Pahami Tipe Rumah Sakit BPJS dan Cara Mendapatkan Rujukan

tipe rumah sakit bpjs

Baru daftar BPJS dan bingung memilih faskes dalam daftar Rumah Sakit BPJS? Atau malah ingin pindah ke faskes lain, tapi masih galau mana yang sebaiknya dipilih? 

Memilih rumah sakit BPJS untuk tujuan pengobatan kita memang gampang-gampang susah. Kadang ada rumah sakit atau klinik yang terdekat dengan kita, tapi ternyata kita tidak diterima di rumah sakit tersebut karena tidak terdaftar dalam faskes I BPJS pribadi. 

Ya, memang memilih rumah sakit BPJS sebaiknya tidak hanya berdasar lokasi, tapi juga perlu tahu layanan yang tersedia, juga tipe rumah sakit atau klinik tersebut. 

Kenapa perlu tahu tipe rumah sakit BPJS?

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/III/2010, rumah sakit di Indonesia dikelompokkan berdasarkan fasilitas dan jenis layanannya. 

Misalnya untuk rumah sakit umum, maka semua jenis penyakit dan semua kategori kesehatan dapat dilayani oleh rumah sakit ini. Beda halnya untuk kelompok rumah sakit khusus yang hanya memberikan pelayanan pada penyakit tertentu semisal Rumah Sakit Kanker, atau kelompok usia semisal rumah sakit anak, atau organ tubuh semisal rumah sakit jantung. 

Pengelompokkan kemudian dibedakan menjadi rumah sakit tipe A, B, C, D, dan E. 

Karena itulah penting bagi kita untuk mengetahui tipe rumah sakit yang ingin kita pilih sebagai tujuan berobat baik pada tingkat pengobatan pertama, kedua, ataupun ketiga. 

Perlu diketahui, tujuan pelayanan kesehatan pada faskes I adalah rawat jalan tingkat pertama; seperti pencegahan penyakit, konsultasi, saran pengobatan pada pasien yang tidak butuh rawat inap, skrining kesehatan, pelayanan kesehatan ibu dan anak. 

Sementara pada faskes II, pelayanan kesehatan yang diberikan sudah spesialistik. Begitu juga dengan tingkat lanjutan, layanan kesehatannya tentu lebih khusus dan lengkap dibanding tingkat II. 

Tujuan pemberian layanan bertingkat ini tidak lain agar pelayanan kesehatan dapat diberikan dengan penyesuaian prioritas kondisi penyakit masing-masing dan merata di seluruh instansi layanan kesehatan yang ditunjuk, jadi tidak menumpuk di satu tempat saja. 

Nah, setelah tahu tujuan layanan masing-masing faskes, sekarang mari kita kenali tipe-tipe rumah sakit untuk memilih rumah sakit BPJS sesuai kebutuhan kita. 

Tipe-tipe rumah sakit rujukan BPJS

Mari kita cari tahu rumah sakit mana saja yang termasuk golongan rumah sakit tipe A hingga tipe E.

1. Rumah sakit tipe A

Rumah sakit tipe A merupakan rumah sakit kesehatan rujukan tertinggi dan termasuk faskes tingkat III. Pelayanan rumah sakit tipe A biasanya sangat lengkap, mulai dari umum, subspesialis, sampai dokter spesialis. 

Berikut beberapa rumah sakit di Indonesia yang termasuk dalam rumah sakit tipe A.

  • RSU Dr H Abdul Moeloek, Bandar Lampung
  • RSU Dr Mohammad Hoesin, Palembang
  • RS Hasan Sadikin, Bandung
  • RS Fatmawati, Jakarta
  • RS Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta
  • RSU Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar
  • RSU Dr Soetomo, Surabaya
  • RS Dr M Jamil,Padang
  • RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta
  • RSU Dr Kariadi, Semarang
  • RSU Ulin, Banjarmasin

2. Rumah sakit tipe B

Rumah sakit tipe ini menyediakan layanan medis spesialis secara meluas dan subspesialistik terbatas. Rumah sakit tipe B biasanya ada di ibukota provinsi dan menjadi rujukan rumah sakit dari tingkat kabupaten. 

Berikut beberapa rumah sakit yang di Indonesia yang termasuk dalam tipe B.

  • RSUD Langsa Aceh
  • RSUD Dr. Fauziah Bireuen Aceh
  • RSUD Dr. Djasemen, Saragih Pematang Siantar
  • RSUD Rantau Prapat Sumatera Utara
  • RSUD H. Hanafie, Jambi
  • RS Jiwa, Bandar Lampung
  • RS Stroke Nasional, Sumatera Barat
  • RSUD dr. H. M. Rabain Muara Enim, Sumatera Selatan
  • RSUD Dr. Ir. Soekarno, Bangka Belitung
  • RSU Jakarta
  • RSU Pasar Rebo, Jakarta
  • RSU Tarakan, Jakarta
  • RS Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta
  • RS Pelni Petamburan, Jakarta
  • RS Sumber Waras, Jakarta
  • RSUD Dr. Soekardjo, Tasikmalaya
  • RSUD Sayang, Cianjur
  • RSUD Sleman, Yogyakarta
  • RSU Dr Soebandi, Jember
  • RSUD Kab. Buleleng, Bali
  • RSUD Kota Mataram
  • RSU Labuang Baji Makassar
  • RSUD Dr. Soedarso, Pontianak
  • RSU Dr Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan
  • RSU Prof Dr Wz Johanes, Kupang
  • RSUD Undata, Palu

3. Rumah sakit tipe C

Rumah sakit ini biasanya yang ditunjuk sebagai rumah sakit faskes II. Rumah sakit ini juga menyediakan pelayanan kesehatan umum, medik spesialis dan subspesialis penunjang, gigi mulut, keperawatan dan kebidanan, klinik dan nonklinik.

Berikut beberapa rumah sakit yang termasuk tipe C.

  • RSUD Kota Tidore, Maluku Utara
  • RSUD Bula, Maluku
  • RSUD Kota Tangerang Selatan
  • RS Kalooran, Sulawesi Utara
  • RSUD Simeulue, Aceh
  • RSUD Curup, Bengkulu
  • RSUD Sukadana, Lampung
  • RSU Wamena
  • RSUD Genteng, Banyuwangi
  • RSUD Dr. R. Soetijono, Blora
  • RSUD dr. Rasidin, Padang
  • RSUD Kota, Tangerang
  • RSU Yayasan Kasih Ibu, Lhokseumawe Aceh
  • RSU Kartini, Jakarta

4. Rumah sakit tipe D

Rumah sakit tipe D sering disebut sebagai rumah sakit transisi atau sementara. Artinya jika pasien yang dirujuk dari puskesmas membutuhkan penanganan lebih lanjut, maka pasien akan dirujuk ke rumah sakit yang masuk daftar faskes lebih tinggi. Contohnya sebagai berikut.

  • RSU Yayasan Kasih Ibu, Sumatera Utara
  • Sadikin Kota Pariaman, Sumatera Barat
  • RS Pertamina Dumai, Riau
  • RSUD Rupit Kabupaten Musi Rawas Utara, Jambi
  • RS Mutiara, Papua Barat
  • RSUD Dr. R. Soedjati Soemadiardjo, Jawa Tengah
  • RS Happy Land Medical Center. Yogya
  • RSU Rahman Rahim, Jawa Timur,
  • RSUD Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah
  • RS Kalooran, Sulawesi Utara
  • RSU Dewi Sartika, Sulawesi Tenggara
  • RS Daerah Kabupaten Majene, Sulawesi Barat

5. Rumah sakit tipe E

Rumah sakit tipe ini merupakan rumah sakit yang yang hanya memberikan satu jenis pelayanan kesehatan saja. Misalnya layanan medis khusus untuk penyakit jantung, mata, paru, ibu dan anak, atau malah kanker. 

Rumah sakit tipe E biasanya tidak tersedia di banyak wilayah Indonesia dan umumnya hanya ada di kota-kota besar, contohnya:

  • RS Kanker Dharmais, Jakarta
  • RS Paru Dr. H. A. Rotinsulu, Bandung
  • RS Jantung Harapan Kita, Jakarta
  • RS Mata Jakarta Eye Centre
  • RS Ibu dan Anak Kenari Graha Medika, Bogor
  • RS Ibu dan Anak Budhi Jaya, Jakarta

Untuk faskes I BPJS, pilihan layanan kesehatan biasanya meliputi puskesmas, klinik, atau dokter keluarga yang telah bekerja sama dengan BPJS. Kamu bisa melihatnya kok, di aplikasi JKN yang kamu miliki atau bisa mengunjungi situs resmi bpjs.go.id.

Sistem rujukan perawatan kesehatan BPJS

Seperti disebutkan di atas, layanan kesehatan BPJS memang berjenjang dan memang tidak bisa langsung ke rumah sakit kecuali dalam keadaan darurat. 

Jika tidak ada pelayanan berjenjang ini dan semua peserta langsung ke rumah sakit, maka akan ada penumpukan pasien di rumah sakit. Padahal, tingkat keparahan penyakit pasien pasti berbeda. 

Jika rumah sakit terlalu penuh, maka pasien dengan penyakit yang parah akan sulit mendapatkan pelayanan yang maksimal.

Sistem rujukan berjenjang ini tetntu perlu dipahami oleh semua peserta BPJS. 

Meskipun faskes pertama bukanlah rumah sakit besar, kamu tidak perlu khawatir, karena BPJS juga sudah memiliki standar untuk menerima puskesmas, klinik dan dokter keluarga sebagai mitra mereka. 

Fasilitas kesehatan tingkat pertama saat ini juga telah memiliki kompetensi setara dokter umum di rumah sakit. Dan faskes primer ini juga mampu memberikan layanan pengobatan, pencegahan, rehabilitatif, dan promosi kesehatan dengan baik. 

Nah, jika selama pengobatan pada faskes pertama kamu belum membaik dan dokter memutuskan kamu perlu penanganan lebih lanjut, maka dokter akan memberikan rujukan ke faskes tingkat II. Dan jika masih perlu penanganan lebih serius, dokter pada faskes tingkat II akan memberikan rujukan ke faskes tingkat III. 

Pada tingkat III nanti kamu akan mendapat pelayanan dari dokter subspesialis dengan menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan subspesialistik. 

Oya, tapi ada juga lho sekali datang ke faskes pertama dan langsung dapat rujukan ke faskes tingkat III. Tapi tentu saja, hanya untuk gangguan kesehatan yang sudah didiagnosis secara resmi oleh dokter dan disetujui rencana terapinya. Selain itu karena kedua hal di atas termasuk dalam pelayanan berulang yang hanya tersedia di faskes tingkat III. 

Pelayanan Program Rujuk Balik (PRB)

Fasilitas lain dari BPJS kesehatan adalah Pelayanan Program Rujuk Balik (PRB). Pelayanan PRB merupakan program pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis namun sudah dalam kondisi stabil, namun masih memerlukan perawatan atau pengobatan jangka panjang. 

Beberapa pasien yang biasanya mendapatkan layanan PRB ini adalah penderita diabetes melitus, hipertensi, jantung, asma, Paru Obstruktif Kronik (PPOK), epilepsy, schizophrenia, stroke, dan Systemic Lupus Erythematosus (SLE). 

Surat rujukan PRB ini biasanya hanya berlaku selama tiga bulan. Jadi, nanti jangan ngambek dan komplain kalau diminta kembali ke faskes I untuk minta surat rujukan lagi. 

Mau dapat penjelasan lebih lengkap lagi mengenai BPJS Kesehatan, jangan ragu-ragu untuk mencari tahu informasinya dari ulasan-ulasan Lifepal.