Mengenal Deposito Mudharabah dan Perhitungan Nisbahnya

deposito mudharabah

Deposito mudharabah adalah produk simpanan dari lembaga keuangan syariah dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan prinsip bagi hasil atau mudharabah mutlaqah. Persentase bagi hasil dilakukan secara transparan di awal pembukaan rekening. 

Transaksi produk deposito mudharabah menggunakan akad bagi hasil mudharabah yang adalah akad kerja sama usaha antara pihak pertama itu nasabah (shahibul maal) pemilik dana dan bank (mudharib) sebagai pengelola dana. 

Besaran bagi hasil atau nisbah dalam deposito mudharabah ini ditentukan berdasarkan kesepakatan masing-masing pihak yang melakukan akad atau kontrak. Jadi, bisa dibilang, besaran nisbah ini adalah hasil tawar-menawar antara nasabah dan bank. 

Meski begitu, gak tertutup kemungkinan bank sudah memiliki besaran nisbah yang disesuaikan dengan jangka waktu.  

Dalam sistem mudharabah ini, jika pengelolaan dana menghasilkan keuntungan, akan dibagi dua antara pihak bank dan nasabah. Sayangnya, jika investasi tersebut merugi, hanya nasabah atau shahibul maal saja yang menanggungnya. 

Daftar nisbah deposito mudharabah 2020

Jika di deposito konvensional dikenal bunga, di lembaga keuangan syariah, gak mengenal pembungaan uang. 

Karena dalam hukum syariah, pembungaan uang itu sama dengan riba di mana konsep tersebut gak sesuai dengan hukum syariah.

Dengan begitu, penyimpanan uang dalam bentuk deposito mudharabah di bank syariah itu menggunakan sistem pembagian keuntungan atau nisbah. 

Sesuai penjelasan di awal, besaran nisbah merupakan hasil kesepakatan antara nasabah dan bank. 

Sebagai informasi, ada beberapa faktor yang menjadi penentu besaran nisbah, antara lain : 

  • Jenis produk simpanan
  • Perkiraan pendapatan investasi dan biaya operasional bank 

Dengan begitu setiap bank syariah yang memiliki produk deposito mudharabah mempunyai besaran yang variatif. 

Daftar nisbah deposito mudharabah berdasarkan jangka waktu tenor

1 bulan  3 bulan  6 bulan  12 bulan 
Bank Muamalat  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal 
Bank BNI Syariah  43% : 57% 44% : 56%  45% : 55% 46% : 54%
Bank BRI Syariah  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal 
Bank Mandiri Syariah  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal 
Bank Mega Syariah  40.12% : 59.88% 38.41% : 61.59% 36.84% : 63.16% 36.84% : 63.16%
Bank BTN Syariah  40% : 60% 43% : 57% 44% : 56% 44% : 56%
Banyak Bukopin Syariah  47% : 53% 46% : 54% 45% : 55% 44% : 56%
Bank Danamon Syariah  4.75% 4.75% 4.75% 4.75%
Bank CIMB Niaga Syariah  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal  Sesuai kesepakatan awal 

Rumus pembagian keuntungan deposito mudharabah

Dijelaskan sebelumnya, keuntungan nasabah deposito mudharabah diperoleh dari bagi hasil antara shahibul maal dan mudharib

Apabila perputaran uang yang dilakukan bank memperoleh keuntungan besar, otomatis bagi hasil yang diterima nasabah pun besar. 

Seperti apa sih perhitungan perolehan keuntungan di deposito mudharabah? 

Untuk diketahui, rumus bagi hasil yang biasa digunakan dalam deposito syariah dalam menghitung nisbah adalah sebagai berikut: Nisbah = (Nominal deposito / nominal seluruh deposito) x persentase bagi hasil × keuntungan bank pada bulan tersebut

Misalnya, nasabah A menyimpan dana di bank syariah sebesar Rp30 juta dalam jangka waktu 1 bulan. Jumlah seluruh deposito di bank tersebut dengan tenor 1 bulan, ada Rp15 miliar. 

Keuntungan bagi hasil seluruh deposito dengan jangka waktu 1 bulan adalah Rp150 juta. Nisbah bagi hasil dengan jangka waktu 1 bulan adalah 43% untuk nasabah, dan 57% untuk bank. 

Maka bagi hasil yang didapat nasabah A, adalah : 

(Rp30.000.000 / Rp15.000.000.000) x 43% x Rp150.000.000 = Rp129.000. 

Untuk diingat, bunga deposito akan dikenai pajak 20% ya. Jadi nisbah tersebut belum bulat diterima nasabah A. 

Syarat buka deposito mudharabah

Jika melihat dari skema bagi hasil di atas, sangat menarik ya untuk berinvestasi melalui deposito mudharabah di bank syariah. Nah, kalau kamu benar-benar berminat untuk menyimpan dana di deposito mudharabah, ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi. 

Syarat ini berlaku untuk nasabah individu dan badan usaha. Berikut syarat yang ditetapkan bank syariah untuk deposito mudharabah ini : 

Perorangan 

  • Mengisi form aplikasi pembukaan rekening 
  • Fotokopi identitas diri (KTP/SIM/Paspor) yang masih berlaku 
  • Fotokopi NPWP 
  • Dana penempatan minimal Rp1 juta

Badan Usaha 

  • Mengisi form aplikasi pembukaan rekening 
  • Melampirkan fotokopi KTP/SIM/Paspor yang masih berlaku 
  • Fotokopi akta pendirian beserta perubahan dan susunan pengurus terbaru 
  • Fotokopi SIUP, SITU, TDP 
  • Fotokopi surat pengangkatan/penunjukan sebagai pengurus 
  • Fotokopi NPWP. 

Manfaat deposito mudharabah

Disebut dengan deposito mudharabah karena dalam transaksi perjanjian awalnya menggunakan akad mudharabah, yaitu bagi hasil antara shahibul maal dan mudharib

Ada banyak manfaat akad mudharabah yang bisa didapat nasabah sebagai pemilik modal, di antaranya: 

  • Saat keuntungan dari usaha meningkat, secara gak langsung nisbah yang didapat nasabah juga ikut naik
  • Bank gak wajib membayar bagi hasil secara tetap seperti pemberlakuan bunga di bank konvensional. Nisbah deposito mudharabah disesuaikan dengan pendapatan atau hasil usaha bank
  • Usaha yang dijalankan bank sesuai syariah dan halal

Konsekuensi pencairan deposito mudharabah sebelum jatuh tempo     

Dalam deposito mudharabah apakah ada konsekuensi pencairan deposito? Ya. Di deposito syariah memberlakukan penalti atau denda yang dibebankan pada nasabah pemegang rekening deposito.

Kenapa diberlakukan penalti? Karena pencairan sebelum jatuh tempo berimbas langsung pada likuiditas bank. Sehingga perlu memberlakukan biaya penalti. 

Biaya penalti yang ditetapkan setiap bank syariah pun berbeda-beda. Tapi ada juga bank syariah yang membebaskan biaya penalti untuk nasabah yang mencairkan dana sebelum jatuh tempo. 

Kelebihan dan kekurangan deposito mudharabah

Dalam deposito mudharabah, ada beberapa kelebihan dan kekurangan yang perlu kamu cermati. Simak penjelasannya di bawah ini 

Kelebihan deposito mudharabah

  • Besaran nisbah kompetitif.
  • Jangka waktu yang fleksibel. 
  • Menggunakan sistem automatic roll over (ARO) atau perpanjangan otomatis.
  • Dapat dijadikan jaminan kredit.
  • Aman karena dijamin LPS atau Lembaga Penjamin Simpanan.
  • Tidak ada biaya administrasi.

Kekurangan deposito mudharabah

Tingkat kepastian nisbah tergantung realisasi bisnis dari pengelola dana. Jika kinerja bank tersebut jelek dan usaha yang dilakukan merugi, maka kerugian tersebut dibebankan pada nasabah.

Pajak deposito syariah

Sesuai ketentuan perpajakan, penghasilan yang diterima nasabah deposito mudharabah, yaitu bagi hasil dikenakan pajak penghasilan atau PPh. 

Besarannya pun sama dengan ketentuan pemotongan pajak bunga di bank konvensional sebesar 20% dari total bunga atau nisbah di bank syariah. 

Nah, untuk diingat, saat menghitung besaran bagi hasil, kamu harus kurangi lagi dengan besaran pajak ya!

Selain deposito syariah, memiliki asuransi syariah juga menguntungkan

Gak hanya deposito syariah yang memberi keuntungan lebih dibanding deposito konvensional. Asuransi syariah pun menjanjikan hal yang sama. 

Apa itu asuransi syariah? 

Merujuk pengertian asuransi syariah dari Dewan Syariah Nasional, adalah usaha untuk melindungi dan saling tolong menolong antar sejumlah orang. 

Usaha tersebut berbentuk investasi aset (tabarru) dengan pola pengembalian risiko melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. 

Asuransi syariah dapat dimanfaatkan masyarakat yang menginginkan perlindungan atau proteksi yang sesuai dengan hukum Islam. 

Karena sesuai dengan syariat Islam, maka asuransi syariah ini terhindar dari riba dan diawasi oleh DPS (Dewan Pengawas Syariah). 

Tujuan pengawasan ini untuk memastikan produk yang dimiliki perusahaan asuransi syariah sudah sesuai dengan hukum syariat Islam. 

Apa saja keuntungan yang bisa kamu dapatkan dari asuransi syariah: 

1. Bagi hasil 

Sama dengan sistem deposito syariah, dalam asuransi syariah juga menerapkan sistem bagi hasil. Jadi, kontribusi yang disetor ke perusahaan asuransi akan menjadi hak dari nasabah asuransi syariah. Terutama jika ada klaim yang diajukan. 

Sistem bagi hasil dalam asuransi syariah sebagai berikut: 

  • 60% ditahan sebagai saldo tabarru 
  • 30% dibagikan ke nasabah 
  • 10% jadi hak perusahaan asuransi sebagai pengelola dana

Pembagian hasil keuntungan disesuaikan dengan nilai kontribusi atau premi yang dibayar nasabah. Jadi, makin besar nilai premi makin besar pula keuntungan yang didapat. 

2. Satu polis bisa dipakai bersama 

Berbeda dengan asuransi konvensional di mana satu polis hanya untuk satu nasabah saja. Di asuransi syariah, satu polis bisa melindungi kamu dan keluarga. 

Dengan begitu, nasabah pun jadi lebih untung karena biaya premi jadi lebih ringan. Tapi kamu dan keluarga mendapat perlindungan maksimal. 

3. Klaim ganda 

Selain itu, dalam asuransi syariah memungkinkan kamu untuk melakukan klaim ganda. Jadi, kalau kamu punya asuransi lain, asuransi syariah tetap akan memberikan klaim penuh sesuai yang diajukan. 

Daftar bunga deposito bank umum terbaru 2020

Turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) saat ini sebenarnya gak terlalu berdampak pada produk perbankan mudharabah. 

Karena bagi hasil dari deposito mudharabah berasal dari kinerja bank syariah dan hasil kelola dana nasabah tersebut. 

Terlebih jika melihat perbedaan mendasar dalam perolehan keuntungan yang ditawarkan antara bank konvensional dan bank syariah. Kamu pastinya akan membandingkan keduanya dan memilih sistem mana yang lebih menguntungkan. 

Sebagai perbandingan sebelum memutuskan akan mendepositkan dana di mana, ada baiknya kamu cek dulu bunga deposito berjangka di bank-bank umum berikut ini: 

Pertanyaan-pertanyaan seputar deposito mudharabah

Beberapa pertanyaan di bawah ini sering ditanyakan untuk mengetahui informasi deposito mudharabah lebih jauh.