Reasuransi: Pengertian, Contoh, Jenis, dan Manfaatnya

pengertian reasuransi

Reasuransi adalah asuransinya perusahaan asuransi. Maksudnya, perusahaan asuransi memanfaatkan reasuransi untuk mengalihkan risiko ketidakmampuan finansialnya kepada perusahaan lain (reasuradur). Dengan demikian, beban yang ditanggung perusahaan asuransi dapat diminimalkan. 

Secara sederhana, definisi reasuransi berarti perusahaan asuransi dapat melindungi aset dan keuangannya dari kerugian akibat pembayaran klaim kepada nasabah berkat adanya proteksi finansial dari perusahaan reasuransi.

Semua perusahaan asuransi dapat memanfaatkan reasuransi, tidak terkecuali penyedia jasa asuransi kesehatan, asuransi jiwa, serta terutama asuransi properti yang umumnya memberikan uang pertanggungan yang lebih besar.

Sama seperti perusahaan asuransi, kita juga membutuhkan proteksi keuangan sebagai bentuk antisipasi datangnya pengeluaran mendadak seperti meninggalnya tulang punggung keluarga. Proteksi keuangan kamu dengan produk asuransi jiwa terbaik di Lifepal! Untuk mengetahui asuransi jiwa mana yang cocok buat kamu, silakan ikuti kuis berikut:

Mengapa Perusahaan Asuransi Memerlukan Reasuransi?

Ada dua alasan mengapa muncul kebutuhan perusahaan reasuransi. Pertama, perusahaan asuransi menanggung risiko klaim yang besar sehingga harus mengalihkan sebagian risiko tersebut. Umumnya, hal ini terjadi ketika perusahaan asuransi merasa nilai yang ia tanggung, salah satunya uang pertanggungan, jauh lebih besar daripada premi yang mereka kelola.

Sebagai badan usaha, perusahaan asuransi ingin melindungi kestabilan keuangan dan pendapatannya. Di sinilah peran reasuradur untuk meminimalisasi risiko kerugian tersebut. 

Kedua, setiap perusahaan asuransi pasti memiliki kas cadangan klaim yang harus tersedia, takut-takut nasabahnya bakal mengajukan klaim dalam waktu dekat. Fungsi reasuransi adalah membantu pengelolaan kas tersebut jadi lebih “longgar”, sehingga kuota untuk penerbitan produk asuransi yang baru juga lebih besar.

Tujuan Reasuransi

Apa sih tujuan reasuransi? Sesuai dengan arti reasuransi, maka tujuannya antara lain:

1. Capacity boosting: terbatasnya kapasitas perusahaan asuransi untuk menerima jumlah pertanggungan yang tinggi, yang kemudian akan diperbesar oleh fasilitas dari perusahaan reasuransi.

2. Removal of Uncertainty: dapat membantu perusahaan asuransi menstabilkan tingkat kerugian dengan menghilangkan beberapa ketidak pastian seperti frekuensi dan kapan kerugian akan terjadi serta berapa besar kerugian yang akan dialami.

3. Confidence: dengan dihilangkannya ketidak pastian, maka reasuradur menciptakan rasa yakin bagi perusahaan asuransi untuk memperbesar investasi.

4. Catasthrope Protection: melindungi perusahaan asuransi dari risiko kerugian finansial yang luar biasa jumlahnya.

5. Spread of Risk: tujuan reasuransi adalah sebagai mekanisme pengalihan risiko dari perusahaan asuransi ke reasuradur, karena fungsi reasuransi adalah sebagai alat penyebar risiko.

Jenis-jenis Reasuransi

Ada tiga jenis metode reasuransi yang digunakan di Indonesia, yaitu treaty, fakultatif, facultative obligatory, dan pools. Jenis reasuransi adalah:

1. Treaty

Dalam metode ini, perusahaan asuransi wajib melimpahkan risiko kepada reasuradur, biasanya dalam periode 12 bulan. Metode ini memiliki dua jenis:

2. Fakultatif

Dalam metode fakultatif, perusahaan asuransi bisa melimpahkan seluruh atau sebagian risiko kepada reasuradur. Namun, gak ada kewajiban perusahaan asuransi buat melimpahkan risiko itu.

3. Facultative Obligatory

Perusahaan asuransi bebas menentukan apakah mau mengalihkan risiko atau gak. Kalau ia memutuskan mau mengalihkan, reasuradur wajib menerimanya selama risiko tersebut sesuai perjanjian.

4. Pools

Bentuk perjanjian antara beberapa perusahaan asuransi untuk menempatkan jenis asuransi tertentu dan secara kumulatif ditempatkan pada reinsurance bersama. Metode ini biasa dipakai pada asuransi berisiko tinggi, misalnya asuransi penerbangan.

Cara Kerja Reasuransi

Lalu, bagaimana mekanisme atau cara kerja reasuransi terhadap perusahaan asuransi? Sama halnya seperti perusahaan asuransi pada nasabah, perusahaan asuransi yang menggunakan fasilitas ini juga harus mengeluarkan premi untuk pengalihan risiko tersebut.

Namun, tentu angkanya berada di bawah besaran premi yang didapat dari nasabah asuransi, sehingga ia bisa mengambil untung.

Dalam menangani keperluan kliennya (penyedia asuransi), beberapa perusahaan reasuransi bisa bergabung untuk mengelola reasuransi yang sama. Mereka lalu membagi peran, ada yang menjadi lead insurer (pihak yang menentukan kontrak dan premi), lalu sisanya menjadi following insurer (mengambil bagian dalam pengelolaan reinsurance).

Reasuransi Syariah

Sama seperti produk asuransi, terdapat juga produk reasuransi syariah atau retakaful yang berbasis syariat Islam. Tidak terlalu jauh berbeda dengan asuransi syariah, reasuransi syariah adalah perusahaan yang memberikan fasilitas saling menanggung antara perusahaan asuransi syariah dengan reasuradur dan menggunakan konsep sharing of risk.

Mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18 /PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi Dengan Prinsip Syariah, reasuransi syariah memiliki prinsip sebagai berikut:

  • memiliki kesepakatan tolong-menolong atau ta’awun dan saling menanggung (takaful) antara para peserta
  • ada kontribusi peserta dalam dana tabarru’
  • perusahaan bertindak sebagai pengelola dana Tabarru’
  • terdapat prinsip keadilan, dapat dipercaya (amanah), keseimbangan (tawazun), kemaslahatan (maslahah), dan keuniversalan (syumul)
  • tidak mengandung ketidakpastian/ketidakjelasan (gharar), perjudian (maysir), bunga (riba), penganiayaan (zhulm), suap (risywah), maksiat, dan objek haram.

Perbedaannya dengan Perusahaan Asuransi

Kendati memiliki konsep serupa, perusahaan reasuransi memiliki beberapa perbedaan dengan asuransi, di antaranya sebagai berikut.

1. Hubungan dengan nasabah

Perusahaan reasuransi gak berkomunikasi langsung dengan nasabah asuransi, akan tetapi hanya bekerja sama dengan perusahaan asuransi dan gak perlu sepengetahuan nasabah.

2. Segmen nasabah

Kebanyakan asuransi menyasar segmen retail (business to customer/B2C) dan korporat dengan kompetisi tinggi, makanya selalu aktif beriklan biar branding-nya populer di masyarakat. Sementara itu perusahaan reinsurance gak melakukan hal yang sama karena kliennya adalah perusahaan asuransi (business to business/B2B).

Contoh Perusahaan Reasuransi di Indonesia

Lantas, apa saja sih contoh perusahaan reasuransi yang sudah eksis beroperasi di Indonesia? Beberapa nama di bawah ini pernah diulas oleh Lifepal. Yuk, kita kenalan dengan berbagai contoh reasuransi:

 

Itulah penjelasan tentang pentingnya reasuransi. Kalau kamu punya pertanyaan lain seputar asuransi, silakan tanyakan langsung pada ahlinya lewat fitur Tanya Lifepal!

Tanya jawab seputar Reasuransi

Asuransi Diskon 25% – Lihat 500+ Pilihan!