6 Prinsip Asuransi yang Wajib Dipahami Sebelum Miliki Polis

Prinsip

Tidak bisa ditampik bahwa asuransi punya beragam manfaat yang sangat berguna untuk hidup kita. Akan tetapi, di sisi lain, ada pula yang masih belum mengerti.

Salah satu penyebabnya adalah kurang paham prinsip asuransi paling dasar.

Pada beberapa kejadian tertentu, ada beberapa nasabah yang komplain mengenai ribetnya klaim. Kemudian, ada pula yang merasa bahwa perusahaan asuransi tidak menepati janji mereka.

Teman Andalan Untuk Kebutuhan Asuransimu

  • Bandingkan lebih dari 100 polis
  • Konsultan terbaik di sisimu
  • Bantuan klaim gratis dan mudah
Rp
+62

Jangan sepenuhnya salahkan pada perusahaan asuransi, lho!

Prinsip-prinsip asuransi paling dasarlah yang bisa jadi kita kurang pahami. Oleh sebab itu, saat akhirnya akan ajukan klaim tertentu, ternyata kita tidak melihat ada pasal tertentu atau pengecualian tertentu.

Entah karena tidak begitu detail atau terlalu malas memahami, mengabaikan prinsip-prinsip asuransi terpenting hanya akan menyulitkan kita. Jadi, sebelum beli polis atau berasuransi, ada baiknya untuk benar-benar paham seluk-beluk asuransi.

Prinsip Asuransi Paling Dasar yang Wajib Dipahami

Prinsip Asuransi yang Wajib Dipahami

Dalam dunia asuransi terdapat 6 prinsip asuransi dasar yang wajib Anda pahami, antara lain:

1. Insurable Interest

Prinsip Insurable interest adalah hak untuk mengasuransikan yang dilakukan karena adanya hubungan atau kepentingan. Kepentingan untuk berasuransi tersebut antara tertanggung dan yang diasuransikan.

Misalnya, saja Anda mengambil asuransi jiwa sebagai tertanggung dan pihak yang ditunjuk adalah pasangan Anda. Keputusan tersebut diambil karena pihak yang ditunjuk akan merugi bila terjadi risiko pada tertanggung.

Prinsip ini secara sederhana mengedepankan jaminan bagi pihak yang ditunjuk. Biasanya pihak yang ditunjuk masih cukup bergantung secara finansial pada pihak tertanggung.

Contoh lain adalah saat Anda mengambil asuransi jiwa saat sedang mengambil KPR. Dengan cara ini, Anda tidak akan membebankan pihak yang ditunjuk yaitu keluarga untuk meneruskan cicilan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Anda.

Contoh asuransi yang termasuk dalam prinsip ini juga mencakup asuransi kredit. Dengan produk asuransi ini, Anda tidak akan membebankan utang pada keluarga atau penjamin. Sebab, perusahaan yang akan melanjutkan cicilan Anda bila terjadi risiko meninggal.

Biasanya insurable interest ini yaitu kepentingan untuk diasuransikan ini diterapkan pada:

  • Hubungan keluarga seperti misalnya suami atau istri, dan anak-anak.
  • Hubungan bisnis seperti misalnya perusahaan dengan orang penting di situ, atau kreditur dan debitur.

2. Utmost Good Faith

Prinsip asuransi satu ini disebut pula sebagai itikad baik. Jadi, perjanjian yang akan dibuat harus didasarkan pada fakta-fakta dan tentu saja jujur. Jadi, calon tertanggung harus menyampaikan kondisi yang lengkap dan akurat.

Dari informasi tersebut, pihak perusahaan pun dapat menentukan premi yang sesuai untuk calon tertanggung. Selain itu, informasi tadi juga digunakan untuk menyetujui ataupun menolak pengajuan klaim.

Baik penanggung atau perusahaan asuransi dan tertanggung harus mengungkapkan yang benar, mulai dari:

  • Tertanggung harus jujur memberi tahu pengalaman klaim yang pernah dilakukan. Kemudian, pengalaman penutupan asuransi bila ada. Tak lupa tentu saja kondisi penyakit saat ini.
  • Penanggung pun harus terbuka soal perjanjian asuransi, termasuk khususnya perkecualian dalam polis. Kemudian, penanggung juga memastikan agen mereka memberi pengetahuan soal produk pada tertanggung.

3. Proximate Cause

Proximate cause secara sederhana adalah penyebab utama paling awal. Prinsip ini sangat diperlukan karena dalam asuransi terdapat kesulitan untuk tentukan penyebab utama. Contohnya saja dalam satu kejadian terjadi peristiwa berturut-turut yang menyebabkan kerugian.

Sebagai contoh, rumah terbakar pada saat terjadi kebakaran dan angin topan sekaligus. Dari peristiwa tersebut harus dirunut mana yang terjadi terlebih dahulu.

Biasanya dalam hal ini dilakukan dua macam pendekatan:

  • Dirunut dari kejadian awal. Bila kejadian awal tersebut menyebabkan kejadian berikutnya maka proximate cause-nya adalah kejadian awal tersebut. Bila tidak, maka ada kejadian lain yang jadi penyebab.
  • Dirunut dari kejadian akhir. Dari situ dilihat runutnya dan rangkaian yang tidak terputus merupakan proximate cause.

4. Indemnity

Sering disebut sebagai prinsip ganti-rugi. Prinsip ini mengatur pihak perusahaan asuransi untuk membayarkan penggantian kerugian sesuai premi. Ganti rugi tersebut bisa lebih kecil dari kesepakatan namun tidak bisa lebih besar.

Bentuk penggantian tersebut bisa dilakukan dalam beberapa metode, antara lain:

  • Tunai, yaitu pembayaran dilakukan secara tunai sesuai kesepakatan.
  • Repair,  penggantian berdasarkan perbaikan. Biasa nominalnya tidak lebih dari 75 persen.
  • Reinstatement, yaitu penggantian dengan menggantikan barang yang alami kerugian tersebut dengan yang baru.
  • Replacement, penempatan kembali atas kerugian yang terjadi.

5. Subrogation

Subrogation adalah prinsip pengalihan hak dari tertanggung kepada penanggung setelah klaim sudah dibayarkan.

Jadi hak subrogation atau subrogasi ini akan beralih ke pihak perusahaan asuransi. Berikut beberapa keadaaan yang memunculkan prinsip subrogasi:

  • Perbuatan melanggar hukum

Contoh kasus, mobil A telah diasuransikan pada perusahaan XYZ. Kemudian, terjadi kecelakaan dimana mobil A ditabrak oleh mobil B. Pihak perusahaan asuransi XYZ akan membayarkan klaim mobil A. Setelahnya, perusahaan asuransi XYZ memiliki hak subrogasi untuk menuntut pemilik mobil B atas kerugian yang terjadi.

  • Sudah diatur dalam kontrak

Dalam kontrak terdapat hak dan tanggung jawab. Bila salah satu pihak lalai menjalankan kewajiban atau perjanjian tersebut yang menyebabkan kerugian pada pihak lain, maka pihak yang bersalah wajib ganti rugi.

  • Diatur dalam undang-undang

Pertanggungan juga bisa diatur oleh undang-undang. Contoh, di beberapa negara diterapkan bila ada kerusuhan maka pemerintah daerahlah yang bertanggung jawab. Dalam kasus tersebut adalah pihak kepolisian.

  • Pokok pertanggungan

Saat terjadi klaim misal untuk total loss only maka tertanggung akan mendapatkan ganti rugi penuh. Kemudian, bila terdapat sisa barang maka akan jadi hak penanggung bila ganti rugi sudah dibayarkan.

6. Contribution

Contribution dalam prinsip asuransi mengatur hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya untuk sama-sama menanggung. Akan tetapi, kewajiban mereka terhadap tertanggung tidak harus sama dalam hal memberikan indemnity alias kompensasi finansial.

Sebagai contoh, Pak A memiliki dua polis asuransi yang sama yaitu asuransi X dan asuransi Y. Kemudian, Pak A mengalami kerugian dengan total Rp 100 juta. Dari situ, asuransi X akan membayarkan Rp 75 juta, sementara asuransi Y membayarkan maksimal Rp 25 juta.

Tertanggung tidak bisa mendapatkan pertanggungan dari masing-masing polis asuransi yang dia miliki. Dengan demikian, total pertanggungan yang dia dapatkan tidak akan lebih dari kerugian yang terjadi.

Prinsip kontribusi ini mengatur agar jaminan untuk asuransi yang sama dengan nilai yang sama akan dibagi pro-rata.

Wah, cukup banyak juga penjabaran prinsip asuransi ya?

Meski panjang, prinsip asuransi inilah yang jadi dasar untuk penentuan berbagai keputusan. Mulai dari polis asuransi, klaim, hingga ganti-rugi dan sebagainya.

Oleh sebab itu, ada baiknya Anda paham dulu setidaknya sebagian dari prinsip ini. Dengan demikian, Anda bisa mengerti apa saja hak dan kewajiban Anda sebagai pemegang polis asuransi.

Helda Sihombing

Berpengalaman di industri FinTech dan jurnalis media finansial selama 5 tahun. Bercita-cita meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia lewat digital.