• Promo Page home copy 6
Cicilan 0%
Hemat 25%

Asuransi Syariah

  • Diskon Terbaik
  • 500+ Pilihan
  • Bantuan Klaim
Dengan lanjut, Saya setuju syarat & ketentuan berlaku.

Asuransi Syariah Terbaik di Indonesia 2021

Secara definisi, Asuransi syariah adalah produk asuransi di mana nasabah saling menanggung risiko (sharingrisk) dengan menghibahkan sebagian dana kontribusi (premi) sebagai alat untuk menolong nasabah lain yang sedang tertimpa musibah. Sementara, peran pihak asuransi di sini adalah sebagai pemegang amanah dan pengelola dana kontribusi saja.

Untuk produknya sendiri asuransi ini terdiri atas asuransi jiwa syariah, asuransi kesehatan syariah, dan asuransi umum (kerugian). Berikut rekomendasi asuransi syariah terbaik di Indonesia pilihan Lifepal.

Pengertian Asuransi Syariah

Asuransi syariah adalah asuransi yang dikelola sesuai syariat Islam dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). Di Indonesia, produk asuransi ini terdiri atas asuransi jiwa, kesehatan, dan umum (kerugian). Berikut beberapa pengertian dari para ahli dan Undang-Undang:

Manfaat Asuransi Syariah

Manfaat asuransi syariah serupa dengan asuransi konvensional. Salah satu manfaat asuransi syariah yang berbeda dari asuransi konvensional adalah kepastian perolehan surplus underwriting.

Surplus underwriting adalah selisih dari total dana kontribusi (premi) yang dibayar pemegang polis dan diberikan kepada pemegang polis dalam bentuk dana tabarru’.

Tertarik mendapatkan manfaat di atas? Lifepal telah mengkurasi ratusan asuransi syariah tanpa riba terbaik. Yuk bandingkan!

Manfaat Menggunakan Asuransi Syariah

Selain manfaat di atas, berikut beberapa manfaat asuransi syariah:

Klaim Asuransi Syariah

Klaim asuransi syariah sebenarnya hampir sama dengan asuransi konvensional. Pada asuransi syariah, sejak akad (perjanjian awal asuransi) pemegang polis telah diberitahukan mengenai sumber dana klaim yaitu dana tabarru’ yang merupakan kumpulan kontribusi (premi) para peserta asuransi.

Klaim adalah hak semua peserta yang tertimpa musibah. Itu sebabnya, wajib bagi pengelola melakukan proses klaim secara cepat dan tepat. Hal ini dijelaskan dalam Fatwa MUI Nomor 20/DSN-MUI/IX/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah terkait klaim adalah sebagai berikut:

  • Klaim dibayarkan berdasarkan akad yang disepakati pada awal perjanjian
  • Klaim dapat berbeda dalam jumlah, sesuai dengan premi yang dibayarkan
  • Klaim atas akad tija’rah sepenuhnya merupakan hak peserta, dan merupakan kewajiban perusahaan untuk memenuhinya
  • Klaim atas akad tabarru’ merupakan hak peserta dan merupakan kewajiban perusahaan, sebatas yang disepakati dalam akad

Jenis Klaim Asuransi Syariah

Berdasarkan Fatwa MUI di atas, terdapat empat jenis klaim dalam asuransi syariah. Berikut penjelasan singkat mengenai jenis klaim asuransi syariah!

Hukum Asuransi Syariah

Hukum asuransi syariah di Indonesia terdiri atas empat dasar, yaitu Al Quran, hadits, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Sistem asuransi syariah atau pengelolaan dananya mengikuti prinsip syariat Islam, yaitu menggunakan akad tolong-menolong.

Tertarik mencari asuransi syariah yang bagus? Lifepal telah mengkurasi ratusan asuransi tanpa riba terbaik. Yuk bandingkan!

Dasar Hukum Asuransi Syariah

Berikut ini dasar hukum asuransi syariah di Indonesia:

Prinsip Asuransi Syariah

Prinsip asuransi syariah menjadi dasar operasional dan pengelolaan dana nasabah. Berikut adalah prinsip asuransi syariah yang tidak merugikan nasabah maupun perusahaan asuransi berdasarkan hukum asuransi syariah.

1. Unsur tolong-menolong

Prinsip asuransi syariah yang pertama adalah tolong-menolong. Dalam asuransi syariah terdapat dana tabarru’ yang merupakan dana kumpulan para peserta.

Dana yang dibayarkan peserta sebagai kontribusi (premi) ini bisa “dipinjamkan” ke peserta lain yang sedang membutuhkan. Dalam arti “pinjaman” ini sebagai klaim yang diperoleh peserta tersebut.

2. Dana tidak hangus

Prinsip asuransi syariah selanjutnya adalah dana tidak hangus. Dana di sini adalah premi yang dibayarkan setiap bulan, setiap 3 bulan, setiap tahun, atau yang dibayarkan sekaligus (single premi).

Pada asuransi konvensional, dana bisa hangus meski tidak ada klaim. Kecuali, terdapat fasilitas tertentu seperti no claim bonus. Bahkan, pada beberapa asuransi jiwa konvensional, premi yang dibayarkan hangus jika membeli asuransi jiwa seumur hidup dan tertanggung masih hidup hingga usia 99 tahun. Namun, hal ini tidak berlaku pada asuransi syariah. Pengelolaan dana yang didasari pada pembagian risiko dan keuntungan, maka akan ada pengembalian premi.

3. Adanya akad

Akad atau perjanjian dalam asuransi syariah juga telah ditetapkan sesuai prinsip syariat Islam. Akad ini menjadi poin pertama dalam asuransi syariah, yaitu tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat untuk menghadapi risiko nasabah asuransi.

Terdapat tiga akad berdasarkan hukum asuransi syariah yakni:

  • Akad Tijarah yaitu semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  • Akad Tabarru’ yaitu semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  • Akad Wakalah bil Ujrah yang memberikan wewenang kepada penyedia asuransi dalam mengelola dana proteksi atau investasi milik nasabah.

4. Alokasi dana investasi sesuai syariat Islam

Prinsip asuransi syariah berikutnya adalah penempatan dana investasi yang wajib sesuai syariat Islam. Artinya, baik itu investasi peserta unit link ataupun investasi yang dilakukan perusahaan, harus sejalan dengan syariat.

Adapun syarat investasi yang sesuai syariat adalah halal, tidak haram, tidak mengandung unsur riba, dan tidak mengandung unsur penipuan. Sederhananya, tidak boleh melanggar hukum asuransi syariah.

5. Berbagi risiko

Prinsip asuransi syariah maupun konvensional sebenarnya berbagi risiko. Hanya saja, pada asuransi syariah risiko ditanggung bersama oleh semua peserta berdasarkan landasan hukum asuransi syariah.

Risiko ini tidak hanya untuk pembayaran klaim kepada peserta lain. Ada juga risiko kerugian perusahaan yang bisa ditanggung bersama. Begitupun keuntungan, dibagi kepada peserta asuransi. Tidak menjadi keuntungan perusahaan semata.

Jenis Asuransi Syariah yang Ada di Indonesia

Jenis asuransi syariah terdiri atas asuransi jiwa syariah, asuransi kesehatan syariah, dan asuransi umum (kerugian) syariah. Masing-masing jenis asuransi syariah serupa dengan asuransi konvensional.

Perbedaan jenis asuransi syariah dan konvensional terletak pada pengelolaan dananya. Asuransi syariah dikelola sesuai hukum dan prinsip syariat Islam. Berikut ini jenis asuransi berbasis syariah yang ada di Indonesia.

Asuransi Jiwa Syariah

Jenis asuransi syariah yang pertama adalah asuransi jiwa syariah. Produk ini merupakan proteksi atas kehilangan pendapatan atau finansial akibat ketidakmampuan atau meninggalnya seseorang, terutama pencari nafkah utama. Jenis asuransi syariah ini memberikan santunan meninggal dunia atau cacat tetap total kepada ahli waris atau keluarga sesuai prinsip syariah.

Asuransi Kesehatan Syariah

Asuransi kesehatan berbasis syariah adalah produk asuransi yang memberikan ganti rugi atau jaminan atas biaya perawatan atau pengobatan di rumah sakit sesuai syariat Islam. Polis asuransi kesehatan antara lain:

Pertanyaan Seputar Asuransi Syariah

Chat Bantuan