Cara Kerja Asuransi – Mulai dari Bayar Premi hingga Klaim

Cara kerja asuransi

Seperti apa cara kerja asuransi? Apa sistem yang mendasarinya? Dalam hidup, risiko yang terjadi menimpa kita bisa berdampak pada kondisi keuangan atau finansial.

Tanpa manfaat asuransi, kita bisa mengalami kerugian dan keberlangsungan finansial bisa terganggu.

Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui manfaat asuransi, apalagi jika tidak terlebih dahulu mengetahui cara kerja asuransi, seperti cara kerja asuransi jiwa, asuransi kesehatan, hingga asuransi kendaraan.  

Bagaimana cara kerja asuransi?

Asuransi adalah layanan di sektor jasa keuangan dengan tujuan pengambilalihan risiko oleh perusahaan asuransi (penanggung) dari nasabah (tertanggung). Risiko yang mengakibatkan kerugian finansial tersebut ditutup dengan menggunakan kumpulan premi yang dibayarkan nasabah.

Secara ringkas, cara kerja asuransi terangkai dalam rantai kerja perusahaan asuransi yang dimulai dari menciptakan produk asuransi. Umumnya, produk asuransi yang diciptakan bergantung pada kondisi terkini atau terdahulu. 

Biasanya, untuk membaharui manfaat yang ditawarkan lewat produk baru, perusahaan asuransi melakukan sejumlah jajak pendapat dan mendengarkan kebutuhan para pelanggan. 

Jajak pendapat dilakukan untuk mengetahui harapan dari produk asuransi yang diinginkan. Apabila dirasa ada yang harus diperbarui, perusahaan asuransi akan memperbarui produknya.

Berikut cara kerja asuransi secara umum.

  • Menawarkan jenis-jenis asuransi sesuai kebutuhan
  • Membuat perjanjian polis asuransi
  • Membayar premi asuransi
  • Menerima dan mencairkan klaim asuransi

1. Menawarkan jenis-jenis asuransi sesuai kebutuhan

Jalur distribusi perusahaan asuransi beragam. Perusahaan asuransi umumnya menawarkan jenis-jenis asuransi yang dimilikinya dengan mengandalkan agen asuransi, telemarketing, bancassurance, hingga online insurance broker seperti Lifepal.

Perusahaan asuransi akan menawarkan sekaligus mengenalkan jenis-jenis asuransi kepada nasabahnya sesuai dengan kebutuhan.

Agar tidak ditolak nasabah saat sedang menawarkan produk, perusahaan asuransi idealnya mengenal lebih dahulu nasabah yang disasar.

Informasi yang disampaikan kepada nasabah saat penawaran produk, yaitu: 

  • Jenis asuransi (asuransi kesehatan, asuransi jiwa, atau asuransi kendaraan)
  • Manfaat asuransi yang diperoleh
  • Premi asuransi yang harus dibayar
  • Masa tertanggung asuransi
  • Tata cara pencairan klaim
  • Nilai klaim yang akan didapat
  • Risiko yang ditanggung
  • Pengecualian klaim asuransi

2. Membuat perjanjian polis asuransi

Apabila calon nasabah tertarik dan telah memahami jenis asuransi yang ditawarkan, perusahaan asuransi akan memberikan formulir pengajuan asuransi sebagai syarat pembuatan perjanjian polis asuransi dengan kondisi:

  • nasabah asuransi sebagai pihak pemilik polis (sekaligus tertanggung atau penerima manfaat) dan
  • perusahaan asuransi sebagai pihak penanggung (pemberi manfaat asuransi).

Isi dari perjanjian polis asuransi adalah kewajiban penanggung membayar ganti rugi finansial atau manfaat asuransi dengan prasyarat tertanggung telah membayar premi.

Kerugian finansial yang dimaksud adalah konsekuensi dari risiko-risiko finansial yang telah disepakati bersama dengan perusahaan asuransi sebagai syarat pencairan klaim asuransi oleh nasabah. 

Singkatnya, polis asuransi adalah kontrak antara penanggung dan tertanggung yang mana menentukan klaim yang harus dibayar oleh penanggung kepada tertanggung secara hukum.

Sebaiknya, nasabah asuransi membaca detail isi kontrak polis dan memahaminya agar di lain waktu tidak terjadi masalah klaim asuransi ditolak.

Apabila sulit untuk memahami seluruh isi polis asuransi, minimal empat poin polis asuransi di bawah ini bisa dipahami dengan baik.

  • Data polis memuat nama pemegang polis, nama tertanggung atau penerima manfaat atau ahli waris, jumlah premi, hingga jumlah pertanggungan. Data polis menjadi informasi dasar. Jadi, cek kembali apakah isinya telah sesuai dengan yang diminta atau belum.
  • Manfaat asuransi mencantumkan manfaat perlindungan yang diterima apabila terjadi risiko. Kalau jenis asuransi sekaligus memberi manfaat investasi, terdapat manfaat investasi yang diperoleh saat meninggal. Apabila kita ingin menambahkan manfaat atau rider ke dalam jenis asuransi, polis asuransi akan merinci tambahan risiko yang ditanggung.
  • Pengecualian penting diketahui agar nasabah asuransi benar-benar tahu dan paham apa saja yang tidak termasuk pertanggungan risiko dalam polis asuransi. Misalnya, kondisi, penyakit, dan penyebab meninggal dunia yang tidak ditanggung.
  • Pengajuan klaim, dalam polis asuransi akan tertulis prosedur pengajuan klaim, termasuk dengan syarat yang harus dicantumkan. Perhatikan batas waktu pengajuan klaim dalam polis asuransi tersebut.

3. Membayar premi asuransi

Nasabah asuransi sebagai pemilik polis wajib membayar premi asuransi agar dapat menerima manfaat asuransi. Jadwal pembayaran premi akan ditentukan perusahaan asuransi (biasanya per bulan atau per tahun).

Besaran premi ditetapkan perusahaan asuransi berdasarkan beberapa faktor, yaitu:

  • usia,
  • manfaat asuransi yang diperoleh,
  • cakupan pertanggungan,
  • tambahan manfaat kalau diminta nasabah,
  • kondisi awal calon pemilik polis atau tertanggung (pre-existing condition),
  • lingkungan kerja,
  • hobi, hingga
  • gaya hidup.

4. Menerima dan mencairkan klaim asuransi

Menerima premi dari tertanggung berarti perusahaan asuransi wajib untuk memenuhi kewajibannya terkait klaim manfaat asuransi oleh nasabah.

Biasanya, dalam proses klaim asuransi dari nasabah, perusahaan asuransi akan melakukan pemeriksaan atas peristiwa yang terjadi. 

Pemeriksaan tersebut dilakukan setelah administrasi tertanggung telah dilengkapi. Pemeriksaan atas peristiwa yang terjadi biasanya dilakukan dengan cara melakukan verifikasi ke pihak berwajib, instansi terkait semisal rumah sakit, keluarga, hingga kerabat sekitar. 

Hal itu dilakukan demi memastikan manfaat yang diterima tepat sasaran. Tertanggung yang mengajukan klaim akan mendapatkan dua jawaban, yakni klaim disetujui atau klaim ditolak. 

Merujuk pada UU Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian, usaha perasuransian adalah segala usaha menyangkut jasa pertanggungan atau pengelolaan risiko, pertanggungan ulang risiko, pemasaran dan distribusi produk asuransi atau produk asuransi syariah, konsultasi dan keperantaraan asuransi, asuransi syariah, reasuransi, atau reasuransi syariah, atau penilaian kerugian asuransi atau asuransi syariah.

Cara kerja asuransi syariah 

Meski pada prinsipnya perusahaan asuransi konvensional dengan perusahaan asuransi syariah sama-sama memberikan perlindungan kepada nasabah atau tertanggung, keduanya tetap berbeda dalam asas dan cara kerja yang berbeda. 

Perbedaan tersebut tetap bertujuan untuk memastikan pemilik polis atau nasabah asuransi mendapatkan manfaat asuransi dari jenis-jenis asuransi yang mereka miliki, entah itu asuransi kesehatan, asuransi jiwa, ataupun asuransi kendaraan.

Sama seperti perusahaan asuransi konvensional, perusahaan asuransi syariah juga diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OKJ) yang memastikan perusahaan asuransi menunaikan kewajibannya kepada para peserta. 

Perusahaan asuransi syariah juga diawasi Dewan Pengawas Syariah (DPS) agar cara kerja perusahaan asuransi syariah tetap sesuai aturan dan prinsip syariat Islam.

Bagi yang berencana untuk memiliki produk asuransi syariah, kenali dulu cara kerja perusahaan asuransi syariah. Berikut ini poin-poin cara kerja asuransi syariah. 

  • Prinsip kerja asuransi syariah
  • Akad dalam asuransi syariah
  • Pembayaran premi dan klaim
  • Investasi
  • Pengelolaan
  • Pengawasan

1. Prinsip kerja asuransi syariah

Asuransi syariah termasuk Ta’min, Takaful, atau Tadhamun yang berarti usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang atau pihak.

Caranya adalah dengan melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad atau perikatan yang sesuai dengan syariah.

2. Akad dalam asuransi syariah

Jika di perusahaan asuransi konvensional ada yang dikenal sebagai polis asuransi, di perusahaan asuransi syariah ada yang dikenal dengan akad.

Prinsip akad dalam asuransi syariah tidak mencakup penipuan, penganiayaan, perjudian, suap, barang haram, dan maksiat. 

Akad yang dilakukan antara nasabah asuransi dan perusahaan asuransi syariah terdiri dari akad tijarah dan akad tabarru yang menjabarkan hak dan kewajiban peserta dan perusahaan.

Lalu, cara dan waktu pembayaran premi, jenis akad tijarah, dan akad tabarru’ serta syarat-syarat yang disepakati sesuai dengan jenis asuransi yang diakadkan. 

3. Pembayaran premi dan klaim 

Premi adalah pembayaran yang dilakukan peserta polis asuransi yang kemudian dikelola perusahaan asuransi syariah dengan prinsip mudharabah dan tabarru’. 

Selanjutnya, pembayaran klaim yang merupakan hak dari peserta akan dibayar sesuai dengan akad yang telah berlaku antara peserta dan perusahaan asuransi. 

Bagi peserta klaim berdasarkan akad tijarah merupakan hak dan merupakan kewajiban perusahaan untuk memenuhinya.

Sementara klaim atas akad tabarru’ merupakan hak peserta dan merupakan kewajiban perusahaan sebatas yang disepakati dalam akad.

4. Investasi

Perusahaan asuransi syariah selaku pemegang amanah wajib melakukan investasi dari dana yang terkumpul. Dana yang terkumpul tersebut wajib diinvestasikan sesuai dengan prinsip syariah. 

5. Pengelolaan

Perusahaan asuransi syariah harus amanah dalam mengelola premi asuransi anggotanya. Cara kerjanya begini, perusahaan asuransi syariah memperoleh bagi hasil dari pengelolaan dana yang terkumpul atas dasar akad tijarah (mudharabah). Nah, perolehan ujrah atau fee berasal dari pengelolaan dana akad tabarru’ atau hibah. 

6. Pengawasan

Perusahaan asuransi syariah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Bagi kamu yang ingin membeli produk asuransi syariah, pastikan perusahaannya telah terdaftar dan diawasi. 

Selain itu, dalam membuat produk asuransi syariah, perusahaan harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Selanjutnya, jika dalam perjalanannya terdapat perselisihan, Badan Arbitrasi Syari’ah akan melakukan mediasi. 

Sistem klaim asuransi

Setelah memutuskan untuk memiliki produk asuransi, kita juga harus mengetahui soal sistem klaim asuransi. Ini untuk memudahkan kita saat mengajukan hak kita yang sesuai perjanjian dengan perusahaan asuransi. 

Pada produk asuransi kesehatan, sistem klaim asuransi dikenal dengan tiga jenis, yakni sistem reimbursement, sistem cash plan, dan sistem cashless.

Ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan, kamu hanya perlu mencocokkan dengan kebutuhan saja untuk memilih sistem klaim asuransi. Berikut ini sistem klaim asuransi.

  • Sistem reimbursement
  • Sistem  cash plan
  • Sistem cashless

1. Sistem reimbursement

Sistem ini memang jarang dipilih sebagian konsumen sekarangi ini karena mekanisme klaimnya adalah konsumen membayar lebih dahulu baru kemudian mengajukan klaim disertai dengan dokumen lengkap sebagai syaratnya.

Mekanisme mengajukan sistem klaim dengan cara reimbursement, yaitu persiapkan dokumen penting semisal riwayat kesehatan, catatan dokter, atau bon dari pembayaran rumah sakit. 

Dokumen tersebut bersifat wajib dipenuhi konsumen. Ini agar memastikan bahwa jenis asuransi tersebut telah memenuhi syarat untuk dicairkan haknya.

Semakin cepat mengumpulkan dokumen atau surat penting yang dibutuhkan, proses klaim asuransi juga akan semakin cepat.

Kekurangan dari pemilihan mekanisme sistem reimbursement adalah konsumen harus menyiapkan dana terlebih dahulu untuk membayar tagihan rumah sakit.

Selain itu mempersiapkan seluruh dokumen pentingnya. Namun, sistem reimbursement punya kelebihan yakni bisa memilih dengan bebas rumah sakit tanpa harus operator bekerja sama dengan rumah sakit tersebut.  

2. Sistem cash plan 

Dikenal dengan sistem klaim berupa santunan, maksudnya adalah memberikan santunan berdasarkan berapa lama pasien di rawat di rumah sakit.

Jadi, saat dirawat di rumah sakit akan diberikan pengganti biaya rawat inap dan pengobatan. Nah, yang membedakan dengan sistem reimbursement dan cashless adalah nilai yang diberikan tidak sesuai dengan tagihan dari rumah sakit. 

Namun, agar bisa dibayarkan, kita perlu mengajukan dokumen lengkap dari rumah sakit untuk bisa mengklaim santunan dari asuransi. Untuk jenis klaim asuransi ini, umumnya ditawarkan untuk asuransi tambahan (rider). 

Tidak perlu khawatir dengan pilihan rumah sakitnya karena sistem cash plan dalam asuransi tidak terpaku pada satu rumah sakit yang bekerjasama dengan perusahaan asuransinya.  

3. Sistem cashless

Kebijakan cashless bertujuan untuk mengurangi beban keuangan langsung pada individu yang diasuransikan, pada saat dirawat di rumah sakit.

Oleh karena itu, apa pun tagihan yang diajukan penyedia layanan kesehatan, perusahaan asuransi menyelesaikannya langsung melalui administrator pihak ketiga.

Asuransi kesehatan cashless juga dapat digunakan untuk rawat inap atau pelayanan rumah sakit di unit gawat darurat.

Asuransi kesehatan cashless sangat diperlukan pada saat darurat ketika kita mungkin kekurangan uang tunai atau tidak memiliki akses langsung ke uang tunai.

Untuk menikmati keuntungan asuransi cashless, pemilik asuransi kesehatan dengan sistem cashless harus membawa kartu kepemilikan asuransi sebagai syarat utama untuk mendapatkan layanan fasilitas.

Buat kamu yang mau tahu lebih banyak tentang asuransi? Lihat pertanyaan populer seputar asuransi di Tanya Lifepal.

Tanya jawab seputar cara kerja asuransi

Bagaimana perusahaan asuransi mendapatkan keuntungan?

Kebanyakan perusahaan asuransi memperoleh pendapatan sekaligus keuntungan dari premi asuransi yang kemudian diinvestasikan di pasar uang ataupun pasar modal. Keuntungan juga dihasilkan perusahaan asuransi dengan menciptakan efisiensi dan efektivitias dalam pemasaran.

Apa tugas pokok dari perusahaan asuransi?

Tugas pokok dari perusahaan asuransi adalah memberi ganti rugi finansial atas risiko-risiko yang terjadi pada nasabah asuransi atau tertanggung, memastikan pemenuhan klaim asuransi nasabah selama memenuhi ketentuan dalam polis, dan menjalankan kegiatan dengan mematuhi Undang-Undang Nomor 40 tentang Perasuransian.

Apa manfaat dari asuransi?

Asuransi memberi manfaat dengan mengalihkan kerugian finansial nasabah ke perusahaan asuransi. Dengan asuransi, nasabah atau tertanggung menerima manfaat finansial sesuai isi polis yang disepakati.

Marketplace Asuransi #1 Indonesia
Jaminan termurah sesuai anggaran Layanan gratis dari beli hingga klaim Proses praktis, polis langsung terbit Pilihan polis dari 50 asuransi terpercaya
Lihat Penawaran Promo →