Daftar Perusahaan Asuransi Terkemuka yang Bangkrut

daftar perusahaan asuransi yang bangkrut

Asuransi adalah bisnis yang memiliki nilai risiko tinggi ketimbang jenis usaha lainnya. Begitu kata banyak orang, mengenai besarnya risiko kebangkrutan dalam bisnis asurnsi.

Bagaimana tidak, bisnis asuransi berkutat pada manajemen pengelolaan dana sosial masyarakat. Baik untuk kesehatan, maupun untuk masa tua atau pensiun.

Dana masyarakat itu kemudian diinvestasikan ke dalam sejumlah instrumen, melalui produk perbankan maupun pasar modal.

Lalu apakah bisa investasi itu menjadi penyebab perusahaan asuransi bangkrut? Jawabannya, bisa.

Nah sebelum kita bahas daftar perusahaan asuransi yang pernah berakhir bangkrut, kita pelajari dulu cara mereka menginvestasikan dana perusahaan.

Bagaimana cara perusahaan asuransi menginvestasikan dana masyarakat?

Biasanya, dana kelolaan asuransi itu diinvestasikan pada deposito, reksadana, pasar saham, dan instrumen investasi lainnya di pasar modal. Mari kita bahas satu demi satu.

1. Deposito

Investasi deposito merupakan instrumen yang paling aman dan hampir tanpa risiko. Jika perusahaan investasi menyimpan dananya di bank melalui deposito, maka dana itu dijamin aman. Akan tetapi, nilai hasil pengembangan dana melalui investasi ini sangat rendah.

2. Reksadana

Reksadana merupakan salah satu jenis investasi yang menjadi idola perusahaan asuransi. Sistem investasi di reksadana adalah pihak asuransi menyerahkan dana kepada manajer investasi.

Selanjutnya, fund manager mengelola dana tersebut. Biasanya aset dasar yang digunakan adalah saham atau surat utang, terutama dalam bentuk reksadana terproteksi.

Risiko dalam investasi reksadana memang lebih besar dibandingkan dengan deposito. Namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan investasi langsung pada efek bersifat ekuitas atau saham.

3. Saham

High risk, high return. Itulah semboyan di pasar saham. Risiko besar, namun diimbangi dengan peluang untuk mendapatkan imbal hasil yang cukup besar. Di sini pengelola dana asuransi harus benar-benar jeli dalam memilih portofolio saham.

Jika salah pilih, maka dana yang diinvestasikan bisa menyusut, atau istilahnya ‘nyangkut’. Saham ‘nyangkut’ ini nyatanya telah menelan korban dari beberapa perusahaan asuransi di Indonesia.

Selain jenis investasi, besarnya beban perusahaan asuransi juga bisa menyebabkan kebangkrutan. Beban yang dimaksud adalah besaran klaim asuransi yang diajukan oleh nasabahnya.

Klaim yang besar tanpa diimbangi premi atau dana kelolaan yang mencukupi bisa membuat asuransi bangkrut, terutama asuransi kesehatan.

Daftar perusahaan asuransi yang pernah berakhir bangkrut

Pailit atau kebangkrutan dalam industri asuransi merupakan hal yang biasa. Selama ini sejumlah nama besar asuransi jiwa telah dinyatakan pailit atau bangkrut karena berbagai faktor. Berikut ini beberapa contohnya.

1. Asuransi American International Group (AIG) 

Tentu kita masih ingat kasus Asuransi American International Group (AIG). Bangkrutnya asuransi AIG terjadi pada 2008, menyusul krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat.

Bank Sentral AS akhirnya memberikan dana talangan senilai US$85 miliar untuk menyelamatkan perusahaan itu.

Kala itu, AIG menjadi pemain utama dari produk bernama credit default swaps (CDS), yaitu sebuah instrumen finansial di mana perusahaan-perusahaan di Wall Street mengambil form asuransi pasar ini untuk mengatasi risiko dari gagal bayar obligasinya.

Produk-produk ini kebanyakan berhubungan dengan pasar perumahan AS yang menjadi jantung krisis pada kala itu.

AIG bahkan sudah menghapusbukukan US$25 miliar akibat besarnya gagal bayar dari pembayaran kredit perumahan AS.

2. Asuransi Jiwasraya dan AJB Bumiputera

Di Indonesia, Asuransi Jiwasraya dan AJB Bumiputera masuk ke daftar perusahaan asuransi yang bangkrut di Indonesia.

Jiwasraya tercatat mengalami masalah keuangan karena pembayaran klaim produk saving plan senilai Rp802 miliar yang tertunda sejak Oktober 2018.

Sedangkan AJB Bumiputera mencatatkan defisit lebih dari Rp20 triliun per 31 Desember 2018.

Mau tahu lebih lengkap mengenai produk-produk asuransi dan tips-tips pengelolaan keuangan pribadi dan rumah tangga, konsultasikan saja kepada pakarnya di Tanya Lifepal.

Lalu nasabah harus bagaimana jika perusahaan asuransi bangkrut?

Kita sebagai nasabah tentu tidak bisa tinggal diam jika perusahaan asuransi yang selama ini menanggung risiko keuangan kita tiba-tiba dinyatakan pailit.

Nah, poin-poin berikut bisa kita lakukan sebagai langkah mencegah kita mengalami kerugian lebih banyak.

1. Hak utama

Perlu diketahui, berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian, tepatnya Bab X mengenai Kepailitan dan Likuidasi, Pasal 20 ayat 2 menyatakan bahwa hak pemegang polis atas pembagian harta kekayaan perusahaan asuransi kerugian atau perusahaan asuransi jiwa yang dilikuidasi adalah hak utama.

Dengan kata lain, jika perusahaan asuransi yang produk asuransinya kita beli mengalami pailit atau dilikuidasi, maka kita punya hak utama atas pembagian kekayaan perusahaan asuransi tersebut.

2. Nasabah prioritas

Berdasarkan UU tersebut, dana asuransi atas pembagian kekayaan perusahaan asuransi tersebut harus digunakan terlebih dahulu untuk membayar kita sebagai nasabah, baik secara langsung, melalui pihak tertanggung, atau ahli waris.

3. Pihak ketiga

Perusahaan asuransi memang harus membayar kewajibannya kepada pihak ketiga. Akan tetapi, hal tersebut bisa dilakukan jika ada kelebihan dana setelah perusahaan asuransi membagi kekayaannya kepada nasabah.

Intinya, aman-aman saja, tidak perlu takut ataupun khawatir dengan kebangkrutan asuransi yang kita ikuti karena sewajarnya hak kita masih aman.

Perlu diketahui bahwa terdapat perusahaan yang bisnisnya memberi jaminan kerugian finansial atas sebuah perusahaan asuransi. Perusahaan semacam ini dinamakan perusahaan reasuransi.

Peran perusahaan reasuransi adalah memberi jaminan atas risiko kerugian finansial yang dialami perusahaan asuransi.

Reasuransi berupaya meminimalkan risiko sebuah perusahaan asuransi mengalami kebangkrutan atau pailit.

Jadi, jangan ragu untuk menjadi nasabah asuransi, ya. Jangan sampai uang tabungan dan investasi kita jadi terpaksa diambil untuk menanggung biaya pengobatan di rumah sakit yang mahal sebagaimana perusahaan asuransi yang akan menanggungnya.

Kalau kamu butuh referensi kepada produk asuransi jiwa yang sesuai dengan bujet dan kebutuhanmu, cari tahu saja di sini.

Jadi ternyata perusahaan asuransi yang terkenal sekalipun tetap dihadapkan kepada risiko kerugian yang sama ya.

Lalu bagaimana dengan nasib kita kalau mau beli asuransi? Nah supaya kamu tidak sampai salah pilih, konsultasikan saja kebutuhan asuransimu di Lifepal. Dijamin, kamu bisa dapat pilihan yang paling bagus.

FAQ seputar daftar perusahaan asuransi yang bangkrut

Perusahaan asuransi dapat keuntungan dari mana?

Selain menjual produk pengelolaan keuangan, perusahaan asuransi menginvestasikan sebagian dana perusahaan di pasar modal, seperti:

  1. Deposito
  2. Reksadana
  3. Saham

Kenapa American International Group (AIG) bangkrut?

Bangkrutnya asuransi AIG terjadi pada 2008, menyusul krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat. Bank Sentral AS akhirnya memberikan dana talangan senilai US$85 miliar untuk menyelamatkan perusahaan itu.

Kala itu, AIG menjadi pemain utama dari produk bernama credit default swaps (CDS), yaitu sebuah instrumen finansial di mana perusahaan-perusahaan di Wall Street mengambil form asuransi pasar ini untuk mengatasi risiko dari gagal bayar obligasinya.

Kenapa Jiwasraya dan AJB Bumiputera dinyatakan bangkrut?

Jiwasraya tercatat mengalami masalah keuangan karena pembayaran klaim produk saving plan senilai Rp802 miliar yang tertunda sejak Oktober 2018. Sedangkan AJB Bumiputera mencatatkan defisit lebih dari Rp20 triliun per 31 Desember 2018.

Nasabah bisa apa jika perusahaan asuransinya bangkrut?

Jika suatu perusahaan asuransi mengalami kebangkrutan, nasabahnya bisa lakukan beberapa hal berikut.

  1. Jika perusahaan asuransi yang produk asuransinya kita beli mengalami pailit atau dilikuidasi, maka kita punya hak utama atas pembagian kekayaan perusahaan asuransi tersebut berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 1992 Bab X.
  2. Dana asuransi atas pembagian kekayaan perusahaan asuransi harus digunakan terlebih dahulu untuk membayar kita sebagai nasabah, baik secara langsung, melalui pihak tertanggung, atau ahli waris.
  3. Jika ada kelebihan dana setelah perusahaan asuransi membagi kekayaannya kepada nasabah, perusahaan asuransi harus membayar kewajibannya kepada pihak ketiga.
Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →