Asuransi Jiwa Syariah

Diskon Terbaik Diskon Terbaik
500+ Pilihan 500+ Pilihan
Bantuan Klaim Bantuan Klaim
+62
Dengan lanjut, Saya setuju syarat & ketentuan berlaku.
1970/01/01 00:00:00Cicilan 0%Hemat 25%

Daftar Asuransi Jiwa Syariah Terbaik

Asuransi jiwa syariah adalah produk asuransi jiwa yang dikelola sesuai syariat Islam. Dalam hal pengelolaan dana asuransi yang nantinya bakal dijadikan uang pertanggungan dipastikan hanya di perusahaan-perusahaan halal saja.

Berikut rekomendasi asuransi jiwa syariah terbaik rekomendasi Lifepal dengan pertimbangan premi terjangkau, uang pertanggungan cukup sepadan, dan beberapa benefit lain.

Asuransi Jiwa Syariah Takaful Keluarga

  • Nama polis: Al Khairat Individu
  • Usia masuk nasabah hingga 65 tahun
  • Premi mulai Rp250 ribu per tahun
  • Pilihan pembayaran premi: tahunan dan sekaligus
  • Santunan meninggal dunia 100% UP baik akibat sakit maupun kecelakaan

Asuransi Jiwa Syariah Al Amin

  • Terbagi menjadi 3 pilihan plan berbeda yaitu At Ta’Min Pembiayaan Mikro, At Ta’Min Siswa Dinar, dan Al Amin Badal Arafah
  • At Ta’Min Siswa Dinar: Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan biaya pendidikan
  • At Ta’Min Pembiayaan Mikro: Pilihan santunan meninggal dunia berupa pelunasan pinjaman atau kredit
  • Al Amin Badal Arafah: Pilihan santunan meninggal dunia berupa pembiayaan ibadah haji

Asuransi Jiwa JMA Syariah

  • Terbagi menjadi 5 pilihan plan berbeda yaitu JMA Ilma, JMA Mumtaza, JMA Asyifa, JMA Salama, JMA Aghnia
  • JMA Ilma: Santunan meninggal dunia dalam bentuk dana pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi
  • JMA Mumtaza: Asuransi jiwa berbalutkan unsur tabungan sekaligus yang kemudian diberikan dalam bentuk dana hari tua
  • JMA Asyifa: Asuransi jiwa dan kesehatan sekaligus
  • JMA Salama: Manfaat santunan meninggal dunia hingga Rp10 juta
  • JMA Aghnia: Santunan meninggal dunia dan manfaat hidup. Artinya, jika nasabah hidup hingga masa akhir polis, maka akan diberikan akumulasi dana investasi

Asuransi Jiwa Prudential Syariah

  • Nama polis: PRUlink Syariah Assurance Account (PAA Syariah)
  • Usia masuk nasabah: 1-70 tahun
  • Minimum dana kontribusi: Rp400 ribu per bulan
  • Santunan meninggal dunia atau caca total dan tetap
  • Terdapat pilihan instrumen asuransi syariah
  • Pilihan polis tambahan (rider) sangat lengkap
  • Diperbolehkan mengajukan cuti membayar dana kontribusi untuk alasan darurat
  • Manfaat surplus underwriting akan diberikan kepada peserta asuransi

Asuransi Jiwa Sinarmas Syariah

  • Terbagi menjadi 4 pilihan plan berbeda yaitu Power Save Syariah, SMiLe Multi Invest Syariah, SMiLe PA Syariah, dan SMiLe Kid Insurance Syariah
  • Power Save Syariah: Manfaat asuransi jiwa atas risiko kecelakaan dengan investasi sekaligus
  • SMiLe Multi Invest Syariah: Manfaat asuransi jiwa unit link dengan UP mencapai 400% dari dana kontribusi tahunan yang dibayarkan
  • SmiLe Pa Syariah: 100% santunan atas risiko meninggal dunia atau cacat tetap total akibat kecelakaan.
  • SmiLe Kid Insurance: Manfaat asuransi pendidikan diberikan secara bertahap hingga anak berusia 22 tahun.

Asuransi Jiwa Allianz Syariah

  • Terbagi menjadi 3 pilihan plan berbeda yaitu Allisya Protection Plus, Allisya Maxi Fund Plus, dan Allianz Tasbih
  • Allisya Protection Plus: Memberikan manfaat santunan jiwa 100% dan nilai investasi sekaligus
  • Allisya Maxi Fund Plus: Memberikan santunan meninggal dunia maksimal 350% dari premi
  • Allianz Tasbih: Manfaat asuransi jiwa sebesar 200% jika meninggal dunia saat perjalan haji atau di Mekkah dan Madinah saat ibadah umrah.

Hukum Asuransi Jiwa Syariah

Hukum asuransi jiwa syariah di Indonesia berpedoman pada Al Quran, hadits, fatwa MUI, dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Empat pedoman ini mengarahkan operasional bisnis yang tidak boleh keluar dari prinsip Islam.

Dasar hukum di Indonesia mengacu pada empat pedoman yaitu Al Quran, hadits, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berikut adalah dasar hukum asuransi jiwa syariah di Indonesia.

1. Al Quran dan hadits

Asuransi dalam Islam telah ada sejak zaman dahulu di masa perang. Itu sebab, ada beberapa surat dalam Al Quran yang menjadi pedoman bisnis asuransi jiwa syariah, Berikut ulasannya:

  • Al Maidah 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
  • An Nisaa 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap mereka.”
  • HR Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat.”

2. Fatwa MUI

Berdasarkan Al Quran dan hadits di atas, MUI mengeluarkan beberapa fatwa untuk memberikan kepastian atas kehalalan produk asuransi jiwa syariah. Berikut beberapa fatwa MUI yang menjadi hukum asuransi jiwa syariah di Indonesia:

  • Fatwa No 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
  • Fatwa No 51/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Mudharabah Musytarakah pada Asuransi Syariah
  • Fatwa No 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Wakalah Bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah
  • Fatwa No 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru pada Asuransi Syariah.

3. Peraturan Menteri Keuangan

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) menjadi dasar hukum asuransi jiwa syariah. Melalui PMK Nomor 18/PMK.010/2010 tentang Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah, terdapat pasal-pasal yang memayungi bisnis asuransi jiwa syariah yaitu:

  • Pasal 1 Nomor 1: Asuransi berdasarkan prinsip Syariah adalah usaha saling tolong-menolong (ta’awuni) dan melindungi (takafuli) di antara para nasabah melalui pembentukan kumpulan dana (tabbaru’) yang dikelola dengan prinsip syariah untuk menghadapi risiko tertentu.
  • Pasal 1 Nomor 2: Perusahaan adalah perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yang menyelenggarakan seluruh atau sebagian usahanya berdasarkan prinsip syariah.
  • Pasal 1 Nomor 3: Nasabah adalah orang atau badan yang menjadi nasabah program asuransi dengan prinsip Syariah, atau perusahaan asuransi yang menjadi nasabah reasuransi dengan prinsip syariah.

Prinsip Asuransi Jiwa Syariah

Dari empat pedoman di atas, operasional asuransi jiwa syariah bagi perusahaan maupun pemegang polis harus sesuai prinsip syariah. Berikut ini prinsip yang wajib diketahui calon tertanggung.

  1. Prinsip tauhid adalah prinsip paling dasar dalam pengelolaan. Pada prinsip ini, niat dasar memiliki asuransi bukan untuk keuntungan, tetapi ikut serta dalam menerapkan prinsip syariah pada asuransi.
  2. Prinsip keadilan harus diterapkan nasabah maupun perusahaan asuransi. Perusahaan harus bersikap adil kepada semua peserta asuransi. Kedua pihak juga harus adil dalam memenuhi tanggung jawab serta hak dan kewajibannya.
  3. Prinsip tolong-menolong dimulai sejak akad dibuat. Kontribusi (premi) yang dibayarkan akan digunakan untuk menolong peserta lain yang mengalami musibah.
  4. Prinsip kerja sama adalah prinsip dasar yang terjalin antara perusahaan dengan peserta asuransi. Perusahaan mengelola dana nasabah dan peserta membayar kontribusi untuk dikelola perusahaan.
  5. Prinsip amanah mengutamakan percaya dan jujur yang harus diterapkan oleh perusahaan asuransi dan peserta asuransi. Perusahaan asuransi harus amanah dalam mengelola dana nasabah. Peserta asuransi harus jujur dalam mengajukan klaim.
  6. Prinsip rida artinya menerima dan ikhlas. Nasabah rida kontribusinya dikelola perusahaan. Sedangkan perusahaan rida memberikan keuntungan dan pembayaran klaim sesuai akad.
  7. Prinsip menghindari riba artinya kontribusi dari peserta asuransi wajib dikelola dan diinvestasikan dalam bisnis yang halal dan sesuai prinsip syariah.
  8. Prinsip menghindari perjudian wajib diterapkan karena Islam melarang pengelolaan dana dan investasi di sektor yang mengandung unsur judi.
  9. Menghindari ketidakjelasan diterapkan sejak akad. Agen asuransi harus menjelaskan sedetail-detailnya mengenai kontribusi, klaim, hingga hal-hal yang membuat klaim ditolak.
  10. Menghindari suap, di mana perusahaan maupun peserta dilarang melakukan suap. Contohnya nasabah yang ingin klaimnya dikabulkan menyuap agen. Suap (risywah) merupakan kegiatan yang hanya menguntungkan satu pihak, dan pihak lain dirugikan. Itu sebabnya dilarang.

Pertanyaan dan Tips Seputar Asuransi Jiwa Syariah

Asuransi jiwa syariah adalah asuransi yang memberikan santunan meninggal dunia atau uang pertanggungan (UP) jiwa kepada keluarga atau ahli waris ketika tertanggung utama meninggal atau mengalami cacat tetap total, yang dikelola sesuai syariat Islam.

Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Karena itu asuransi syariah menjadi salah satu proteksi yang paling banyak dicari masyarakat Indonesia. Selain itu, produk ini menjadi solusi tepat untuk memberikan proteksi asuransi bagi nasabah yang khawatir akan adanya hukum riba dalam asuransi jiwa konvensional. 

Jika dilihat dari sejarahnya, asuransi syariah muncul setelah banyak masyarakat yang ragu akan kehalalan dari asuransi konvensional. Hingga akhirnya Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) mengeluarkan keputusan melalui fatwa Nomor 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah. Dari situlah mulai bermunculan pilihan asuransi syariah. 

Menariknya, tujuh tahun sebelum fatwa diterbitkan, asuransi syariah di Indonesia telah hadir melalui perusahan asuransi syariah pertama yaitu PT Syarikat Takaful Indonesia, pada 24 Februari 1994. Sejak kemunculan asuransi Takaful, semakin banyak perusahaan konvensional yang melirik jenis produk ini karena pangsa pasar yang begitu luas di Indonesia.

Jika di tengah jalan tertanggung meninggal dunia dengan sebab yang termasuk atau ditanggung dalam polis, perusahaan akan membayarkan uang pertanggungan kepada ahli waris. Penerima manfaat adalah ahli waris yang ditinggalkan oleh tertanggung.

Menurut M Syakir selaku pengamat ekonomi, beberapa kalangan masih ragu dengan kehalalan dari asuransi syariah ini. Oleh sebab itu, M Syakir menjelaskan bahwa konsep syariat berdiri atas keinginan sekumpulan orang yang ingin saling membantu dan melindungi satu sama lain dengan cara mengumpulkan dana (dana tabarru’). Mengikuti konsep akad tolong menolong tersebut, Syakir percaya bahwa asuransi syariah yang mengikuti aturan DSN MUI tidak haram atau mengandung unsur riba.

Asuransi syariah hadir sebagai solusi bagi nasabah yang membutuhkan proteksi asuransi jiwa namun khawatir akan konsep riba. Sebab, asuransi syariah menggunakan akad tolong menolong yang sesuai dengan syariat Islam.

Asuransi memiliki dasar hukum sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian.  Perusahaan juga diatur oleh Asosiasi asuransi syariah Indonesia (AASI).

Melalui AASI inilah perusahaan atau anak perusahaan yang menjual produk asuransi jiwa syariah ataupun asuransi umum syariah mendapatkan sertifikasi secara kredibel, independen, dan tepercaya.

Selain itu, negara pun mengatur asuransi syariah melalui peraturan Menteri Keuangan agar perusahaan yang dibentuk memenuhi prinsip syariah dan kepastian hukum dalam penyelenggaraan usaha asuransi dan usaha reasuransi dengan prinsip syariah.

Peraturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK.010/2010 Tentang Prinsip Dasar Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Usaha Reasuransi dengan Prinsip Syariah.

Namun, dasar hukumnya adalah Al Quran, hadits, dan fatwa MUI.

Akad atau perjanjian asuransi jiwa syariah tentu harus mengikuti prinsip syariat Islam, yaitu tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat ketika menghadapi risiko yang terjadi pada nasabah atau peserta asuransi. 

Terdapat tiga akad asuransi syariah secara umum yaitu:

  • Akad Tijarah artinya semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
  • Akad Tabarru’ artinya semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersial.
  • Akad Wakalah bil Ujrah artinya yang memberikan wewenang kepada penyedia asuransi dalam mengelola dana proteksi atau investasi milik nasabah.

Memilih asuransi jiwa syariah terbaik bukan hanya didasarkan pada kontribusi (premi) dan uang pertanggungan yang besar. Tetapi, pertimbangkan tiga hal berikut untuk mendapatkan produk terbaik:

  • Kontribusi (premi) murah atau seimbang antara harga yang dibayar dengan perlindungan yang diberikan
  • Menyediakan manfaat atau jaminan tambahan (riders)
  • Terdaftar di Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).

Cara pembayaran kontribusi (premi) bisa dilakukan dengan berbagai metode, yaitu:

  • Transfer bank
  • Kartu kredit
  • Autodebet

Sementara itu, frekuensi pembayaran tergantung pada kesepakatan polis. Berikut beberapa pilihannya:

  • Pembayaran kontribusi (premi) tunggal, yaitu peserta asuransi hanya perlu membayarkan kontribusi (premi) sekali saja untuk rentang waktu pertanggungan tertentu.
  • Pembayaran kontribusi (premi) berkala (top-up berkala), yaitu peserta membayarkan kontribusi (premi) secara berkala. Ada yang bulanan ataupun tahunan.

Apakah asuransi jiwa syariah dapat dicairkan? Jawabannya, bisa. Yaitu pada saat tertanggung meninggal dunia atau mengalami cacat tetap total atau memang ingin menutup polis.

Pada prinsipnya tidak ada perbedaan cara klaim asuransi syariah dan konvensional. Ahli waris yang mengurus klaim asuransi harus menyiapkan beberapa berkas berikut ini:

  • Polis asuransi asli.
  • Fotokopi semua hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi jika meninggal karena sakit.
  • Fotokopi KTP ahli waris yang sah.
  • Surat keterangan kematian dari dokter/rumah sakit yang menjelaskan penyebab kematian tertanggung.
  • Surat keterangan kematian dari pemerintah setempat bisa diurus di catatan sipil secara gratis dengan membawa KTP tertanggung.
  • Surat keterangan kepolisian (BAP) apabila kematian tertanggung disebabkan karena kecelakaan lalu lintas.

Setelah berkas-bekas lengkap, ahli waris dapat mengikuti langkah-langkah berikut ini untuk mengurus klaim:

  1. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menginformasikan kepada perusahaan bahwa tertanggung telah meninggal dunia tidak lebih dari 7 hari sejak kejadian. Pada saat yang sama, ahli waris harus menyiapkan dokumen dan persyaratan klaim terutama nomor polis asuransi, surat kematian pihak berwenang, dan informasi lain yang dibutuhkan.
  2. Perusahan asuransi akan mengirimkan formulir klaim yang harus dilengkapi oleh ahli waris. Formulir harus diisi dengan lengkap dan segera dikembalikan kepada perusahaan beserta dengan syarat-syarat dokumen yang diminta.
  3. Setelah berkas diterima oleh perusahaan, data tersebut akan diverifikasi untuk menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan perjanjian, sebab kematian, dan bukti-bukti lain yang dapat dipertanggung jawabkan.
  4. Jika kematian sesuai dengan polis asuransi dalam arti sudah memenuhi semua persyaratan klaim tanpa ada rekayasa dan tidak melanggar ketentuan hukum, barulah perusahaan asuransi akan menghitung kewajiban yang harus diberikan kepada penerima manfaat, dalam hal ini adalah ahli waris sah tertanggung.
  5. Setelah perhitungan dan proses administrasi selesai, perusahaan asuransi akan mencairkan uang pertanggungan sesuai dengan perjanjian di dalam polis asuransi. Perusahaan asuransi akan memberikan penjelasan tentang skema pembayaran uang pertanggungan serta nomor rekening ahli waris. Proses verifikasi akan memakan waktu yang cukup lama untuk menghindari kesalahan yang tidak diharapkan.

Ahli waris harus memahami bahwa klaim akan secara otomatis ditolak oleh perusahaan asuransi dengan alasan-alasan berikut ini:

  • Tindakan bunuh diri baik dalam kondisi sadar maupun tidak sadar.
  • Data-data yang diserahkan terindikasi tidak benar atau tidak sesuai dengan fakta-fakta yang terjadi.
  • Tertanggung dihukum mati akibat vonis pengadilan, meninggal dunia karena melakukan tindakan kriminal atau melawan hukum baik berperan secara langsung maupun tidak langsung.
  • Tertanggung meninggal dunia karena tindak kejahatan yang dilakukan oleh ahli waris dengan tujuan mendapatkan uang pertanggungan asuransinya.

Hal-hal tersebut akan mengakibatkan klaim ditolak oleh perusahaan meskipun tertanggung rajin membayarkan kontribusi (premi)nya.

BNI Tapenas iB Hasanah merupakan program dana tabungan berjangka yang dihadirkan oleh bank BNI Syariah. Dengan tergabung dalam tabungan berjangka ini, nasabah akan mendapatkan manfaat asuransi jiwa sekaligus. Adapun setoran dana tabungan awalnya cukup terjangkau, yaitu minimal Rp100 ribu.

Salah satu alasan membeli asuransi jiwa syariah secara online karena lebih mudah dan nyaman tanpa bantuan agen asuransi. Pembelian secara online memudahkan calon tertanggung yang memiliki kesibukan tinggi.

Berikut beberapa istilah dalam asuransi jiwa syariah:

  • Akad adalah perjanjian antara tertanggung dan penanggung atau peserta dengan perusahaan asuransi syariah yang menjelaskan hak dan kewajiban masing-masing dalam hal asuransi syariah atau proteksi syariah yang dipilih maupun ditawarkan oleh masing-masing pihak.
  • Akad Tabarru’ adalah akad hibah berupa dana yang diberikan oleh peserta yang ditujukan untuk tujuan tolong menolong dan tidak boleh digunakan oleh perusahaan asuransi syariah. Perusahaan hanya berhak menjaga atau sebagai pihak yang dititpkan dana oleh para peserta.
  • Aktuaria adalah ilmu dalam asuransi yang menggunakan metode perhitungan saintifik dalam memperkirakan dan memperhitungkan risiko.
  • Ajudikasi adalah tahap penyelesaian sengketa dalam membantu mengambil keputusan tentang penerimaan dan penolakan klaim perusahaan asuransi terhadap klaim pemegang polis.
  • Anuitas adalah pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan asuransi secara berkala dalam periode tertentu.
  • Assignor adalah pihak yang melakukan penugasan hak dan manfaat asuransi dari pemegang polis kepada orang lain. 
  • Biaya akuisisi adalah biaya yang harus dikeluarkan saat penerbitan polis.
  • Biaya top-up adalah biaya yang harus dibayarkan untuk kontribusi (premi) berkala dan kontribusi (premi) tunggal. 
  • Cash value adalah total uang yang diberikan dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis.
  • Contestable period adalah jangka waktu yang diberikan kepada perusahaan (penanggung) untuk membatalkan polis.
  • Cuti kontribusi (premi) adalah kondisi di mana tertanggung berhenti membayarkan kontribusi (premi) untuk sementara waktu.
  • Masa tenggang adalah batas akhir yang diberikan perusahaan asuransi kepada pihak pemegang polis untuk membayar kontribusi (premi) sesuai dengan perjanjian. 
  • Masa tunggu adalah periode di mana tidak ada pembayaran kontribusi (premi) karena alasan tertentu.
  • Mortalitas adalah waktu perkiraan waktu rata-rata kematian yang tidak pasti.
  • Minor adalah pemegang polis yang berusia di bawah 21 tahun. 
  • Nilai aktiva bersih (NAB) adalah nilai dasar investasi dalam polis asuransi unit link.
  • Nilai investasi adalah nilai total unit yang terbentuk dalam periode tertentu.
  • Occupational risk/hazard adalah risiko pekerjaan yang dimiliki pemegang polis.
  • Payor adalah istilah pemegang polis dimana berkedudukan sebagai orang yang membayar kontribusi (premi).
  • Pemegang polis adalah orang yang ditanggung oleh perusahaan asuransi karena terdaftar sebagai tertanggung yang membayar kontribusi (premi) (kewajiban) sesuai dengan perjanjian dalam polis asuransi. 
  • Polis adalah perjanjian yang dilakukan antara tertanggung (nasabah) dengan penanggung (perusahaan asuransi) .
  • Kontribusi (premi) adalah biaya yang dibayarkan oleh tertanggung (nasabah) atau pemegang polis kepada perusahaan asuransi sebagai penanggung. Kontribusi (premi) dibayarkan sesuai dengan kontrak dalam polis asuransi.
  • Qard adalah pinjaman murni dari dana perusahaan asuransi untuk dana tabarru’ pada saat terjadi defisit underwriting atau ketika dana tabarru’ tidak cukup membayar santunan (klaim) peserta. Namun demikian, dana qard yang sudah digunakan pada nantinya akan diganti atau dibayarkan utangnya jika dana tabarru’ mendapatkan surplus underwriting di kemudian hari.
  • Risiko adalah kemungkinan yang terjadi yang dapat menimpa seseorang atau tertanggung.
  • Secondary benefits adalah manfaat lain yang diberikan oleh perusahaan asuransi kepada tertanggung selain manfaat utama/pokok.
  • Uang pertanggungan adalah jumlah uang yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi jika tertanggung mengajukan klaim saat mengalami risiko yang dijamin dalam polis asuransi.
  • Ujrah adalah biaya administrasi yang dibebankan oleh perusahaan asuransi kepada peserta sebagai fee pengelolaan dana peserta. Besaran fee sudah disepakati antara kedua belah pihak di awal perjanjian atau awal kontrak. 
  • Underwriter adalah seseorang yang memiliki kompetensi dalam menilai dan memperhitungkan risiko pemegang polis sehingga perusahaan asuransi dapat memutuskan untuk menerima atau menolak calon nasabah.
Penulis Dzulfikar Financial Content Writer yang mengemas informasi, tips, dan kiat keuangan dengan bahasa yang lebih mudah dicerna. Lihat profile penulis
Chat Bantuan Chat Bantuan