Asuransi Syariah

HEMAT 30%
Diskon Terbaik Diskon Terbaik
500+ Pilihan 500+ Pilihan
Bantuan Klaim Bantuan Klaim
+62
 

Pengertian Asuransi Syariah

Asuransi syariah adalah proteksi yang memberikan jaminan biaya kesehatan, santunan serta ganti rugi berdasarkan prinsip syariat atau hukum Islam. Hukum Islam pada asuransi syariah mengatur prinsip tolong-menolong (Tabarru’). Ini yang membedakannya dengan asuransi konvensional.

Jenis proteksi syariah tengah banyak dicari masyarakat Indonesia saat ini. Sebab, Indonesia sendiri didominasi oleh warga Muslim. Bahkan, non-Muslim sekalipun cukup menyukai produk asuransi syariah ini karena transparansinya.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pengertian asuransi syariah secara lebih dalam, prinsip, dan dasar hukumnya, mari ketahui dulu perbedaan asuransi konvensional dan syariah. Dengan demikian, akan lebih mudah memilih produk syariah terbaik untuk kita.

Keunggulan Asuransi Syariah Dibandingkan Konvensional

Jika berbicara pilihan mana yang lebih unggul, asuransi syariah atau konvensional? Sebenarnya kembali lagi bergantung pada kebutuhan calon nasabah. Namun, ada beberapa hal yang tidak dimiliki oleh asuransi konvensional namun diberikan oleh asuransi syariah. Begitupun sebaliknya. Berikut ini adalah keunggulan asuransi syariah: 

1. Mengikuti prinsip syairah islam

Salah satu keunggulan utama asuransi syariah tentu terletak pada pengelolaan dananya yang mengikuti prinsip syariah Islam. Artinya, dapat dipastikan bahwa dana nasabah tidak akan digunakan untuk kegiatan usaha yang dilarang menurut prinsip Islam dan sesuai dengan aturan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). 

2. Pengelolaan dana transparan

Seluruh pengelolaan dana kontribusi atau premi yang dibayarkan oleh nasabah bersifat transparan. Misal, terdapat surplus underwriting atau selisih lebih dari total dana kontribusi yang terkumpul maka pembagian dana tersebut wajib dilakukan secara transparan.

3. Keuntungan hasil investasi dibagikan kepada peserta

Berbeda dengan perusahaan asuransi konvensional, yang mana hasil investasi sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan asuransi (kecuali polis yang dikaitkan dengan investasi atau unit link). Hasil investasi dalam asuransi syariah akan dibagikan secara kolektif kepada nasabah. 

4. Kepemilikan dana perusahaan dan peserta 

Dalam asuransi konvensional, seluruh premi merupakan hak milik perusahaan asuransi kecuali untuk jenis asuransi unit link. Sementara dalam asuransi syariah, dana kontribusi merupakan milik perusahaan asuransi sebagai pengelola dana dan milik pemegang polis atau nasabah. 

5. Dana kontribusi tidak hangus meski tidak ada klaim

Dalam asuransi syariah, jika tidak ada klaim hingga masa akhir polis maka dana tersebut akan diakumulasikan ke dalam dana tabarru’ yang kemudian berfungsi sebagai dana kolektif milik seluruh peserta asuransi. Jika di asuransi konvensional, premi yang dibayarkan umumnya akan hangus jika tidak ada klaim, kecuali polis yang dipilih memiliki manfaat no claim bonus atau pengembalian premi. 

6. Manfaat surplus underwriting

Surplus underwriting adalah selisih lebih dari total dana kontribusi yang dibayarkan oleh nasabah ke dalam dana tabarru’ setelah dikurangi pembayaran klaim, kontribusi reasuransi, dan cadangan teknis. Dalam asuransi syariah surplus underwriting ini akan dibagikan ke dana tabarru’. Berbeda dengan asuransi konvensional yang surplus underwriting dimiliki oleh perusahaan asuransi. 

Rekomendasi Produk Asuransi Syariah di Indonesia

Di Indonesia, perusahaan asuransi syariah harus mendapatkan izin usaha syariah dari OJK dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Perusahaan asuransi berbasis syariah ini juga terbagi lagi menjadi full syariah dan unit syariah. Full syariah berarti seluruh grup perusahaan memang menjual produk berbasis syariat, sementara unit syariah biasanya merupakan bagian dari grup perusahaan asuransi konvensional. Total ada 55 perusahaan asuransi dan reasuransi yang telah mendapatkan izin usaha syariah dari OJK.

Nah, adapun beberapa perusahaan asuransi yang terkenal dengan produk syariah, di antaranya FWD Life, Allianz, Prudential, AIA, Al Amin, Amanah Githa.

Asuransi Syariah FWD Life

Bebas Ikhtiar merupakan salah satu polis asuransi jiwa syariah berbalutkan investasi atau unit link yang dihadirkan oleh FWD Life. Bebas Ikhtiar menjadi salah satu pilihan asuransi syariah unggulan sebab memberikan manfaat asuransi yang lengkap, mulai dari santunan meninggal dunia hingga manfaat loyalty bonus atau pemberian UP jika masih hidup hingga masa polis asuransi berakhir. 

Bebas Ikhtiar memiliki manfaat dasar mencakup, santunan atas risiko meninggal dunia sebelum usia 100 tahun, santunan atas risiko meninggal dunia akibat kecelakaan sebelum usia 70 tahun, manfaat nilai investasi jika tertanggung masih hidup hingga masa polis berakhir, serta manfaat loyalty bonus hingga 25 persen dari nilai santunan atau UP. 

  • (+) Minimum premi atau dana kontribusi murah yaitu mulai dari Rp200 ribu per bulan
  • (+) Menanggung usia nasabah mulai dari 30 hari
  • (+) Polis asuransi berlaku untuk nasabah hingga usia 99 tahun
  • (+) Pilihan manfaat asuransi tambahan (rider) sangat lengkap
  • (+) Terdapat manfaat loyalty bonus hingga 25 persen
  • (-) Besaran loyalty bonus terbilang kecil yaitu di bawah 30 persen

  • Usia masuk peserta asuransi yaitu 18 hingga 80 tahun
  • Usia nasabah yang diasuransikan yaitu 30 hari hingga 70 tahun
  • Minimum premi atau kontribusi dasar yaitu Rp200 ribu per bulan
  • Santunan meninggal dunia sebelum usia 100 tahun
  • Santunan meninggal dunia akibat kecelakaan sebelum usia 70 tahun
  • Manfaat loyalty bonus untuk masa polis 7 hingga 10 tahun sebesar 25 persen
  • Manfaat loyalty bonus untuk masa polis 11 hingga 16 tahun sebesar 10 persen

Asuransi Syariah Allianz

Allisya Maxi Fund Plus adalah salah satu polis asuransi Allianz syariah yang memberikan manfaat asuransi jiwa hingga tertanggung berusia 100 tahun. Seperti yang telah diketahui, Allianz memang menjadi salah satu pilihan unggul untuk kategori asuransi unit link. Karena itu, dalam polis Allisya Maxi Fund Plus, Allianz juga memberikan manfaat asuransi jiwa berbalutkan investasi sekaligus. 

Untuk besaran santunan meninggal dunia berkisar 125 hingga 350 persen dari premi tunggal. Selain itu, nasabah juga bisa meningkatkan nilai investasi dengan layanan top up kapan saja selama polis masih aktif, senilai minimal Rp1 juta tanpa dikenakan ujrah atau biaya administrasi lainnya. 

  • (+) Santunan atas risiko meninggal dunia Allisya Maxi Fund hingga 350 persen dari premi yang telah dibayarkan
  • (+) Nilai investasi Allisya Maxi Fund dapat di top up kapan saja (min. Rp1 juta)
  • (+) Manfaat asuransi jiwa syariah dan investasi sekaligus untuk Allisya Maxi fund
  • (+) Santunan atas risiko meninggal dunia Allianz Tasbih hingga 200 persen dari UP
  • (+) Manfaat asuransi jiwa syariah dan tabungan haji sekaligus untuk Allianz Tasbih
  • (-) Hanya terbatas pada manfaat asuransi jiwa saja. Jadi, tidak ada manfaat asuransi kesehatan sekaligus dalam kedua polis.

  • Santunan atas risiko meninggal dunia minimum 125 hingga 350 persen dari premi tunggu
  • Besaran premi tunggal Allisya Maxi Fund Plus dapat disesuaikan dengan kemampuan nasabah. Semakin besar premi tunggal, kemungkinan hasil investasi semakin optimal
  • Nasabah dapat melakukan top up untuk meningkatkan nilai investasi Allisya Maxi Fund kapanpun dengan minimal Rp1 juta

Asuransi Syariah Prudential

PRUPrime HealthCare Syariah merupakan salah satu polis unggulan asuransi kesehatan syariah milik Prudential. Hal yang membuat asuransi syariah Prudential ini unggul adalah manfaat pertanggungan sesuai tagihan rumah sakit (as charged) dan dapat digunakan di seluruh dunia termasuk Amerika Serikat.

Hanya saja, polis asuransi ini bersifat sebagai manfaat tambahan atau rider dari polis dasar PRULink Syariah Generasi Baru. 

  • (+) Besaran plafon asuransi disesuaikan dengan tagihan rumah sakit atau as charged dengan limit sesuai plan yang dipilih
  • (+) Klaim cashless atau non tunai dapat digunakan di Indonesia, Malaysia, dan Singapura
  • (+) Santunan tahunan akan naik setiap tahunnya
  • (-) Bersifat sebagai rider atau manfaat tambahan. Artinya nasabah harus terlebih dahulu beli polis dasar asuransi kesehatan, baru bisa terdaftar dalam PRUPrime HealthCare Syariah

  • Bersifat sebagai manfaat tambahan atau rider dari polis PRULink Syariah Generasi Baru
  • Besaran nilai pertanggungan asuransi disesuaikan dengan tagihan rumah sakit (as charged) dengan limit sesuai plan yang dipilih.
  • Besaran santunan tahunan asuransi akan naik 10 persen setiap tahun dengan maksimal 50 persen
  • Polis asuransi dapat digunakan di seluruh dunia
  • Metode klaim non tunai atau cashless dapat digunakan di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura

Asuransi Syariah AIA

AIA Sakinah Assurance adalah salah satu polis unggulan asuransi AIA syariah. Adapun manfaat dasar yang diberikan mencakup santunan meninggal dunia sebesar 100 persen uang pertanggungan (UP). Namun, jika tertanggung yang diasuransikan meninggal dunia akibat kecelakaan di usia 70 tahun, maka akan diberikan manfaat tambahan sebesar santunan awal atau maksimal sebesar Rp500 juta. 

Jika tertanggung yang diasuransikan meninggal dunia akibat kecelakaan ketika berusia di bawah 18 tahun, akan mendapatkan manfaat tambahan maksimal senilai Rp150 juta. Selain itu, ada juga manfaat loyalty bonus hingga 35 persen dari uang pertanggungan (UP). 

  • (+) Nilai santunan atas risiko meninggal dunia cukup tinggi yaitu hingga Rp500 juta
  • (+) Terdapat manfaat loyalty bonus hingga 35 persen dari UP
  • (+) Pilihan manfaat asuransi tambahan (rider) sangat lengkap
  • (+) Menanggung nasabah sejak usia 0 dan dapat diperpanjang hingga 80 tahun
  • (-) Manfaat asuransi kesehatan dan penyakit kritis bersifat sebagai rider. Sehingga akan dikenakan biaya premi tambahan untuk polis terkait.

  • Usia masuk nasabah adalah 0-70 tahun
  • Polis dapat diperpanjang hingga 80 tahun
  • Santunan meninggal dunia hingga Rp500 juta
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 10 hingga 15 persen
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 11 hingga 25 persen
  • Terdapat manfaat loyalty bonus di tahun ke 12 hingga 35 persen
  • Terdapat manfaat tambahan (rider) Hospital and Surgical Syariah Care Plus, Critical Illness Syariah, Waiver of Contribution Syariah Plus, Spouse Waiver Syariah Plus, dan Payor Waiver Syariah Plus.

Asuransi Syariah Al Amin

Syariah Pembiayaan Al Amin adalah asuransi jiwa dan asuransi pendidikan syariah yang dihadirkan oleh Al Amin dengan mengikuti prinsip syariat Islam. Asuransi jiwa syariah Al Amin ini terbagi menjadi tiga pilihan yaitu At Ta’Min Siswa Dinar, At Ta’Min Pembiayaan Mikro, dan Al Amin Badal Arafah. 

At Ta’Min Siswa Dinar adalah polis  asuransi jiwa syariah Al Amin yang memberikan santunan meninggal dunia kepada nasabahnya dalam bentuk pelunasan biaya pendidikan. At Ta’Min Pembiayaan Mikro adalah polis yang memberikan santunan meninggal dunia  dalam bentuk pelunasan kredit. Al Amin Badal Arafah adalah polis asuransi jiwa syariah Al Amin yang dikhususkan untuk nasabah yang berangkat haji atau umrah. 

  • (+) Memberikan manfaat asuransi pendidikan syariah
  • (+) Memberikan manfaat asuransi kredit
  • (+) Memberikan manfaat asuransi selama naik haji atau umrah
  • (+) Tidak hanya menanggung risiko meninggal dunia, melainkan juga cacat total
  • (-) Informasi terkait produk asuransi sangat terbatas dalam situs resmi Al Amin

  • Santunan meninggal dunia atau cacat total akibat kecelakaan
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan biaya pendidikan
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan pinjaman atau kredit
  • Pilihan santunan meninggal dunia berupa pembiayaan ibadah haji

Asuransi Syariah Amanah Githa

Amar Link Maksima merupakan salah satu produk asuransi syariah unggulan perusahan asuransi Amanah Githa.  Adapun manfaat yang diberikan mencakup pertanggungan asuransi jiwa syariah berbalutkan unit link atau investasi sekaligus. 

Manfaat dasar yang diberikan juga cukup menguntungkan, yaitu jika nasabah hidup hingga masa akhir polis, maka akan diberikan dana investasi peserta. Namun jika nasabah meninggal dunia selama masa asuransi, maka akan diberikan santunan sebesar UP plus dana investasi peserta. Selain itu, jika polis terhenti sebelum masa asuransi berakhir, nasabah tetap akan menerima manfaat dana investasi jika ada.

  • (+) Pilihan pembayaran kontribusi atau premi bulanan, triwulan, semesteran, tahunan, atau sekaligus
  • (+) Manfaat asuransi jiwa syariah dan investasi sekaligus untuk Amar Link Maksima
  • (-) Hanya terbatas pada manfaat asuransi jiwa dan asuransi pendidikan syariah saja. Jadi, tidak ada manfaat asuransi kesehatan sekaligus dalam kedua polis

  • Santunan meninggal dunia sesuai dengan UP dan dana investasi
  • Jika nasabah masih hidup hingga akhir masa polis, maka akan diberikan dana investasi
  • Jika polis terhenti sebelum masa berakhirnya, nasabah tetap akan mendapat dana investasi peserta jika ada
  • Nasabah dapat melakukan top up untuk meningkatkan nilai investasi kapanpun dengan minimal Rp1 juta
 

Prinsip dan Hukum Asuransi Syariah 

Asuransi syariah adalah proteksi finansial yang diberikan kepada nasabah jika mengalami risiko meninggal dunia, kesehatan, kerugian aset, hingga kecelakaan diri. Jadi, secara garis besar mekanisme asuransi syariah serupa dengan asuransi konvensional.

Hanya saja, sistem asuransi syariah atau pengelolaan dananya mengikuti prinsip syariat Islam, yaitu menggunakan akad tolong-menolong. Hukum asuransi syariah yang mengatur prinsip tersebut adalah Fatwa DSN MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Selain oleh Dewan Pengawas Syariah (DSN), kegiatan operasional perusahaan asuransi berbasis syariah juga memiliki payung hukum berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2010 tentang Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah. 

Akad Asuransi Syariah

Akad atau perjanjian dalam asuransi syariah juga telah ditetapkan sesuai prinsip syariat Islam. Akad ini menjadi poin pertama dalam asuransi syariah yaitu tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat untuk menghadapi risiko nasabah asuransi.

Terdapat tiga akad asuransi syariah yaitu:

  • Akad Tijarah yaitu semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  • Akad Tabarru’ yaitu semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  • Akad Wakalah bil Ujrah yang memberikan wewenang kepada penyedia asuransi dalam mengelola dana proteksi atau investasi milik nasabah.

Mekanisme Asuransi Syariah

Cara kerja atau mekanisme asuransi syariah tentu saja mengikuti prinsip asuransi syariah yaitu tolong menolong, sehingga berbeda dengan konvensional yang berpaku pada prinsip jual beli. Lantas, seperti apa prinsip asuransi syariah yang dimaksud? Agar lebih jelas, simak tiga poin berikut ini: 

1. Pengelolaan dana transparan 

Pada dasarnya, perusahaan asuransi syariah hanya membantu atas pengelolaan dana yang dibayarkan oleh nasabah. Artinya dana tersebut sepenuhnya adalah milik nasabah dan perusahaan tidak mendapatkan imbalan di dalamnya. Sementara dana asuransi konvensional yang dibayarkan adalah milik perusahaan. Artinya, nasabah hanya mendapatkan dana atau plafon yang telah disepakati bersama pada perjanjian polis awal.  Jadi, perbedaan asuransi syariah dan konvensional ada pada pengelolaan dananya.

2. Dana polis dibagi rata 

Karena prinsip asuransi syariah adalah tolong menolong, maka dana polis yang terkumpul akan dibagi rata kepada seluruh anggota peserta asuransi. Karena itu premi yang dibayarkan disebut sebagai dana kontribusi. Dana kontribusi atau premi yang dibayarkan secara rutin, baik bulanan maupun tahunan, akan disisihkan sebagai dana tabarru. Dana inilah yang kemudian digunakan oleh perusahaan asuransi syariah untuk membantu peserta asuransi yang membutuhkan pertolongan klaim. 

3. Kemudahan penutupan polis 

Apabila di tengah masa polis berjalan nasabah tidak mampu membayarkan dana kontribusi atau premi karena alasan tertentu yang tertulis dalam polis. Maka berhak mengajukan penutupan polis dan mendapatkan dana kontribusi yang telah dibayarkan sepenuhnya. Sementara jika asuransi konvensional, apabila tidak mampu bayar premi, maka premi yang telah dibayarkan tidak akan dikembalikan atau hangus. 

Jenis Produk Asuransi Syariah di Indonesia

Produk yang tersedia berbasis syariat beragam, disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Pada dasarnya hanya ada dua jenis, yaitu asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Berikut ini asuransi berbasis asuransi syariah yang ada di Indonesia.

1. Asuransi Jiwa Syariah

Asuransi jiwa syariah merupakan proteksi atas kehilangan pendapatan atau finansial akibat ketidakmampuan atau meninggalnya seseorang. Asuransi jiwa ini bakal memberikan santunan meninggal dunia atau cacat tetap total kepada ahli waris atau keluarga.

Asuransi jiwa syariah yang dikelola sesuai prinsip Islam ini juga bisa menjadi asuransi pendidikan bagi Anda yang sudah berkeluarga. Sebagai asuransi pendidikan syariah, dana pendidikan bakal diberikan bertahap, sesuai jenjang pendidikan buah hati.

Berikut ini rekomendasi asuransi jiwa syariah terbaik: 

Allianz Tasbih adalah salah satu polis asuransi Allianz syariah yang berfokus pada manfaat asuransi jiwa serta tabungan haji. Untuk manfaat asuransi jiwa syariah yang diberikan mencakup santunan meninggal dunia akibat sakit atau kecelakaan sebesar 100 persen dari UP, santunan meninggal dunia saat melakukan perjalanan haji atau umrah sebesar 200 persen dari UP, dan tabungan dana

Manfaat tabungan Allianz Tasbih ini cukup menarik, di mana nasabah hanya perlu menabung dana kontribusi selama jangka waktu yang telah ditentukan tanpa perlu mencapai target dana tahap haji yang diinginkan.

BLife Ekawarsa Syariah merupakan salah satu polis asuransi jiwa syariah yang dihadirkan oleh BNI Life. Keunggulan dari BLife Ekawarsa Syariah ini adalah memberikan manfaat berupa santunan meninggal dunia baik akibat sakit maupun kecelakaan. Selain itu polis ini juga menanggung nasabah usia 17 hingga 60 tahun.

Adapun manfaat dasar yang diberikan mencakup santunan meninggal dunia 100 persen dari UP akibat sakit maupun kecelakaan. Hanya saja, masa pembayaran premi atau kontribusi dilakukan sekali bayar atau single premi. Sehingga tidak dapat diangsur seperti pilihan polis-polis sebelumnya.

BNI Tapenas iB Hasanah adalah produk asuransi jiwa yang dihadirkan oleh perusahaan perbankan BNI Syariah untuk nasabahnya. Produk asuransi jiwa syariah ini cukup banyak dicari orang, sebab memberikan manfaat tabungan bni syariah yang langsung tercover di asuransi jiwa. Artinya dengan melakukan tabungan berjangka, nasabah sudah akan langsung mendapatkan manfaat asuransi jiwa.

Cara kerjanya pun sederhana, di mana nasabah harus melakukan setoran awal sebesar minimum Rp100 ribu, kemudian melakukan top up bulanan minimal Rp100 ribu hingga Rp5 juta hingga periode tabungan yang telah ditentukan, misal lima tahun. Maka di tahun kelima tabungan Anda akan terkumpul dan bisa mendapatkan manfaat asuransi jiwa syariah sekaligus.

PRUCinta merupakan salah satu polis asuransi jiwa syariah unggulan yang dihadirkan oleh Prudential. Asuransi syariah Prudential ini cukup banyak dicari orang, sebab selain memiliki premi atau dana kontribusi yang murah yaitu mulai dari Rp300 ribu per bulan, PRUCinta juga memberikan manfaat asuransi lengkap. Di antaranya adalah santunan meninggal dunia dalam bentuk nilai tunai sebesar 100 persen UP dan jika akibat kecelakaan maka diberikan 300 persen dari UP. Terdapat juga manfaat loyalty bonus yang diberikan jika tertanggung masih hidup hingga masa polis berakhir.

Keunggulan lainnya, santunan meninggal dunia akibat kecelakaan saat mudik atau balik lebaran sangatlah tinggi yaitu mencapai 400 persen dari UP. Nilai tunai santunan meninggal dunia ini akan diberikan jika tertanggung berusia di bawah 70 tahun dan terjadi tidak lebih dari enam bulan setelah Ramadhan.

2. Asuransi Kesehatan Syariah

Asuransi kesehatan berbasis syariah berarti produk asuransi yang memberikan ganti rugi atau jaminan atas biaya perawatan atau pengobatan di rumah sakit dengan prinsip sesuai syariat Islam. Temukan pilihan terbaik dari perusahaan asuransi syariah berikut ini.

Allisya Care merupakan polis unggulan kesehatan syariah dari Allianz. Asuransi Allianz Syariah ini terbagi menjadi delapan plan asuransi dengan besaran premi dan plafon berbeda-beda. Dengan delapan pilihan tersebut, calon nasabah dapat lebih mudah menyesuaikannya dengan kebutuhan dan anggaran.

Asuransi kesehatan syariah dari Allianz ini memberikan manfaat dasar yang sangat lengkap, bahkan unggul jika dibandingkan dengan polis-polis lainnya. Sebab, manfaat dasar yang ditanggung mencakup rawat inap, rawat jalan, melahirkan, rawat gigi, dan santunan tunai. Terdapat juga manfaat santunan meninggal dunia yang diberikan baik akibat sakit maupun kecelakaan. Sehingga, nasabah bisa mendapatkan manfaat asuransi kesehatan, melahirkan, rawat jalan, gigi, bahkan jiwa dalam satu polis Allisya Care

Takafulink Al-Khairat Plus merupakan salah satu polis unggulan asuransi syariah Takaful. Asuransi syariah ini memiliki manfaat dasar berupa asuransi jiwa. Namun, proteksi asuransi kesehatan yang bersifat sebagai juga tidak kalah menarik sebab memberikan penggantian biaya atas rawat inap dan rawat jalan sekaligus.

Asuransi syariah Takaful memberikan manfaat dasar berupa santunan meninggal dunia baik akibat sakit maupun kecelakaan. Selain itu, ada juga manfaat tambahan asuransi kesehatan syariah yang menanggung peserta utama, pasangan, dan dua orang anak. Manfaat tambahan tersebut mencakup pertanggungan biaya rawat inap dan rawat jalan. Sayangnya, informasi terkait polis ini sangat terbatas dalam situs resmi Takaful Keluarga.

Takafulink Al-Khairat Plus merupakan salah satu polis unggulan asuransi syariah Takaful. Asuransi syariah ini memiliki manfaat dasar berupa asuransi jiwa. Namun, proteksi asuransi kesehatan yang bersifat sebagai juga tidak kalah menarik sebab memberikan penggantian biaya atas rawat inap dan rawat jalan sekaligus.

Asuransi syariah Takaful memberikan manfaat dasar berupa santunan meninggal dunia baik akibat sakit maupun kecelakaan. Selain itu, ada juga manfaat tambahan asuransi kesehatan syariah yang menanggung peserta utama, pasangan, dan dua orang anak. Manfaat tambahan tersebut mencakup pertanggungan biaya rawat inap dan rawat jalan. Sayangnya, informasi terkait polis ini sangat terbatas dalam situs resmi Takaful Keluarga.

3. Asuransi Umum Syariah

Pada dasarnya memberikan perlindungan terhadap risiko kerugian finansial yang ditimbulkan akibat kejadian yang tidak terduga. Objek yang dijaminkan ganti ruginya adalah objek benda berupa aset berharga seperti rumah, kantor, tempat usaha, gedung, kendaraan bermotor, ekspedisi, hingga proyek bangunan tertentu.

Dari kategori di atas, asuransi mobil syariah cukup banyak dicari orang, sebab asuransi mobil memberikan proteksi finansial atas risiko mobil rusak akibat banjir atau kecelakaan. Mengingat risiko banjir dan kecelakaan di Indonesia cukup tinggi, karena itu jenis asuransi ini sangat penting untuk dimiliki setiap pemilik kendaraan. 

Berikut ini rekomendasi asuransi mobil syariah terbaik: 

Garda Oto Syariah merupakan polis asuransi mobil yang dihadirkan oleh Astra Buana. Polis asuransi ini cukup populer dalam industri asuransi mobil syariah di Indonesia. Asuransi mobil astra buana ini memiliki manfaat yang cukup lengkap yaitu pilihan proteksi comprehensive (all risk) atau total loss only (TLO).

Polis ini memberikan Anda pilihan asuransi comprehensive (all risk) atau total loss only (TLO). Anda yang punya mobilitas tinggi sebaiknya memilih all risk karena menanggung semua risiko mulai dari lecet, penyok, hingga kerusakan berat akibat kecelakaan.Bagi nasabah yang jarang beraktivitas dengan kendaraan pribadi setiap harinya dapat memilih TLO. TLO ini bakal kasih jaminan ganti rugi untuk kehilangan kendaraan atau kerusakan lebih dari 75 persen.

Takaful Kendaraan Bermotor Standar adalah produk asuransi syariah dari Takaful Umum yang menanggung objek diasuransikan kendaraan non bus/ non truk, bus, truk, pick-up, dan sepeda motor yang penggunaannya bukan untuk komersil. Artinya, tidak menanggung jenis mobil yang disewakan dan yang bersifat komersil lainnya.

Produk asuransi mobil yang ditawarkan yaitu asuransi kendaraan bermotor all risk dan asuransi TLO. Sementara untuk risiko yang dijamin oleh Takaful Kendaraan Bermotor Standar adalah tabrakan, benturan, tergelincir, perbuatan jahat orang lain, kebakaran akibat petir, dan biaya derek

Ilustrasi Kasus atau Contoh Asuransi Syariah 

Bapak Moga berusia 30 tahun sebagai nasabah produk asuransi syariah Prudential, yaitu PRUCinta dengan profil seperti berikut: 

  • Premi atau dana kontribusi: Rp80.080.000 per tahun. 
  • Masa polis asuransi: 20 tahun 
  • Santunan limit polis: Rp1 miliar

Jika Bapak Moga mengalami risiko: 

  • Meninggal dunia karena kecelakaan sebelum usia 70 tahun maka berhak mendapatkan 3x dari santunan limit polis yaitu Rp3 miliar
  • Meninggal dunia karena kecelakaan sebelum usia 70 tahun pada periode Ramadhan maka berhak mendapatkan 4x dari santunan limit polis yaitu Rp4 miliar

Ilustrasi tadi merupakan contoh kasus asuransi jiwa syariah dari Prudential. Contoh asuransi syariah kasus lainnya dapat disesuaikan dengan jenis dan perusahaan asuransi syariah yang dipilih. 

Dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa pada produk berbasis syariah biasanya terdapat beberapa manfaat “eksklusif” yang bahkan tidak dimiliki oleh produk asuransi konvensional.

Kesimpulan 

Asuransi syariah memang masih memiliki market yang terbatas, apalagi kesadaran masyarakat dalam membeli asuransi masih rendah. Namun demikian, ada beberapa kelebihan yang tidak dimiliki konvensional. Berikut adalah ulasan kelebihan dan kekurangan dari asuransi syariah. 

  • Bagi hasil lebih tinggi daripada konvensional. Bahkan nasabah bisa mendapatkan bagi hasil lebih besar hingga 70 persen dari modal yang diinvestasikan pada instrumen halal dan sesuai dengan prinsip syariat.
  • Perusahaan dapat mengembalikan kontribusi saat nasabah berhenti atau sudah melunasi kontrak sesuai dengan jatuh temponya. Singkatnya kontribusi tidak akan hangus dan bisa dihibahkan atau diambil.
  • Dana yang dikumpulkan oleh perusahaan dapat diberikan kepada nasabah yang terkena musibah sebagai dana abadi yang ditujukan untuk memberikan proteksi kepada seluruh nasabah saat terjadi hal yang tidak diinginkan.
  • Bersifat terbuka dan transparan sehingga instrumen investasi pun benar-benar diketahui alirannya agar dipastikan aman dan sesuai dengan prinsip syariat.
  • Prinsip bagi hasil artinya sama-sama untung. Pada saat mengalami kerugian pun tidak sepenuhnya hanya dibebankan kepada nasabah tetapi juga perusahaan ikut menanggungnya.
  • Ada pengawasan ketat dari DPS sehingga semua keputusan perusahaan benar-benar dipastikan kehalalannya.
  • Produknya tidak terbatas hanya untuk salah satu agama atau golongan saja. Jadi, terbuka untuk siapapun dan bersifat netral seperti konvensional.
  • Bisa dobel klaim untuk rawat inap sesuai dengan ketentuan yang ada di dalam kontrak atau polis.
  • Dalam kategori ini terdapat istilah surplus underwriting yaitu selisih lebih dari total kontribusi nasabah dalam dana tabarru’ setelah dikurangi pembayaran santunan/klaim, kontribusi reasuransi, dan cadangan teknis dalam satu periode. Secara sederhana, surplus underwriting dijelaskan sebagai tidak adanya klaim atau hanya sedikit klaim yang dilakukan nasabah dalam periode tertentu yang menghadirkan kelebihan dana. Sesuai prinsip syariat, kelebihan ini akan dibagikan kepada sesama nasabah dan disebut surplus underwriting.

  • Keberagaman polis terbatas jika dibandingkan konvensional.
  • Nasabah tidak bisa mendapatkan keuntungan lebih besar karena instrumen investasi terbatas hanya pada jenis yang aman dan halal mengikuti prinsip syariat.
  • Instrumen investasi benar-benar dipastikan dalam koridor agama yang juga diawasi oleh DPS sehingga secara ekonomi akan sulit menyaingi konvensional.

Selain menimbang kelebihan dan kekurangan di atas, calon nasabah juga perlu teliti dalam memilih asuransi syariah yang bagus. Salah satunya adalah perhatikan laporan keuangan asuransi syariah yang dipilih yang akan dibahas pada poin tips dan pertanyaan tentang asuransi syariah di tab selanjutnya.

 

Tips dan Pertanyaan tentang Asuransi Syariah

Berikut ini beberapa pengertian asuransi syariah dari beberapa sumber, termasuk UU No.40 Tahun 2014.

  1. Wahbah az-Zuhaili

Dikutip dari buku Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, Az-Zuhaili mendefinisikan asuransi dalam dua bentuk yaitu at-ta’min at-ta’awuni dan at-ta’min bi qist sa’bit.

At-ta’min at-ta’awuni berarti asuransi tolong-menolong. Secara lengkap, asuransi syariah adalah kesepakatan sejumlah orang untuk membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi ketika salah seorang di antara mereka mendapat kemudharatan atau kesusahan.

At-ta’min bi qist sabit berarti asuransi dengan pembagian tetap. Secara lengkap artinya akad asuransi syariah yang mewajibkan seseorang membayar sejumlah uang kepada pihak asuransi yang terdiri atas beberapa pemegang saham dengan perjanjian apabila peserta asuransi mendapat kecelakaan atau musibah, maka diberikan ganti rugi.

  1. Pemahaman Alim Ulama

Asuransi yang dipahami oleh para ulama adalah sebuah sistem ta’awun dan tadhamun yang bertujuan menutupi kerugian peristiwa-peristiwa atau musibah-musibah. Tugas ini dibagikan kepada kelompok tertanggung, dengan cara memberikan pengganti kepada orang yang tertimpa musibah. Pengganti tersebut diambil dari kumpulan premi-premi mereka.

  1. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

Lembaga Islam di Indonesia ini mengeluarkan fatwa No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman umum asuransi syariah, dan mendefinisikan asuransi sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong antara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

  1. UU No. 40 Tahun 2014

Asuransi syariah adalah kumpulan perjanjian yang terdiri atas perjanjian antara perusahaan asuransi syariah, pemegang polis, dan perjanjian antara para pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi atas risiko atau musibah yang menimpa pemegang polis.

Berdasarkan fatwa MUI Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, produk ini dinyatakan halal selama memenuhi semua persyaratan dan ketentuan umum yang dicantumkan dalam fatwa. Artinya, asuransi syariah halal dan asuransi syariah bukan termasuk riba selama memenuhi ketentuan umum yaitu:

  • Asuransi Syariah (Ta-min, Takaful, atau Tadhamun) sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau dana yang memberikan pola pengembalian berupa klaim untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai syariat.
  • Akad yang sesuai dengan syariat dalam poin pertama adalah tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat untuk menghadapi risiko nasabah asuransi.
  • Akad tijarah yaitu semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  • Akad tabarru’ yaitu semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  • Premi yaitu kewajiban peserta memberikan sejumlah dana kepada perusahaan sesuai kesepakatan dalam akad.
  • Klaim adalah hak peserta yang wajib diberikan kepada perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad.

Asuransi syariah memiliki sejumlah perbedaan dengan asuransi konvensional. Sebagian besar terletak pada prinsip pengelolaan dana, pihak pengawas, dan sektor industri investasi. Berikut ini contoh tabel perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang dapat disimak: 

Asuransi Syariah Asuransi Konvensional
Memakai akad asuransi syariah hibah dengan konsep saling menolong, sama-sama tidak mengharap imbalan Mirip transaksi jual-beli, sama-sama berharap bisa ambil untung sebesarnya dan rugi sekecilnya
Dana dimiliki semua peserta asuransi. Perusahaan hanya menjadi pengelola dana dan tidak punya hak memiliki Dana premi yang dibayarkan jadi milik perusahaan karena konsepnya jual-beli, sehingga bebas dipakai buat apapun asal sesuai perjanjian
Dana semaksimal mungkin diolah untuk keuntungan peserta asuransi. Pengelolaannya lebih transparan Perusahaan secara sepihak menetapkan premi dan biaya lain, misalnya administrasi, untuk mendapat keuntungan
Keuntungan yang didapat dari pengelolaan dana asuransi dibagi ke semua peserta dan perusahaan asuransi secara merata Keuntungan dari kegiatan asuransi sepenuhnya jadi milik perusahaan
Peserta wajib membayar zakat yang diambil dari jumlah keuntungan perusahaan Tidak ada
Ada DPS di tiap perusahaan untuk mengawasi ketaatan menjalani prinsip syariat. Pengawasan dana dilakukan secara internal oleh manajemen, tidak ada pihak luar yang dilibatkan
Dana yang disetor peserta bisa diambil kalau dalam perjalanannya tidak sanggup melanjutkan pembayaran. Hanya ada potongan kecil berupa dana tabarru’ Jika tidak sanggup bayar premi, seluruh dana yang sudah disetor statusnya hangus alias jadi milik perusahaan
Dana unit link hanya boleh diinvestasikan ke sektor yang dinilai tidak haram. Dana bebas diinvestasikan ke bidang mana pun, asal berpotensi untung

Dalam mengelola asuransi syariah, perusahaan asuransi akan menetapkan sejumlah biaya (ujrah) yang disepakati oleh semua pihak pada awal kontrak/ ­akad. Sementara, jika kita bicara tentang asuransi jiwa unit link syariah, sebagian dana peserta yang dialokasikan untuk investasi akan dimasukkan dalam instrumen investasi syariah yang pasti dijamin kehalalannya.

Untuk pemilihan saham misalnya, saham yang dipilih adalah saham perusahaan yang bisnisnya tidak berkaitan dengan perjudian, minuman beralkohol, atau sesuatu yang mengandung riba (bunga), seperti perbankan konvensional. Belum lagi, untuk pengesahan setiap produk syariah harus melalui uji dan persetujuan dari Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Dengan ketatnya pemilihan produk investasi, sistem kerja yang lebih terbuka, dan juga pengawasannya, bisa dipastikan produk asuransi syariah terjamin kehalalannya

Di tengah pandemi Covid-19 yang disebabkan virus corona, sejumlah asuransi jiwa dan kesehatan memberikan jaminan bagi nasabah yang terkena Covid-19. Anda yang mau berjaga-jaga di situasi saat ini bisa memilih beberapa perusahaan asuransi yang telah menjamin biaya perawatan hingga santunan tunai jika nasabah positif Covid-19.

Berbeda dengan asuransi konvensional, asuransi syariah menggunakan prinsip berbagi risiko (risk sharing) antarpeserta. Dengan kata lain, antara Anda dan peserta asuransi syariah lain memiliki keterikatan dalam hal tolong-menolong (ta’awun) menanggung beban risiko.

 Sementara, perusahaan hanya bertindak sebagai pengelola dana yang masuk dari peserta. Dalam bahasa yang lebih sederhana, setiap dana yang disetorkan peserta akan dikumpulkan ke wadah dana tabarru’ oleh perusahaan asuransi sebagai pengelola dana.

Dana tersebut kemudian akan digunakan untuk memberikan manfaat ketika salah satu peserta terkena risiko, seperti sakit, kecelakaan, cacat, meninggal.

Jika bicara tentang asuransi jiwa unit link syariah, sebagian dana peserta yang dialokasikan untuk investasi akan dimasukkan dalam instrumen investasi syariah yang pasti dijamin kehalalannya.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi salah satu pasar besar bagi industri jasa keuangan berunsur syariat, termasuk proteksi. Namun, untuk diterima Muslim Indonesia cukup sulit. Kenapa? Karena polemik seperti penjelasan sebelumnya mengenai riba dan haram dalam kategori tersebut.

Sebagian orang berpendapat bahwa memiliki asuransi baik jiwa, kesehatan, ataupun umum (kerugian), berarti menjaminkan keselamatan kepada perusahaan dan tidak memercayai Tuhan. Karena itu, proteksi ini masih diragukan sebagian Muslim Indonesia.

Dalam sejarah asuransi syariah guna melihat polemik dan keraguan atas kehalalan tersebut, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) mengeluarkan keputusan/nasihat yang disebut fatwa. Melalui fatwa Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, perusahaan asuransi ganti rugi prinsip syariah ini dinyatakan halal selama memenuhi semua persyaratan dan ketentuan umum yang dicantumkan dalam fatwa.

Sementara itu, pengamat ekonomi syariat M Syakir mengakui beberapa kalangan masih menilai proteksi syariat ini haram. Dia menilai, kalangan yang beranggapan demikian hanya menggunakan referensi jadul, sehingga tidak mengikuti perubahan.

Syakir menuturkan, konsep syariat terdiri atas sekumpulan orang yang ingin saling membantu, saling melindungi, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara mengumpulkan dana. Berdasarkan konsep tersebut, Syakir percaya bahwa polis yang telah memenuhi fatwa MUI tidak haram ataupun mengandung unsur riba.

Terlepas dari polemik haram-halal, tujuh tahun sebelum fatwa diterbitkan, tonggak sejarah asuransi syariah hadri di Indonesia telah dimulai melalui pendirian PT Syarikat Takaful Indonesia (Asuransi Takaful), tepatnya pada 24 Februari 1994. Takaful menjadi perusahaan asuransi syariat pertama di Tanah Air.

Sejak itu, perusahaan konvensional mulai melirik produk ini karena pangsa pasar yang begitu luas. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Katadata, terdapat 263,92 juta jiwa penduduk Indonesia beragama Islam pada 2020. Tentunya, jumlah ini bukan nominal sedikit jika membandingkan dengan masyarakat Indonesia yang telah terproteksi tidak sampai 2 persen berdasarkan informasi Kompas pada 2018.

Dasar hukum asuransi syariah tercatat dalam hadis dan ayat dalam Al Quran, yaitu:

  • Al Maidah 2: “Dan tolong-menolonglah Anda dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
  • An Nisaa 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka.”
  • HR Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat.”

Dasar hukum asuransi syariah justru hadir sebagai solusi dari anggapan bahwa esensi asuransi bertentangan dengan syariat agama dan prinsip-prinsip di dalam agama itu sendiri. Itu sebabnya mulai 2001, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa asuransi syariah secara sah diperbolehkan dalam ajaran Islam.

Beberapa fatwa MUI yang mempertegas kehalalan asuransi syariah adalah:

  • Fatwa No 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
  • Fatwa No 51/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah pada Asuransi Syariah
  • Fatwa No 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah Bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah
  • Fatwa No 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru pada Asuransi Syariah.

Asuransi syariah juga sudah diatur operasional dan keberadaannya melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2010 tentang Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah.

Adapun beberapa ketegasan dasar hukum asuransi syariah dari Pemerintah ini bisa dilihat di BAB I, Pasal I nomor 1 hingga 3, yaitu:

  • Pasal 1 Nomor 1: Asuransi berdasarkan prinsip Syariah adalah usaha saling tolong-menolong (ta’awuni) dan melindungi (takafuli) di antara para nasabah melalui pembentukan kumpulan dana (tabbaru’) yang dikelola dengan prinsip syariah untuk menghadapi risiko tertentu.
  • Pasal 1 Nomor 2: Perusahaan adalah perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang menyelenggarakan seluruh atau sebagian usahanya berdasarkan prinsip syariah.
  • Pasal 1 Nomor 3: Nasabah adalah orang atau badan yang menjadi nasabah program asuransi dengan prinsip Syariah, atau perusahaan asuransi yang menjadi nasabah reasuransi dengan prinsip syariah.

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 72/POJK.05/2016, tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi syariah minimum rasio solvabilitas atau RBC dalam laporan keuangan asuransi syariah adalah 120 persen. Artinya, jika Anda melihat laporan tahunan asurasni syariah rasio RBC nya berada di bawah 120 persen, maka kesehatan keuangan perusahaan tersebut dinyatakan kurang sehat.

Ada beberapa istilah dalam produk jaminan berbasis syariat ini. Tentu istilah berikut tidak terlepas dari Bahasa Arab sehingga perlu dijelaskan maknanya agar bisa dipahami oleh semua peserta atau penerima manfaat.

  • Akad adalah perjanjian antara dua belah pihak yang mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing yang bersifat mengikat dan memiliki konsekuensi hukum jika tidak dijalankan atau dilanggar. Akad dilakukan antara penerima manfaat (peserta) dan perusahaan.
  • Akad mudharabah adalah perjanjian antara pihak pertama sebagai pemilik modal (shahibul maal) kemudian mempercayakan modal tersebut untuk dikelola oleh pihak kedua (mudharib) dengan perjanjian di awal. Modal sepenuhnya berasal dari pihak pertama sedangkan pihak kedua tidak menanamkan modal sama sekali hanya mengandalkan keahlian yang tidak dimiliki oleh pihak pertama.
  • Akad musyarakah adalah perjanjian antara pihak pertama dengan pihak kedua dengan modal yang berasal dari kedua belah pihak dengan perjanjian pembagian keuntungan atau kerugian berdasarkan seberapa besar porsi kontribusinya.
  • Akad mudharabah musytarakah adalah gabungan antara akad mudharabah dan musyarakah di mana modal berasal dari satu pemilik modal. Perbedaannya adalah kerugian yang terjadi hanya ditanggung oleh pemilik modal. Namun jika dalam perjalanan waktu bisnis yang dijalankan menguntungkan maka, pengelola boleh menambah modal untuk mengembangkan usahanya dengan perjanjian keuntungan berdasarkan porsi kontribusi yang diberikan. 
  • Akad tijarah adalah perjanjian yang dilakukan untuk kepentingan mencari keuntungan.
  • Akad tabarru’ adalah perjanjian hibah dalam bentuk pemberian dana dari peserta dengan tujuan untuk tolong menolong sesama dan tidak digunakan untuk tujuan investasi. Kumpulan dana dari para peserta asuransi ini dikumpulkan dalam satu rekening yang disebut dengan dana tabarru’
  • Wakalah bil ujrah adalah biaya administrasi pengelolaan dana yang dibebankan kepada peserta oleh pengelola (perusahaan). Pengelola tidak berhak mendapatkan bagian dari dana yang diinvestasikan jika menggunakan akad ini.
  • Kontribusi adalah istilah dalam proteksi syariat yang digunakan untuk menggantikan istilah premi peserta.
  • Qardh adalah pinjaman pengelola (perusahaan) dengan menggunakan dana tabarru’ saat terjadi defisit ketika ingin membayarkan santunan (klaim). Dana qard akan dikembalikan lagi oleh pengelola jika mengalami surplus dalam perhitungan underwriting di lain waktu.
  • Iuran tabarru’ adalah sebagian dana yang diambil dari kontribusi peserta asuransi. Dana ini nantinya digunakan untuk saling tolong menolong antar peserta asuransi yang mendapatkan musibah yang tidak diinginkan.