis.

Produk yang tersedia berbasis syariat beragam, disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Pada dasarnya hanya ada dua jenis, yaitu asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Berikut ini asuransi berbasis asuransi syariah yang ada di Indonesia.

  1. Asuransi Jiwa Syariah

Asuransi jiwa syariah merupakan proteksi atas kehilangan pendapatan atau finansial akibat ketidakmampuan atau meninggalnya seseorang. Asuransi jiwa ini bakal memberikan santunan meninggal dunia atau cacat tetap total kepada ahli waris atau keluarga.

Asuransi jiwa syariah yang dikelola sesuai prinsip Islam ini juga bisa menjadi asuransi pendidikan bagi Anda yang sudah berkeluarga. Sebagai asuransi pendidikan syariah, dana pendidikan bakal diberikan bertahap, sesuai jenjang pendidikan buah hati.

  1. Asuransi Kesehatan Syariah

Asuransi kesehatan berbasis syariah berarti produk asuransi yang memberikan ganti rugi atau jaminan atas biaya perawatan atau pengobatan di rumah sakit dengan prinsip sesuai syariat Islam. Temukan pilihan terbaik dari perusahaan asuransi syariah berikut ini.

  1. Asuransi Umum Syariah

Pada dasarnya memberikan perlindungan terhadap risiko kerugian finansial yang ditimbulkan akibat kejadian yang tidak terduga. Objek yang dijaminkan ganti ruginya adalah objek benda berupa aset berharga seperti rumah, kantor, tempat usaha, gedung, kendaraan bermotor, ekspedisi, hingga proyek bangunan tertentu.

Dari kategori di atas, asuransi mobil syariah cukup banyak dicari orang, sebab asuransi mobil memberikan proteksi finansial atas risiko mobil rusak akibat banjir atau kecelakaan. Mengingat risiko banjir dan kecelakaan di Indonesia cukup tinggi, karena itu jenis asuransi ini sangat penting untuk dimiliki setiap pemilik kendaraan.

Berdasarkan fatwa MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, produk ini dinyatakan halal selama memenuhi semua persyaratan dan ketentuan umum yang dicantumkan dalam fatwa. Artinya, asuransi syariah halal dan asuransi syariah bukan termasuk riba selama memenuhi ketentuan umum yaitu:

  • Asuransi Syariah (Ta-min, Takaful, atau Tadhamun) sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau dana yang memberikan pola pengembalian berupa klaim untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai syariat.
  • Akad yang sesuai dengan syariat dalam poin pertama adalah tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat untuk menghadapi risiko nasabah asuransi.
  • Akad tijarah yaitu semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  • Akad tabarru’ yaitu semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  • Premi yaitu kewajiban peserta memberikan sejumlah dana kepada perusahaan sesuai kesepakatan dalam akad.
  • Klaim adalah hak peserta yang wajib diberikan kepada perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad

Dalam mengelola asuransi syariah, perusahaan asuransi akan menetapkan sejumlah biaya (ujrah) yang disepakati oleh semua pihak pada awal kontrak/ ­akad. Sementara, jika kita bicara tentang asuransi jiwa unit link syariah, sebagian dana peserta yang dialokasikan untuk investasi akan dimasukkan dalam instrumen investasi syariah yang pasti dijamin kehalalannya.

Untuk pemilihan saham misalnya, saham yang dipilih adalah saham perusahaan yang bisnisnya tidak berkaitan dengan perjudian, minuman beralkohol, atau sesuatu yang mengandung riba (bunga), seperti perbankan konvensional. Belum lagi, untuk pengesahan setiap produk syariah harus melalui uji dan persetujuan dari Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Dengan ketatnya pemilihan produk investasi, sistem kerja yang lebih terbuka, dan juga pengawasannya, bisa dipastikan produk asuransi syariah terjamin kehalalannya.

Di tengah pandemi Covid-19 yang disebabkan virus corona, sejumlah asuransi jiwa dan kesehatan memberikan jaminan bagi nasabah yang terkena Covid-19. Anda yang mau berjaga-jaga di situasi saat ini bisa memilih beberapa perusahaan asuransi yang telah menjamin biaya perawatan hingga santunan tunai jika nasabah positif Covid-19.

Di tengah pandemi Covid-19 yang disebabkan virus corona, sejumlah asuransi jiwa dan kesehatan memberikan jaminan bagi nasabah yang terkena Covid-19. Anda yang mau berjaga-jaga di situasi saat ini bisa memilih beberapa perusahaan asuransi yang telah menjamin biaya perawatan hingga santunan tunai jika nasabah positif Covid-19.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi salah satu pasar besar bagi industri jasa keuangan berunsur syariat, termasuk proteksi. Namun, untuk diterima Muslim Indonesia cukup sulit. Kenapa? Karena polemik seperti penjelasan sebelumnya mengenai riba dan haram dalam kategori tersebut.

Sebagian orang berpendapat bahwa memiliki asuransi baik jiwa, kesehatan, ataupun umum (kerugian), berarti menjaminkan keselamatan kepada perusahaan dan tidak memercayai Tuhan. Karena itu, proteksi ini masih diragukan sebagian Muslim Indonesia.

Dalam sejarah asuransi syariah guna melihat polemik dan keraguan atas kehalalan tersebut, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) mengeluarkan keputusan/nasihat yang disebut fatwa. Melalui fatwa Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, perusahaan asuransi ganti rugi prinsip syariah ini dinyatakan halal selama memenuhi semua persyaratan dan ketentuan umum yang dicantumkan dalam fatwa.

Sementara itu, pengamat ekonomi syariat M Syakir mengakui beberapa kalangan masih menilai proteksi syariat ini haram. Dia menilai, kalangan yang beranggapan demikian hanya menggunakan referensi jadul, sehingga tidak mengikuti perubahan.

Syakir menuturkan, konsep syariat terdiri atas sekumpulan orang yang ingin saling membantu, saling melindungi, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana. Berdasarkan konsep tersebut, Syakir percaya bahwa polis yang telah memenuhi fatwa MUI tidak haram ataupun mengandung unsur riba.

Terlepas dari polemik haram-halal, tujuh tahun sebelum fatwa diterbitkan, tonggak sejarah asuransi syariah hadri di Indonesia telah dimulai melalui pendirian PT Syarikat Takaful Indonesia (Asuransi Takaful), tepatnya pada 24 Februari 1994. Takaful menjadi perusahaan asuransi syariat pertama di Tanah Air.

Sejak itu, perusahaan konvensional mulai melirik produk ini karena pangsa pasar yang begitu luas. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Katadata, terdapat 263,92 juta jiwa penduduk Indonesia beragama Islam pada 2020. Tentunya, jumlah ini bukan nominal sedikit jika membandingkan dengan masyarakat Indonesia yang telah terproteksi tidak sampai 2 persen berdasarkan informasi Kompas pada 2018.

Dasar hukum asuransi syariah tercatat dalam hadis dan ayat dalam Al Quran, yaitu:

  • Al Maidah 2: “Dan tolong-menolonglah Anda dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
  • An Nisaa 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka.”
  • HR Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat.”

Dasar hukum asuransi syariah justru hadir sebagai solusi dari anggapan bahwa esensi asuransi bertentangan dengan syariat agama dan prinsip-prinsip di dalam agama itu sendiri. Itu sebabnya mulai 2001, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa asuransi syariah secara sah diperbolehkan dalam ajaran Islam.

Beberapa fatwa MUI yang mempertegas kehalalan asuransi syariah adalah:

  • Fatwa No 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
  • Fatwa No 51/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah pada Asuransi Syariah
  • Fatwa No 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah Bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah
  • Fatwa No 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru pada Asuransi Syariah.

Asuransi syariah juga sudah diatur operasional dan keberadaannya melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2010 tentang Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah.

Adapun beberapa ketegasan dasar hukum asuransi syariah dari Pemerintah ini bisa dilihat di BAB I, Pasal I nomor 1 hingga 3, yaitu:

  • Pasal 1 Nomor 1: Asuransi berdasarkan prinsip Syariah adalah usaha saling tolong-menolong (ta’awuni) dan melindungi (takafuli) di antara para nasabah melalui pembentukan kumpulan dana (tabbaru’) yang dikelola dengan prinsip syariah untuk menghadapi risiko tertentu.
  • Pasal 1 Nomor 2: Perusahaan adalah perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang menyelenggarakan seluruh atau sebagian usahanya berdasarkan prinsip syariah.
  • Pasal 1 Nomor 3: Nasabah adalah orang atau badan yang menjadi nasabah program asuransi dengan prinsip Syariah, atau perusahaan asuransi yang menjadi nasabah reasuransi dengan prinsip syariah.

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 72/POJK.05/2016, tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi syariah minimum rasio solvabilitas atau RBC dalam laporan keuangan asuransi syariah adalah 120 persen. Artinya, jika Anda melihat laporan tahunan asurasni syariah rasio RBC nya berada di bawah 120 persen, maka kesehatan keuangan perusahaan tersebut dinyatakan kurang sehat.

Ada beberapa istilah dalam produk jaminan berbasis syariat ini. Tentu istilah berikut tidak terlepas dari Bahasa Arab sehingga perlu dijelaskan maknanya agar bisa dipahami oleh semua peserta atau penerima manfaat.

  • Akad adalah perjanjian antara dua belah pihak yang mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing yang bersifat mengikat dan memiliki konsekuensi hukum jika tidak dijalankan atau dilanggar. Akad dilakukan antara penerima manfaat (peserta) dan perusahaan.
  • Akad mudharabah adalah perjanjian antara pihak pertama sebagai pemilik modal (shahibul maal) kemudian mempercayakan modal tersebut untuk dikelola oleh pihak kedua (mudharib) dengan perjanjian di awal. Modal sepenuhnya berasal dari pihak pertama sedangkan pihak kedua tidak menanamkan modal sama sekali hanya mengandalkan keahlian yang tidak dimiliki oleh pihak pertama.
  • Akad musyarakah adalah perjanjian antara pihak pertama dengan pihak kedua dengan modal yang berasal dari kedua belah pihak dengan perjanjian pembagian keuntungan atau kerugian berdasarkan seberapa besar porsi kontribusinya.
  • Akad mudharabah musytarakah adalah gabungan antara akad mudharabah dan musyarakah di mana modal berasal dari satu pemilik modal. Perbedaannya adalah kerugian yang terjadi hanya ditanggung oleh pemilik modal. Namun jika dalam perjalanan waktu bisnis yang dijalankan menguntungkan maka, pengelola boleh menambah modal untuk mengembangkan usahanya dengan perjanjian keuntungan berdasarkan porsi kontribusi yang diberikan. 
  • Akad tijarah adalah perjanjian yang dilakukan untuk kepentingan mencari keuntungan.
  • Akad tabarru’ adalah perjanjian hibah dalam bentuk pemberian dana dari peserta dengan tujuan untuk tolong menolong sesama dan tidak digunakan untuk tujuan investasi. Kumpulan dana dari para peserta asuransi ini dikumpulkan dalam satu rekening yang disebut dengan dana tabarru’
  • Wakalah bil ujrah adalah biaya administrasi pengelolaan dana yang dibebankan kepada peserta oleh pengelola (perusahaan). Pengelola tidak berhak mendapatkan bagian dari dana yang diinvestasikan jika menggunakan akad ini.
  • Kontribusi adalah istilah dalam proteksi syariat yang digunakan untuk menggantikan istilah premi peserta.
  • Qardh adalah pinjaman pengelola (perusahaan) dengan menggunakan dana tabarru’ saat terjadi defisit ketika ingin membayarkan santunan (klaim). Dana qard akan dikembalikan lagi oleh pengelola jika mengalami surplus dalam perhitungan underwriting di lain waktu.
  • Iuran tabarru’ adalah sebagian dana yang diambil dari kontribusi peserta asuransi. Dana ini nantinya digunakan untuk saling tolong menolong antar peserta asuransi yang mendapatkan musibah yang tidak diinginkan.
Penulis Clara Naomi Penulis yang memiliki pengalaman dalam bidang finansial dan asuransi. Menulis guna mendorong masyarakat sadar pentingnya pengaturan keuangan yang baik dan ideal. Lihat profile penulis
Chat Bantuan Chat Bantuan