Rumah Sakit BPJS – Tipe dan Cara Mendapatkan Rujukan

rumah sakit bpjs

Baru daftar BPJS dan bingung memilih faskes untuk mendaftar rumah sakit BPJS? Atau malah ingin pindah ke faskes lain, tapi masih galau mana yang sebaiknya dipilih? 

Memilih rumah sakit BPJS untuk tujuan pengobatan kita memang gampang-gampang susah. Kadang ada rumah sakit atau klinik yang terdekat dengan kita, tapi ternyata kita tidak diterima di rumah sakit tersebut karena tidak terdaftar dalam faskes I BPJS pribadi.

Yang pasti, jangan lupa untuk membayarkan iuran BPJS-mu agar bisa mendapatkan manfaat dan fasilitas saat berobat ke rumah sakit atau klinik. Yuk, bayar BPJS Kesehatan hanya di Lifepal. Gak ada tambahan biaya, lho!

Ya, memang memilih rumah sakit BPJS sebaiknya tidak hanya berdasar lokasi, tapi juga perlu tahu layanan yang tersedia, juga tipe rumah sakit atau klinik tersebut. 

Kenapa perlu tahu tipe rumah sakit BPJS?

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/III/2010, rumah sakit di Indonesia dikelompokkan berdasarkan fasilitas dan jenis layanannya. 

Misalnya untuk rumah sakit umum, maka semua jenis penyakit dan semua kategori kesehatan dapat dilayani oleh rumah sakit ini. Beda halnya untuk kelompok rumah sakit khusus yang hanya memberikan pelayanan pada penyakit tertentu misal Rumah Sakit Kanker, atau kelompok usia semisal rumah sakit anak, atau organ tubuh semisal rumah sakit jantung. 

Pengelompokan kemudian dibedakan menjadi rumah sakit tipe A, B, C, D, dan E. Karena itulah penting bagi kita untuk mengetahui tipe rumah sakit yang ingin kita pilih sebagai tujuan berobat baik pada tingkat pengobatan pertama, kedua, ataupun ketiga. 

Perlu diketahui, tujuan pelayanan kesehatan pada faskes I adalah rawat jalan tingkat pertama; seperti pencegahan penyakit, konsultasi, saran pengobatan pada pasien yang tidak butuh rawat inap, skrining kesehatan, pelayanan kesehatan ibu dan anak. 

Sementara pada faskes II, pelayanan kesehatan yang diberikan sudah spesialistik. Begitu juga dengan tingkat lanjutan, layanan kesehatannya tentu lebih khusus dan lengkap dibanding tingkat II. 

Tujuan pemberian layanan bertingkat ini tidak lain agar pelayanan kesehatan dapat diberikan dengan penyesuaian prioritas kondisi penyakit masing-masing dan merata di seluruh instansi layanan kesehatan yang ditunjuk, jadi tidak menumpuk di satu tempat saja. 

Nah, setelah tahu tujuan layanan masing-masing faskes, sekarang mari kita kenali tipe-tipe rumah sakit untuk memilih rumah sakit BPJS sesuai kebutuhan kita. 

Tipe-tipe rumah sakit rujukan BPJS

Mari kita cari tahu rumah sakit mana saja yang termasuk golongan rumah sakit tipe A hingga tipe E.

1. Rumah sakit BPJS tipe A

Rumah sakit tipe A merupakan rumah sakit kesehatan rujukan tertinggi dan termasuk faskes tingkat III. Pelayanan rumah sakit tipe A biasanya sangat lengkap, mulai dari umum, subspesialis, sampai dokter spesialis. 

Berikut beberapa rumah sakit di Indonesia yang termasuk dalam rumah sakit tipe A.

  • RSU Dr H Abdul Moeloek, Bandar Lampung
  • RSU Dr Mohammad Hoesin, Palembang
  • RS Hasan Sadikin, Bandung
  • RS Fatmawati, Jakarta
  • RS Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta
  • RSU Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar
  • RSU Dr Soetomo, Surabaya
  • RS Dr M Jamil,Padang
  • RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta
  • RSU Dr Kariadi, Semarang
  • RSU Ulin, Banjarmasin.

2. Rumah sakit BPJS tipe B

Rumah sakit tipe ini menyediakan layanan medis spesialis secara meluas dan subspesialistik terbatas. Rumah sakit tipe B biasanya ada di Ibu Kota provinsi dan menjadi rujukan rumah sakit dari tingkat kabupaten. 

Berikut beberapa rumah sakit yang di Indonesia yang termasuk dalam tipe B.

  • RSUD Langsa Aceh
  • RSUD Dr. Fauziah Bireuen Aceh
  • RSUD Dr. Djasemen, Saragih Pematang Siantar
  • RSUD Rantau Prapat Sumatera Utara
  • RSUD H. Hanafie, Jambi
  • RS Jiwa, Bandar Lampung
  • RS Stroke Nasional, Sumatera Barat
  • RSUD dr. H. M. Rabain Muara Enim, Sumatera Selatan
  • RSUD Dr. Ir. Soekarno, Bangka Belitung
  • RSU Jakarta
  • RSU Pasar Rebo, Jakarta
  • RSU Tarakan, Jakarta
  • RS Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta
  • RS Pelni Petamburan, Jakarta
  • RS Sumber Waras, Jakarta
  • RSUD Dr. Soekardjo, Tasikmalaya
  • RSUD Sayang, Cianjur
  • RSUD Sleman, Yogyakarta
  • RSU Dr Soebandi, Jember
  • RSUD Kab. Buleleng, Bali
  • RSUD Kota Mataram
  • RSU Labuang Baji Makassar
  • RSUD Dr. Soedarso, Pontianak
  • RSU Dr Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan
  • RSU Prof Dr Wz Johanes, Kupang
  • RSUD Undata, Palu.

3. Rumah sakit BPJS tipe C

Rumah sakit ini biasanya yang ditunjuk sebagai rumah sakit faskes II. Rumah sakit ini juga menyediakan pelayanan kesehatan umum, medik spesialis dan subspesialis penunjang, gigi mulut, keperawatan dan kebidanan, klinik dan nonklinik.

Berikut beberapa rumah sakit yang termasuk tipe C.

  • RSUD Kota Tidore, Maluku Utara
  • RSUD Bula, Maluku
  • RSUD Kota Tangerang Selatan
  • RS Kalooran, Sulawesi Utara
  • RSUD Simeulue, Aceh
  • RSUD Curup, Bengkulu
  • RSUD Sukadana, Lampung
  • RSU Wamena
  • RSUD Genteng, Banyuwangi
  • RSUD Dr. R. Soetijono, Blora
  • RSUD dr. Rasidin, Padang
  • RSUD Kota, Tangerang
  • RSU Yayasan Kasih Ibu, Lhokseumawe Aceh
  • RSU Kartini, Jakarta.

4. Rumah sakit BPJS tipe D

Rumah sakit tipe D sering disebut sebagai rumah sakit transisi atau sementara. Artinya jika pasien yang dirujuk dari puskesmas membutuhkan penanganan lebih lanjut, maka pasien akan dirujuk ke rumah sakit yang masuk daftar faskes lebih tinggi. Contohnya sebagai berikut.

  • RSU Yayasan Kasih Ibu, Sumatera Utara
  • Sadikin Kota Pariaman, Sumatera Barat
  • RS Pertamina Dumai, Riau
  • RSUD Rupit Kabupaten Musi Rawas Utara, Jambi
  • RS Mutiara, Papua Barat
  • RSUD Dr. R. Soedjati Soemadiardjo, Jawa Tengah
  • RS Happy Land Medical Center. Yogya
  • RSU Rahman Rahim, Jawa Timur,
  • RSUD Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah
  • RS Kalooran, Sulawesi Utara
  • RSU Dewi Sartika, Sulawesi Tenggara
  • RS Daerah Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

5. Rumah sakit BPJS tipe E

Rumah sakit tipe ini merupakan rumah sakit yang yang hanya memberikan satu jenis pelayanan kesehatan saja. Misalnya layanan medis khusus untuk penyakit jantung, mata, paru, ibu dan anak, atau malah kanker. 

Rumah sakit tipe E biasanya tidak tersedia di banyak wilayah Indonesia dan umumnya hanya ada di kota-kota besar, contohnya:

  • RS Kanker Dharmais, Jakarta
  • RS Paru Dr. H. A. Rotinsulu, Bandung
  • RS Jantung Harapan Kita, Jakarta
  • RS Mata Jakarta Eye Centre
  • RS Ibu dan Anak Kenari Graha Medika, Bogor
  • RS Ibu dan Anak Budhi Jaya, Jakarta.

Untuk faskes I BPJS, pilihan layanan kesehatan biasanya meliputi puskesmas, klinik, atau dokter keluarga yang telah bekerja sama dengan BPJS. Kamu bisa melihatnya kok, di aplikasi JKN yang kamu miliki atau bisa mengunjungi situs resmi bpjs.go.id.

Sistem rujukan perawatan kesehatan Rumah Sakit BPJS

Seperti disebutkan di atas, layanan kesehatan BPJS memang berjenjang dan memang tidak bisa langsung ke rumah sakit kecuali dalam keadaan darurat. 

Jika tidak ada pelayanan berjenjang ini dan semua peserta langsung ke rumah sakit, maka akan ada penumpukan pasien di rumah sakit. Padahal, tingkat keparahan penyakit pasien pasti berbeda. 

Jika rumah sakit terlalu penuh, maka pasien dengan penyakit yang parah akan sulit mendapatkan pelayanan yang maksimal. Sistem rujukan berjenjang ini tentu perlu dipahami oleh semua peserta BPJS. 

Meskipun faskes pertama bukanlah rumah sakit besar, kamu tidak perlu khawatir, karena BPJS juga sudah memiliki standar untuk menerima puskesmas, klinik dan dokter keluarga sebagai mitra mereka. 

Fasilitas kesehatan tingkat pertama saat ini juga telah memiliki kompetensi setara dokter umum di rumah sakit. Dan faskes primer ini juga mampu memberikan layanan pengobatan, pencegahan, rehabilitatif, dan promosi kesehatan dengan baik. 

Nah, jika selama pengobatan pada faskes pertama kamu belum membaik dan dokter memutuskan kamu perlu penanganan lebih lanjut, maka dokter akan memberikan rujukan ke faskes tingkat II. Dan jika masih perlu penanganan lebih serius, dokter pada faskes tingkat II akan memberikan rujukan ke faskes tingkat III. 

Pada tingkat III nanti kamu akan mendapat pelayanan dari dokter subspesialis dengan menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan subspesialistik.

Oya, tapi ada juga lho sekali datang ke faskes pertama dan langsung dapat rujukan ke faskes tingkat III. Tapi tentu saja, hanya untuk gangguan kesehatan yang sudah didiagnosis secara resmi oleh dokter dan disetujui rencana terapinya. Selain itu karena kedua hal di atas termasuk dalam pelayanan berulang yang hanya tersedia di faskes tingkat III. 

Bayar BPJS Online
Bayar BPJS Online

Pelayanan Program Rujuk Balik (PRB)

Fasilitas lain dari BPJS kesehatan adalah Pelayanan Program Rujuk Balik (PRB). Pelayanan PRB merupakan program pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis namun sudah dalam kondisi stabil, namun masih memerlukan perawatan atau pengobatan jangka panjang. 

Beberapa pasien yang biasanya mendapatkan layanan PRB ini adalah penderita diabetes melitus, hipertensi, jantung, asma, Paru Obstruktif Kronik (PPOK), epilepsy, schizophrenia, stroke, dan Systemic Lupus Erythematosus (SLE). 

Surat rujukan PRB ini biasanya hanya berlaku selama tiga bulan. Jadi, nanti jangan ngambek dan komplain kalau diminta kembali ke faskes I untuk minta surat rujukan lagi. 

Mau dapat penjelasan lebih lengkap lagi mengenai BPJS Kesehatan, jangan ragu-ragu untuk mencari tahu informasinya dari ulasan-ulasan Lifepal.

Perbedaan BPJS dan asuransi kesehatan swasta

Jika dilihat dari sifatnya, BPS dan asuransi swasta memiliki perbedaan mendasar. BPJS sifatnya wajib dimiliki oleh warga negara Indonesia dan warga negara asing yang sudah bekerja di Indonesia minimal enam bulan lamanya. 

Karena BPJS merupakan asuransi kesehatan bagian dari program  jaring pengaman sosial yang diselenggarakan pemerintah. Sedangkan asuransi kesehatan yang dimiliki swasta bersifat sukarela. Artinya asuransi bebas dimiliki siapapun yang ingin membeli polis asuransi. 

Beberapa perbedaan BPJS dan asuransi kesehatan swasta lainnya, antara lain: 

1. Dokter spesialis

Seperti dijelaskan sebelumnya, untuk bisa lanjut berobat ke dokter spesialis BPJS Kesehatan memberlakukan sistem rujukan dengan alur berjenjang. Artinya pasien BPJS Kesehatan harus melewati faskes pertama dulu untuk bisa lanjut ke layanan kesehatan tingkat lanjutnya.  

Sedangkan bagi nasabah asuransi kesehatan swasta, tidak memerlukan alur seperti BPJS, Peserta asuransi swasta bisa datang langsung ke rumah sakit rekanan asuransi, dan mendaftarkan diri ke dokter spesialis. Urusan pembayaran biaya berobat diserahkan langsung ke pihak asuransi. 

2. Penyakit yang ditanggung

Kalau dilihat dari sisi penyakit yang ditanggung, BPJS memiliki banyak keuntungan. Meski berpremi murah, namun manfaat yang didapat peserta BPJS Kesehatan sangat banyak. Mulai dari perawatan gigi, operasi caesar, bahkan penyakit kronis seperti jantung biaya berobatnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan. 

Berbeda dengan asuransi kesehatan swasta dimana untuk mendapat manfaat penyakit kritis atau melahirkan, nasabah asuransi harus mengambil asuransi riders atau tambahan. Hanya saja masalahnya terletak di sini. Makin banyak riders yang diambil, otomatis berimbas pada besarnya premi yang harus dibayarkan. 

3. Berobat di luar faskes terdaftar

Kelemahan BPJS Kesehatan lainnya adalah rumitnya prosedur yang harus dilewati peserta saat ingin berobat di luar kota atau luar negeri. Pasien harus mengunjungi kantor BPJS Kesehatan terdekat untuk mendapat surat pengantar ke faskes tingkat pertama. Dengan maksimal pelayanan sebanyak tiga kali. 

Sementara untuk asuransi kesehatan swasta, tidak perlu repot mengikuti prosedur seperti BPJS Kesehatan. Selama klinik atau rumah sakit yang dituju adalah rekanan dari asuransi yang dimiliki, maka nasabah hanya tinggal mendaftar, berobat dan menyelesaikan pengobatan dengan asuransinya. Bahkan beberapa asuransi bisa digunakan di luar negeri, selam polis yang dibeli memiliki manfaat tersebut. 

4. Pemilihan kamar VIP

Dalam BPJS Kesehatan ada tiga tipe kelas yaitu kelas I, kelas II dan kelas III, sesuai dengan premi kelas yang dipilih peserta. Dengan kata lain, jika ingin naik kelas untuk kenyamanan berobat, maka ada konsekuensi yang ditanggung. Biaya selisih dibebankan pada peserta BPJS Kesehatan. 

Beda halnya dengan asuransi swasta, di mana manfaat rawat inap dengan fasilitas kamar VIP bisa ditanggung.

5. Riwayat penyakit

Di BPJS Kesehatan hampir semua penyakit ditanggung. Artinya, BPJS Kesehatan gak mengenal riwayat penyakit yang pernah diderita peserta. Jadi, jika peserta sudah memiliki riwayat penyakit tertentu atau pre existing condition, BPJS tetap akan menanggungnya. 

Lain halnya dengan asuransi swasta di mana ada syarat pemeriksaan medis terlebih dulu untuk melihat riwayat penyakit yang pernah diderita. Dengan kata lain, asuransi tidak akan menanggung atau memberi manfaat perlindungan untuk penyakit lama yang pernah diderita nasabah asuransi. 

Tapi, ada juga perusahaan asuransi yang memiliki masa tunggu untuk pre existing condition. Umumnya tenggat waktu yang dipatok antara lain 9 bulan, 1 tahun dan bahkan ada yang tiga tahun baru asuransi akan memberi manfaat. 

BPJS Kesehatan dan asuransi kesehatan swasta memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, tapi keduanya bisa melengkapi satu sama lain.

Apa itu asuransi kesehatan?

Asuransi kesehatan merupakan produk asuransi yang menanggung biaya berobat ke dokter atau rumah sakit. Pertanggungan yang diberikan bisa berupa penggantian biaya medis atau santunan tunai. 

Agar mendapat manfaat tersebut, nasabah cukup membayar premi ke perusahaan asuransi. Karena sehat itu mahal harganya, tidak ada salahnya juga untuk melengkapi proteksi dengan asuransi kesehatan.

Yuk, beli asuransi kesehatan terbaik melalui Lifepal. Premi hemat hingga 30% dengan pembayaran bulanan mulai dari Rp50 ribu saja!

Pentingnya punya asuransi kesehatan untuk berobat ke rumah sakit BPJS

Jika ingin mendapat pelayanan yang maksimal, pastinya pasien akan memilih rawat inap dengan kelas kamar yang lengkap fasilitasnya. Hanya saja, kelengkapan fasilitas pastinya dibarengi dengan harga yang menjulang tinggi. 

Itu pun dihitung per malam hanya untuk kamar dan fasilitas di dalamnya. Belum dihitung biaya pengobatan dan kunjungan dokter. Bisa dibayangkan, untuk mendapat kenyamanan pasien harus merogoh kocek dalam-dalam. 

Tapi, saat ini kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi kesehatan pun makin tinggi. Terlebih jika mengingat inflasi biaya rumah sakit yang bisa mencapai angka 11 persen. Artinya biaya kesehatan rawat inap selalu akan naik di tahun selanjutnya. 

Jadi, asuransi kesehatan sangat perlu untuk dimiliki. Karena melalui asuransi kamu bisa meminimalisir risiko kerugian finansial saat jatuh sakit, apalagi jika kamu memilih rumah sakit yang bonafid dengan layanan kelas internasional. Bisa dibayangkan kalau gak punya asuransi kesehatan. 

Asuransi kesehatan terbaik di Indonesia 2020

1. Manulife

Meski Manulife dikenal sebagai perusahaan asuransi jiwa, tapi ada juga produk asuransi kesehatan Manulife. Bahkan, untuk seluruh anggota keluarga. Melalui produk MiUltimate HealthCare, Manulife menawarkan limit tahunan asuransi kesehatan tinggi dan lengkap. 

Manfaat yang diperoleh nasabah adalah pertanggungan rawat inap rumah sakit di Indonesia dan Malaysia dengan tarif Rp500 ribu, Rp1 juta, Rp2 juta dan Rp3 juta. Sedangkan untuk rawat inap di luar dua negara tadi sebesar Rp3 juta, Rp6 juta, dan Rp9 juta. Manulife juga memberi manfaat untuk biaya kamar ICU, kunjungan dokter, pembedahan, biaya akomodasi pendamping dan penyuluhan psikologis. 

2. Allianz

Dikenal sebagai brand asuransi jiwa dari PT Asuransi Allianz Life, ada juga produk asuransi kesehatan yang ditawarkan. Allianz Smarthealth Maxi Violet, asuransi kesehatan ini sangat pas buat kamu yang menginginkan manfaat asuransi kesehatan plus rawat jalan dan asuransi jiwa sekaligus. Tiga manfaat dalam satu polis. 

Melalui produk ini, nasabah mendapat segudang manfaat antara lain pertanggungan biaya rawat inap mulai dari Rp100 ribu – Rp1 juta, pertanggungan biaya ICU, visit dokter, dokter spesialis, pembedahan dan beberapa cover biaya medis lainnya. Selain itu nasabah juga akan mendapat santunan atas risiko meninggal dunia Rp2 juta – Rp11,5 juta. Ditambah lagi ada manfaat pengembalian premi asuransi kesehatan Allianz hingga 20%. 

3. Sinarmas

Perusahaan asuransi Sinarmas punya produk asuransi kesehatan yaitu Simas Sehat Gold. Di produk ini nasabah akan mendapat perlindungan kesehatan sesuai tagihan hingga usia tertanggung 75 tahu. Premi yang harus dibayar pun tergolong murah. Cukup membayar Rp171 ribu per bulan, banyak manfaat yang bisa didapat. 

Manfaat yang didapat tertanggung dari polis individu ini antara lain biaya konsultasi dokter umum dan spesialis, [pertanggungan rawat jalan darurat sesuai tagihan rumah sakit. Juga santunan harian rawat inap di rumah sakit, limit tahunan mulai dari Rp100 ribu – Rp400 juta dan santunan meninggal dunia Rp10 juta. 

4. AIA

Asuransi kesehatan AIA menjamin biaya perawatan di rumah sakit. Perusahaan asuransi ini merupakan anak perusahaan AIA Group Hong Kong yang bergerak dalam sektor finansial. 

Pertanggungan untuk asuransi kesehatan AIA meliputi penggantian biaya rawat inap dan rawat jalan. Manfaat yang diberikan mencakup rawat inap, rawat jalan, pembedahan akibat kecelakaan. 

Keunggulan AIA sebagai perusahaan asuransi adalah pertanggungan biaya perawatan bisa diterima di seluruh dunia. Untuk mendapat manfaat asuransi kesehatan, karena polis ini bersifat tambahan maka kamu harus memiliki polis dasar AIA ProLink Assurance terlebih dulu. 

Tips memilih asuransi kesehatan terbaik

Di masa pandemi ini seperti menjadi refleksi diri dalam melihat kesehatan. Saat ini banyak orang mulai banyak menjalani pola hidup sehat agar tak mudah jatuh sakit. Cara efektif yang bisa dilakukan saat ini adalah menjalani protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. 

Selain itu memilih alat proteksi kesehatan diri atau asuransi kesehatan yang memberi manfaat maksimal saat risiko menimpa. Jangan sampai, tabungan hari tua terkuras habis jika tak memiliki asuransi kesehatan. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai berbagai produk asuransi kesehatan terbaik, kamu bisa melihat daftar pertanyaannya di Tanya Lifepal Asuransi.

Meski banyak perusahaan asuransi yang menawarkan produk asuransi kesehatan, tapi kamu harus jeli melihat manfaat yang ditawarkan. Ada beberapa hal yang wajib kamu perhatikan sebelum membeli proteksi atau asuransi kesehatan. Beberapa di antaranya: 

1. Metode klaim cashless

Dengan sistem klaim cashless nasabah bisa datang ke rumah sakit bermodal kartu peserta asuransi kesehatan saja. Artinya, nasabah tidak perlu mengeluarkan dana terlebih dahulu untuk mendapatkan perawatan medis. Ips memilih 

2. Menanggung biaya rawat jalan

Biaya perawatan pra dan pascarawat inap tidaklah murah. Untuk itu, sebaiknya pilih yang menanggung biaya rawat jalan tersebut. 

3. Manfaat pengembalian premi

Beberapa asuransi juga menawarkan pengembalian premi atau no claim bonus apabila tidak ada klaim hingga masa polis berakhir. Umumnya 20-100 persen dari total premi yang telah dibayarkan.

4. Manfaat Coordination of Benefit (CoB)

Dengan manfaat Coordination of Benefit (CoB), jika asuransi BPJS tidak mencakup semua biaya perawatan, maka kita bisa mengajukan kekurangannya pada asuransi swasta.

Saat ini, ada 11 perusahaan asuransi swasta yang bersedia jalankan koordinasi klaim dengan BPJS, yaitu asuransi kesehatan Avrist, Arthagraha General Insurance, Astra Buana, Mega, CAR, Takaful Keluarga, Bina Dana Arta, Sinarmas MSIG, Generali Indonesia, Tugu Pratama, dan Multi Artha Guna (MAG). 

5. Manfaat Pertanggungan Pre-Existing Condition

Pre-existing condition adalah kondisi di mana calon nasabah sudah menderita penyakit tertentu saat mendaftar asuransi. Sebagian besar produk mengecualikan hal ini dalam klaim, tetapi ada yang tidak mengecualikannya dengan atau tanpa syarat.

6. Limit/plafon sesuai premi

Plafon yang ditawarkan oleh asuransi kesehatan memang sekilas terkesan besar. Misal uang pertanggungan Rp20 juta terkesan banyak saat ini. Namun, di tahun-tahun mendatang dengan kenaikan biaya medis 7-15 persen, nilai pertanggungan tersebut akan berkurang.

Jika memungkinkan, sebaiknya pilih yang menanggung biaya medis sesuai tagihan rumah sakit (as charged). 

7. Iuran premi sesuai dengan penghasilan

Meski proteksi kesehatan sangatlah penting, calon nasabah tetap harus memastikan keuangannya tetap terjaga. Oleh karena itu, pastikan premi tidak kemahalan apalagi melebihi kemampuan. Standarnya alokasi asuransi minimal sekitar 3-5 persen dari penghasilan.

8. Beli melalui broker asuransi

Broker yang telah terdaftar resmi dapat membantu nasabah mengajukan klaim. Ingat, ketika sedang mengalami risiko medis, pengajuan klaim bisa saja sulit dilakukan sendiri. Belum lagi jika pengajuan klaim nasabah ditolak karena alasan tertentu. 

Broker asuransi seperti Lifepal dapat sangat membantu dalam mengatasi masalah klaim tersebut.

Pertanyaan seputar Rumah Sakit BPJS

Beberapa dokumen yang harus disiapkan antara lain:

Surat rujukan dari faskes tingkat 1, fotokopi dan asli identitas diri (KTP), fotokopi asli kartu KIS atau BPJS Kesehatan dan fotokopi kartu keluarga.

Bila dalam kondisi gawat darurat, pasien BPJS Kesehatan bisa langsung ke rumah sakit tanpa perlu surat rujukan dari faskes pertama.
Perbedaan dari ketiga kelas itu terletak pada manfaat non medisnya saja atau ruang rawat inapnya. Sedangkan untuk pengobatan dan kualitas layanan tenaga medis, semuanya sama.
Selisih biaya akan menjadi beban peserta BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan yang dimilikinya.
Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →