Pengertian Saham Blue Chip dan Pembagian Dividennya

belajar saham di bei

Salah satu produk primadona saham di BEI adalah saham blue chip. Tidak sembarangan pula julukan tersebut melekat di saham unggulan ini.

Bagi yang belum familier, saham ini bisa dibilang sebagai saham seksi dari berbagai emiten (perusahaan terbuka yang terdaftar di BEI) yang kapitalisasi pasarnya di atas Rp40 triliun, punya nama besar, dan segala keunggulan lain.

Blue chip sendiri berbeda dari kelompok LQ45. Kelompok LQ45 adalah saham-saham yang kapitalisasinya belum terlalu besar, tapi pergerakan sahamnya encer alias laris di pasar saham. Selain itu, LQ45 memiliki fundamental perusahaan yang baik, prospek atau peluang harga saham bagus, dan sehat dari segi keuangan.

Agar lebih mengenal, mari kita bahas bareng-bareng mengenai saham yang menjanjikan ini.

Saham Kategori Blue Chip

kategori saham blue chip

Dalam kelompok saham ini terdapat sederet emiten dari berbagai sektor. Adapun klasifikasi sektor saham berdasarkan laman BEI meliputi:

  • Agriculture, yaitu pertanian, perkebunan, tanaman pangan, perikanan, kehutanan, dan jasa lain yang secara langsung terkait sektor ini.
  • Mining, yaitu sektor pertambangan dan penggalian seperti batubara, minyak dan gas bumi (migas), penambangan, bahan kimia, hingga bahan pupuk.
  • Basic industry & chemicals, yaitu industri dasar mencakup usaha pengubahan material dasar menjadi barang setengah jadi, atau barang jadi yang masih akan diproses di sektor perekonomian selanjutnya seperti semen dan industri kayu.
  • Miscellaneous industry, yaitu usaha yang meliputi pembuatan mesin-mesin berat atau ringan beserta penunjangnya seperti automotif, elektronik, dan garmen.
  • Consumer goods industry, yaitu usaha yang mengubah bahan dasar/setengah jadi menjadi barang jadi yang bisa dikonsumsi seperti makanan dan minuman jadi, rokok dan produk tembakau lain, hingga kosmetik.
  • Property, real estate, dan construction, yaitu sektor pembuatan, renovasi rumah dan gedung, hingga penyewaan.
  • Infrastructure, utility, dan transportation yang mencakup usaha penyediaan energi, transportasi, telekomunikasi, serta infrastruktur penunjang.
  • Finance yang mencakup usaha di sektor keuangan, perantara keuangan, hingga lembaga pembiayaan. Contohnya perbankan, asuransi, dan perusahaan sekuritas.
  • Trade, service, dan investment yang mencakup restoran, hotel dan pariwisata, hingga perusahaan media.

Saham Blue Chip dengan Kapitalisasi Pasar Tertinggi

blue chip big cap

Dari klasifikasi di atas, harga saham emiten tergantung sektor dan beberapa faktor, seperti kebijakan moneter dan aksi korporasi. Bagi yang ingin tahu saham blue chip di BEI, berikut tabel 10 saham blue chip dengan kapitalisasi pasar tertinggi.

EmitenKapitalisasi Pasar*Persentase
PT Bank BCA Tbk (BBCA)Rp732 triliun10,2
PT Bank BRI Tbk (BBRI)Rp498 triliun6,9
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)Rp434 triliun6,0
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)Rp350 triliun4,9
PT HM Sampoerna Tbk (HMSP)Rp333 triliun4,6
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)Rp331 triliun4,6
PT Astra International Tbk (ASII)Rp266 triliun3,7
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA)Rp150 triliun2,1
PT Gudang Garam Tbk (GGRM)Rp147 triliun2,1
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)Rp141 triliun2,0
Total top 10 emiten saham blue chipRp3.382 triliun47,1%

*nilai kapitalisasi pasar 10 top emiten blue chip per tanggal 23 Agustus 2019 sesuai laman BEI.

Dari data di atas bisa dikatakan bahwa nilai kapitalisasi pasar 10 top emiten blue chip menjadi roda penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir setengahnya atau 47,1 persen. Jumlah ini sangat besar dengan membandingkan ada 648 emiten yang terdaftar di BEI hingga Agustus 2019.

Peluang vs Risiko Saham Blue Chip

peluang risiko blue chip

Punya nilai tinggi bukan berarti harga saham ini selalu di atas angin, ya! Seperti pada pembukaan saham Senin (26/8), hampir semua harga saham, termasuk blue chip memerah alias turun.

Meski begitu, investasi di saham kategori ini tetap menggiurkan karena ada berbagai peluang dan keuntungan yang bisa diperoleh investor. Apa saja? Yuk, simak yang berikut ini.

1. Keuntungan jadi investor saham blue chip

Investor yang memiliki saham blue chip diuntungkan dari berbagai hal seperti yang berikut ini.

  • Pembagian dividen besar. Pembagian laba yang dilakukan setiap kuartal, semester, dan tahunan ini akan terasa karena dengan harga saham mahal, dividennya pun tinggi.
  • Sahamnya lebih encer karena menjadi primadona di pasar modal. Jika kita adalah tipikal investor yang senang investasi jangka pendek, maka saat menjual saham ini lebih mudah menemukan pembelinya.
  • Lebih aman buat investor pemula karena tidak perlu terus memantau pergerakan saham.
  • Risiko kecil.
  • Risiko saham turun (bearish) jauh lebih rendah.

2. Risiko saham blue chip

Namanya investasi, bukan seperti matematika yang hasilnya selalu pasti! Kita tidak bisa mengetahui secara pasti kapan saham akan anjlok (bearish) ataupun meroket (bullish). 

Pasalnya, dalam saham ada banyak sentimen dan faktor yang menyebabkan pergerakan saham ke bawah atau ke atas. Adapun risiko memiliki saham blue chip antara lain:

  • Tetap ada potensi harga saham tiarap karena faktor eksternal dan internal, seperti kebijakan moneter hingga suhu politik Tanah Air.
  • Meski perusahaan besar, tetap ada risiko capital loss atau merugi akibat banyak berbagai faktor.
  • Tidak mendapatkan dividen sesuai harapan atau tidak dapat sama sekali saat perusahaan mencatatkan kerugian.
  • Harga mahal, jadi butuh modal besar.

Risiko hingga kerugian memiliki saham ini pernah dirasakan investor pada awal tahun 2015. Kala itu hampir semua saham big cap memerah, sedangkan saham emiten kelas dua justru menunjukkan kinerja baik dan cenderung hijau.

Bagaimana Cara Membeli Saham Blue Chip?

cara beli blue chip

Untuk membeli saham blue chip sebenarnya sama dengan membeli saham lainnya. Bagi pemula bisa mendatangi atau menghubungi perusahaan sekuritas.

Namun, ada baiknya kita mengetahui deretan saham blue chip dari laman BEI agar bisa langsung memilih saham yang terbaik dan sesuai dengan kantong masing-masing. Berikut cara membeli saham blue chip.

1. Buka akun di perusahaan sekuritas

Jika kita membeli saham melalui perusahaan sekuritas, maka kita akan bertemu langsung dengan pialang atau broker. Langkah-langkahnya sebagai berikut.

  1. Memenuhi dokumen yang diperlukan yang meliputi KTP bagi WNI dan paspor bagi WNA, NPWP, fotokopi buku tabungan, nomor identitas Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan fotokopi KTP suami dan kartu keluarga (KK) bagi calon investor yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, dan materai (2-8 lembar).
  2. Membuka rekening saham yang terdaftar di KSEI dan rekening dana investor (RDI) atau rekening pribadi yang dananya akan ditarik untuk membeli saham.
  3. Deposit dana untuk membeli saham sekitar US$1 ribu (sekitar Rp14,2 juta) untuk saham blue chip dan bisa Rp100 ribu untuk saham lain karena pembelian minimal saham adalah 1 lot atau 100 lembar saham.
  4. Setelah itu broker memandu memilih saham dan mulai bertransaksi.

2. Membeli saham melalui software online trading

Bagi yang berani melakukan trading langsung bisa memilih membeli saham secara online dari beberapa sekuritas yang menyediakan jasa online trading termasuk Mandiri Sekuritas (MOST) dan Indo Premier Sekuritas (IPOTGO). Berikut tahapan-tahapannya.

  1. Unduh aplikasi yang ingin dijadikan sebagai manajer sekuritas.
  2. Memenuhi dokumen dan data-data seperti fotokopi identitas KTP (WNI) dan paspor (WNA), mengisi formulir domisili, jenis usaha dan pekerjaan, ahli waris, dan melampirkan fotokopi buku rekening.
  3. Membuka rekening RDI dan rekening saham.
  4. Menyetor deposit awal.
  5. Memilih saham secara online. Kita harus jeli dalam memelototi emiten yang ada karena tidak dipandu pialang.
  6. Membeli saham dengan cara memasukkan pemesanan saham secara online.
  7. Saham yang kita miliki bisa langsung dijual ketika ada potensi profit. Dana penjualan saham akan masuk ke rekening saham.

Tips Berinvestasi Saham

tips investasi saham

Agar menjadi investor yang untung pun ada triknya. Kita tidak harus membeli saham blue chip jika belum ada banyak pengalaman berinvestasi. Tidak ada salahnya untuk memilih instrumen yang lain. Nah, beberapa pilihan saham lain ini bisa dipertimbangkan. Berikut beberapa tips berinvestasi di pasar modal.

1. Sesuaikan dengan bujet

Tips paling masuk akal pertama adalah menyesuaikan dengan bujet. Jika dana kita tidak cukup jangan memaksa membeli saham blue chip, ya!

2. Pilih LQ45 atau saham lain, jika…

Fundamental perusahaan bisa dilihat dari aksi korporasi, porsi utang, dan rencana ekspansi. Kita tidak harus beli saham blue chip untuk mendapat dividen atau sekadar keuntungan berinvestasi di pasar modal. LQ45 dan saham lain bisa jadi pertimbangan, ya! Toh, semua emiten diwajibkan membagikan dividen jika meraup laba!

3. Investasi jangka panjang

Namanya investasi pasti lebih terasa hasilnya jika dilakukan dalam jangka panjang. Investasi dalam instrumen apa pun akan lebih besar keuntungannya jika dalam jangka panjang.

4. Jangan cepat tergiur dengan peluang profit sesaat

Nah, kita harus tahu bahwa saham blue chip berbeda dari saham gorengan yang dimainkan bandar. Ciri-ciri utama saham gorengan adalah tiba-tiba meroket tanpa alasan jelas atau terjadi unusual market activity (UMA).

Untuk yang satu ini kita harus benar-benar teliti karena jika ikut menjual saat harga saham dinaikkan justru bisa membuat kita rugi. Kok bisa? Tentu bisa karena ketahuan sahamnya digoreng, maka bisa kena suspen (perdagangan dihentikan) oleh BEI.

Suspen saham bisa dilakukan dalam hitungan jam hingga mingguan, tergantung level gorengan yang terjadi. Salah satu saham yang pernah digoreng dan kena suspen BEI adalah PT Global Teleshop Tbk (19 Juli 2019), PT Trikomsel Oke Tbk (11 Juli 2019), dan masih banyak lagi.

Dari penjelasan di atas sudah kebayang, bukan, bagaimana menjanjikannya saham blue chip. Namun, lebih baik jangan memaksakan diri jika memang belum mampu membeli saham ini.

Sebagai contoh saja, harga saham Bank BCA (BBCA) adalah Rp29.950 per lembar pada penutupan perdagangan Senin (26/8). Artinya, kita harus menyiapkan setidaknya Rp3 juta untuk membeli satu lot saham. Di sini, keterampilan berhitung kita sangat diperlukan untuk mengetahui hasil akhir perubahan harga saham.

Selamat berinvestasi, Guys!